Gerindra Berang !! Nasdem, Itu Real Politik

   Disarikan dari: sultengekspres.com/mediaindonesia.com

Palu,- DUGAAN Provokatif, ujaran kebencian pada sebuah keyakinan umat tertentu dan tuduhan pada empat partai politik mendukung gerakan ektrimis oleh Ketua DPP Partai Nasdem, Victor Bungtilu Laiskodat menimbulkan reaksi di Sulawesi Tengah.

Gerindra Sulteng, menuntut Viktor meminta maaf secara terbuka atas pernyataannya dalam suatu acara di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), baru-baru ini. Pada potongan video yang viral sejak Kamis, 3 Agustus 2017 malam, politisi Nasdem itu menyebut Gerindra sebagai salah satu partai yang mendukung kelompok ektrimis Islam di Indonesia. Tak cuma Gerindra, dalam video tersebut Victor juga berturut-turut menyebut Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Amanat Nasional berada di belakang kelompok ekstrimis Islam. 

Dia menyebut kelompok itu akan membentuk negara khilafah.“Kami menuntut Victor secara resmi dan terbuka meminta maaf ke Gerindra. Pernyataannya itu justru memperlihatkan bahwa Victor anti-Pancasila dan anti-kebhinekaan,” tandas Ketua DPD Partai Gerindra Sulteng, Drs. H. Longki Djanggola, (4/08/2017) Jumat pekan lalu.  Menurut Longki, ucapan Victor berpotensi memicu konflik karena menyinggung isu agama. Hal senada juga dikatakan Stivan Helmy Sandagang, Pengurua DPD Gerindra Sulteng. Ia menyebutkan ujaran kebencian dan provokasi yang dilakukan Victor mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara. Ia juga menyatakan dukungannya pada upaya Lembaga Advokasi Hukum DPP Partai Gerindra yang membawa kasus ini ke ranah hukum.

“Selain jeratan hukum, Viktor juga sepertinya tidak paham etika komunikasi Politik. Dia berbicara seolah-olah hanya Partainyalah yang paling benar dan paling berhak hidup di NKRI. Kalau ada yang bilang dia hanya khilaf atau silap lidah, sebagai manusia biasa saya memakluminya. Tapi yang dilakukannya ini sangat fatal. Sehingga membawanya ke hadapan hukum saya kira adalah pilihan yang sangat tepat,” demikian Stivan Helmy Sandagang.Lantas apa reaksi Nasdem? Anggota Komisi III DPR RI Fraksi NasDem Ahmad HM Ali apa yang dikatakan Viktor itu tidak provokatif dan sebuah realitas politik di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, Jumat (4/8). 

Menurutnya, pidato yang disampaikan Viktor Laiskodat merupakan fakta politik yang saat ini dihadapi bangsa Indonesia dan bukan provokasi. "Saya sudah menyimak isi pidato Pak Viktor secara utuh dan tidak ada provokasi di situ sebagaimana yang dituduhkan. Itu ekspresi keprihatinan Pak Viktor yang menjelaskan fakta politik hari ini, sebuah konfigurasi yang dijelaskan atas dasar-dasar empiris. Anda pasti mengenal sekali pesan yang digambarkan beliau sebagai peringatan untuk kehati-kehatian memilih haluan politik," sebut Ahmad. Baginya, pengandaian-pengandaian yang disebutkan Viktor merupakan bentuk penegasan komitmen pada Pancasila. "Sebuah cara untuk menggambarkan komitmen pada NKRI," ujarnya.

Ahmad menambahkan, Indonesia yang majemuk merupakan sebuah fakta. Situasi kemajemukan itu, kata dia, terancam oleh maraknya ekstremisme. Sehingga, Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) terkait pembubaran organisasi masyarakat radikal yang anti-Pancasila. "Tidak ada yang perlu dijadikan polemik dari pidato Pak Viktor. Kecuali bagi mereka yang berbeda visi kebangsaannya dengan Pancasila. 

Kita perlu tegaskan bahwa NKRI adalah harga mati, dan itu komitmen politik yang ingin ditunjukan Pak Viktor," imbuhnya.Ahmad juga menegaskan, tidak ada bentuk pelanggaran kode etik yang serius mengenai pidato tersebut maupun terhadap nilai-nilai Partai NasDem. "Pak Viktor tidak salah apa pun. Partai NasDem tidak akan memberikan sanksi," tandasnya. **   


x
Share on Google Plus

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN