Inflasi di Palu Terendah di Sulawesi

REPORTER/SUMBER: ANTARA SULTENG.COM/ FIRMANSYAH

PALU,- SELAMA Juli 2017 Palu mengalami inflasi sebesar 0,07 persen. Beberapa faktor yang mempengaruhi naiknya indeks harga seperti pada kelompok bahan makanan (2,60 persen), minuman, rokok dan tembakau (0,27 persen), sandang (0,12 persen) dan kesehatan (0,07 persen). 

Pada periode yang sama terjadi penurunan indeks pada transport, jasa keuangan dan komunikasi (2,17 persen), untuk olah raga, pendidikan dan rekreasi turun (1,76 persen), gas, bahan bakar, perumahan, air dan listrik juga mengalami penurunan sebesar (0,10 persen). Data ini dihimpun saat Press Release di Kantor BPS Prov Sulteng Selasa (1/8/2017).

Untuk bulan yang sama, inflasi year on year (tahun pertahun) kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok gas, bahan bakar, air dan listrik (8,85 persen). Inflasi di Kota Palu sebesar( 0,05 persen) bersumber dari bahan makanan (0,522 persen), rokok, tembakau, minuman dan makanan jadi menyumbang (0,059 persen), kesehatan (0,003 persen) dan sandang (0,006 persen). 

Sedangkan komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi seperti telur ayam ras (0,02 persen), sepeda motor (0,04 persen), angkutan udara (0,36 persen), baeang putih (0,07 persen), biaya pend Sma (0,11 persen), kangkun (0,02 persen), terong (0,02 persen), kendaraan carter (0,03) dan ayam hidup (0,04 persen).

Kepala BPS Sulteng  Faisal Anwar saat jumpa pers mengatakan bahwa pada pertengahan tahun ini terjadi inflasi, misalnya dari komoditas ikan laut yang mengalami kenaikan harga dipicu oleh cuaca buruk sehingga mendorong mahalnya harga ikan di pasar, dan angkutan udaralah yang paling mendominasi terjadinya inflasi saat ini. " Menjadi tantangan buat instansi-instansi terkait pada Lima bulan kedepan agar dapat menjaga tidak terjadinya inflasi lagi" ungkapnya. 

"Palu merupakan peringkat terendah untuk inflasi, sementara dua kota lainnya mengalami deflasi yakni Jayapura dan Merauke," ungkap Kepala BPS Sulteng Faizal Anwar dalam jumpa pers di Palu, Selasa siang.

Sementara itu Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sulteng Mohammad Wahyu mengatakan dari tujuh sektor kelompok pengeluaran yang dihitung, kenaikan indeks harga tertinggi pada kelompok bahan makanan sebesar 2,60 persen. 

Kemudian kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,27 persen. Selanjutnya kelompok sandang sebesar 0,12 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,07 persen. 

Sementara itu, terdapat tiga kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan yakni kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 2,17 persen. Kemudian kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 1,76 persen serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,10 persen.

Menurut Wahyu, pihaknya berharap di Bulan Juli 2017 terjadi penurunan pada kelompok pengeluaran seperti tren tahun-tahun sebelumnya yaitu pada pasca-Lebaran. Namun perkiraan sedikit berubah, walaupun tidak deflasi, tetapi inflasi hanya naik tipis sebesar 0,05 persen.

"Ada lima komoditi sebagai penyumbang inflasi yakni bawang merah sebesar 0,16 persen, ikan ekor kuning 0,14 persen, tomat buah sebesar 0,10 persen, ikan layang sebesar 0,08 persen dan ikan cakalang sebesar 0,05 persen," ujar Wahyu.

Inflasi Kota Palu di bulan Januari 2017 sebesar 1,32 persen, Februari sebesar 0,29 persen, Maret sebesar 0,25 persen, April sebesar 0,46 persen, Mei sebesar 0,81 persen, Juni sebesar 0,76 persen dan Juli sebesar 0,05 persen. ** 

Share on Google Plus

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
loading...
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN