‘Hentikan Perang Ondae VS Napu’

INISIASI DAMAI DARI TANAH LAGE
reporter/biro poso: Darwis waru 

Poso,- BAGI MASYARAKAT Kabupaten Poso, kisah perang tempoe doeloe antara Ondae dan Napu, sesungguhnya bukanlah cerita baru. Kisah heroik kedua suku ini telah mengakar dari generasi ke generasi. Karena itu pula, bagi masyarakat kebanyakan yang bermukim di Tana Poso saat ini, kedua kelompok etno-linguistik ini selalu mendapatkan perhatian tersendiri dalam penulisan tentang sejarah tana Poso.

Penginjil Nederlandsce Zendeling Genootschap (NZG), Albert Christian Kruyt, sempat terkejut menyaksikan perang kedua suku tersebut begitu masif, sampai saling menumpahkan darah. Dalam kunjungan yang keempat kalinya ke Poso bersama keluarganya pada April 1893, pria kelahiran Mojowarno, 10 Oktober 1869 itu menyaksikan perang antara To Napu dan To Ondae. “Untuk menyerang To Ondae, suku To Napu harus melewati wilayah To Pebato. Akibatnya, terjadi saling menyerang  antara To Napu yang dibantu oleh To Pebato dengan kelompok suku To Ondae. Peperangan tersebut berlangsung sampai akhir Tahun 1894” (Buku Sejarah Poso, 2002).
  
Dalam kondisi perang antar suku itulah, Kruyt yang membawa misi penginjilan mencoba meredam perang dahsyat tersebut sebagai pintu masuk untuk melakukan tugas sebagaimana yang diamanahkan oleh NZG. Caranya, selain memetakan kondisi sosial politik, ia juga membangun loby-loby dengan sejumlah pemangku kepentingan yang disebutnya Kabosena, termasuk meloby Pemerintahan Belanda untuk menekan kerajaan Luwu yang memiliki pengaruh terhadap wilayah Pamona ketika itu.
Begitulah sepenggal kisah bermaksud menggambarkan tingkat permusuhan antar Ondae dan Napu waktu itu, sampai penginjil sekelas Kruyt pun harus ‘putar otak’, sebelum menjalankan misi penginjilan di wilayah pegunungan Kabupaten Poso.  Namun tak banyak yang tahu, bahwa sesungguhnya upaya perdamaian antara Ondae dan Napu pernah terlaksana di Tana Lage. Sebuah wilayah yang ada di Kabupaten Poso, di antara kedua wilayah pemukiman orang  Ondae dan orang Napu. Adalah Magido, seorang tokoh kharismatik menginisiasi ide perdamaian antara kedua belah pihak yang diperkirakan berlangsung tahun 1894.

Ide pelaksanaan perdamaian pertama kali muncul di area tanah milik Ummana Solli di wilayah Napu bernama urumopenga (pohon uru yang bercabang), sekitar akhir tahun 1894. Adapun implementasi gagasan perdamaian, menurut beberapa referensi baik dalam bentuk tertulis maupun secara lisan berlangsung di Peladia, sebuah tempat di sekitar desa Panjoka saat ini tahun 1898, versi lain menyebut tahun 1905.



Dikisahkan bahwa, Magido mengawali diplomasi dengan tokoh kharismatik Ummana Solli dengan mengutus 3 orang, masing-masing Papa I Malempo (Gaweda) dan Nduwa (Talasa) sebagai tokoh netral dari Lage, dan Rangga (Papa I Gale) mewakili rumpun Ondae. Dalam diplomasi yang menggunakan kayori (pantun) tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk menghentikan dengan cara ‘poraasi’, dengan catatan harus ada 1 orang yang bisa jadi tumbal sebagai tempat pelampiasan amarah kedua belah pihak.
 
“Jadi sepengatahuan saya, dari diplomasi kedua belah pihak dengan cara berbalas pantun di wilayah Napu, disepakatilah bahwa implementasi perdamaian harus dilaksanakan di tempat netral, yaitu wilayah Lage. Dipilihlah Peladia sebagai tempat yang refresentatif untuk melakukan perdamaian yang sangat sakral itu”, kata Gustaf Tadjongga, generasi ketiga dari Papa I Malempo kepada Kaili Post, beberapa hari lalu.


Hal senada ditulis oleh Pnt.Ir.M.Tarau, dalam paper yang disusun 2014, ia menyebutkan, beberapa hari sebelum pelaksanaan prosesi perdamaian (poraasi), baik komunitas Napu maupun Ondae telah membangun pondok darurat (hondo) di Peladia secara berhadap-hadapan, di tengahnya dibangun sebuah panggung kecil (lampa’ani) dengan tinggi kurang lebih 3 meter dari tanah. Sore menjelang hari pelaksanaannya, seorang dukun pribadi Magido yang akan dikorbankan dijemput di kebunnya dengan pesan, ‘Komi ndapeboo I mpue (nenek diminta datang oleh Tuan)’.

Tanpa banyak komentar, nenek berkemas lalu berjalan pulang beriringan dengan penjemputnya. Dari ketinggian di atas panggung   ia memandang perkemahan dari kedua belah pihak. Nenek pun berucap, “Kurata ndayamo pu’u pampeboo I mpue yaku (saya sudah paham tujuan pemanggilan tuan pada saya), selanjutnya nenek bernama nDoi Bungu itu, bungkam dan tak sempat lagi menyentuh makan malamnya, sampai akhirnya gugur sebagai ‘pahlawan perdamaian’, esok harinya.
Begitulah peristiwa sakral prosesi perdamaian mengakhiri pertikaian antara Napu dan Ondae.

Menurut Gustaf Tadjongga, prosesi perdamaian yang belum banyak diketahui oleh generasi muda saat ini, diperkirakan berlangsung awal tahun 1899 di Peladia. “Kalau menurut saya perhelatan itu berlangsung di penghujung 1899, karena waktu itu kan Ngkai Papa I Malempo masih hidup, sementara prosesi perdamaian itu kan melibatkan Papa I Malempo sebagai mediator”, kata Gustaf, mencoba mengurai secara hati-hati.

Diketahui, pelaksanaan ‘poraasi’ sebagaimana telah diuraikan di atas, selain dihadiri oleh Ummana Solli dan prajuritnya mewakili Napu, Magido dan prajuritnya mewakili Ondae, dimediasi oleh Papa I Malempo (Gaweda), Papa I Gale (Rangga), dan Nduwa (Talasa).

Kini, prosesi perdamaian sebagaimana diuraikan di atas, sejatinya menjadi pelajaran berharga dalam merespon situasi dan kondisi Poso saat ini. Setidaknya, menegaskan bahwa leluhur orang Poso (Pamona-Ondae) seabad berlalu, telah mewariskan keindahan diplomasi dalam bentuk kayori (pantun) dalam menyelesaikan pertikaian. Itu artinya, tata krama dalam bahasa menjadi penekanan utama dalam membangun komunikasi politik, dan boleh jadi inilah salah satu substansi yang bisa kita petik dari kisah heroik sekaligus bernuansa sakral di atas. **

Share on Google Plus

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN