No’ Citra Diri, Spanduk Bebas di Tempat Ibadah


Ket foto :  Nampak salah satu pemandangan spanduk di masjid Raya Lolu Palu Timur, masjid Nurul Khasanah Pengawu 1 dan masjid Quba di Jalan Padanjakaya 3
foto:ikhsanmadjido/kailipost.
reporter: ikhsan madjido
SEJUMLAH Warga mulai meresahkan maraknya sejumlah spanduk ucapan ramadan di pagar pagar rumah ibadah. Bahkan, ucapan ramadan itu didominasi bakal calon legislatif ataupun anggota legislatif. Kepada redaksi, salah satu warga Edmond Leonardo Sihaan dalam postingannya di media sosial (20/05/2018) menulis kegelisahannya.

Ceritanya, sepulang dari gereja Imanuel Palu, yang satu jalan dengan Masjid Raya Lolu, ia menjumpai di pagar masjid dan gereja penuh dengan Spanduk-spanduk. Dikutip dari status medsosnya demikian, ‘’Ada yg sudah lengkap dengan jabatannya di parpol, ada yang pakai lambang Parpol, tinggal tunggu ada yang bikin Daftar Riwayat Hidup atau SKCK di spanduk.’’ Tulisnya. 
Foto : Iksan Madjido
Tak cukup itu, ia meminta, ‘’BAWASLU Sulteng harus tegas!!! Cabut semua spanduk2 itu!!! Pagar Rumah Ibadah kok jadi mirip tempat kampanye? Ayo Bawaslu, jangan takut!!! Atau Bawaslu butuh bantuan hukum untuk melaporkannya ke Polda Sulteng?’’ tulis Edmond yang juga pengacara Palu itu. narasi lainnya yang ditulisnya, ‘’Kalau mau kampanye, cerdas dan bijak-bijaklah, atau sekalian sewa space papan reklame, atau sekalian sewa balon udara dan bikin spanduk seluas lapangan sepak bola.’’ Ejeknya. 

‘’Sepanjang spanduk tersebut tidak mengandung unsur citra diri, sah-sah saja para politisi itu untuk memajangnya," kata Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulawesi Tengah, Ruslan Husen, dikonfirmasi via WA, Minggu (20/5/2018). Unsur citra diri yang dimaksud adalah logo partai dan/atau nomor urut partai.
Foto : Iksan Madjido
Menurut Ruslan hal ini sesuai dengan surat edaran Bawaslu RI terkait prakampanye yang beririsan dengan bulan puasa. “Termasuk yang dilarang adalah apabila politisi mencantumkan visi, misi dan program. Selama hanya foto saja, bawaslu tidak mempermasalahkannya,” tambahnya.
Pantauan Kaili Post, saat ini banyak spanduk ucapan ramadan yang terpajang di pagar masjid, yang berasal dari kalangan politisi, pengusaha, maupun dari pihak perusahaan tertentu.

Terkait hal ini Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu Prof. Dr. H. Zainal Abidin mengatakan bahwa pemasangan spanduk ucapan ramadan di pagar masjid-masjid yang ada di Kota Palu merupakan sah-sah saja. Akan tetapi, sebut dia, pemasangan spanduk perlu berkoordinasi dengan pihak pegawai syara’ yang ada di setiap masjid atau ta’amir masjid yang ada di semua kelurahan di Kota Palu.

"Memasang spanduk di pagar masjid, yang berisikan ucapan melaksanakan ibadah diikutkan dengan permohonan maaf, menandakan bahwa orang yang foto dan namanya terpajang di spanduk ingin memohon maaf dan menjalin silaturahim yang baik kepada sesama manusia," ujarnya.

Meskipun hal tersebut dianggap sah, namun tidak sedikit warga Palu berpandangan lain. Imam Rifai, misalnya, menurutnya disamping dianggap mengganggu pemandangan, juga dianggap tidak artistik dan indah dipandang.
“Pagar adalah satu kesatuan tata artistik dari bangunan masjid secara keseluruhan. Spanduk di pagar itu menjadi tidak baik untuk kebersihan dan kerapian. Saya melihatnya seperti pakaian dijemur di pagar,” katanya. “Berspanduk atau bersilaturahim secara langsunglah di hati para jama’ah masjid,” sarannya.**

Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN