Lembaga Adat Boyaoge Givu Pelaku Onar

Reporter: Ikhsan Madjido

SEBANYAK empat orang pembuat onar di Kelurahan Boyaoge di sanksi adat (givu) lembaga adat Boyaoge. Keempat pelaku digivu dengan denda masing-masing berupa satu ekor kambing, tiga lusin piring putih, sembilan meter kain putih, satu buah parang, dan satu buah doke (sejenis tombak). Keputusan givu ini dihasilkan pada sidang adat oleh lembaga adat Boyaoge di kantor Lurah, Selasa (26/6/2018) sore.

“Pelaku onar ini digivu karena terbukti melanggar adat berupa sala balaki, sala baba dan sala kana,” kata ketua adat Boyaoge, Samran Daud, yang memimpin jalan sidang adat tersebut. “Denda givu ini disertai mahar berupa uang Rp1,1 juta per orang,” tambahnya.

Dari jalannya sidang terungkap bahwa salah seorang pelaku pada awalnya menempel ban motornya di bengkel korban, pada Jum’at (22/6) malam. Karena merasa lama menunggu, pelaku mencak-mencak. Kakak korban tidak terima dengan perilaku tersebut bersuara agak keras, namun ditanggapi lain oleh pelaku. Pelaku pun pulang ke rumahnya dan melaporkan ke keluarganya kalau dia akan dikeroyok.

Bersama keluarganya berjumlah tiga orang, pelaku mendatangi korban sambil membawa senjata tajam dan merusak barang-barang korban dan salah seorang korban terkena sabetan ikat pinggang. Sebenarnya pelaku sudah diamankan oleh pihak kepolisian, tapi pihak lembaga adat meminta kepolisian untuk diselesaikan secara adat.

Samran Daud menjelaskan, givu sala balaki dijatuhkan karena pelaku menyampaikan informasi yang tidak benar, sedangkan givu sala baba karena sudah mengajak orang lain untuk melakukan perbuatan tidak terpuji sehingga jatuhlah givu sala kana. “Keempat pelaku ini diberi waktu dua minggu untuk membayar denda givu ini,” ujar Samran.

Givu ini akan dibagi dua, yaitu kepada korban sebagai ganti rugi dan kepada adat. “Kambing yang diserahkan ke adat akan disembelih untuk dimakan bersama, sebagi wujud pembersihan kampung kita dari hal-hal yang tidak baik,” katanya.

Sementara itu, Lurah Boyaoge, Marwan, yang memfasilitasi sidang adat ini mengemukakan bahwa tujuan sidang adalah untuk meminimalisir dan mencegah jangan sampai peristiwa ini menjadi lebih besar lagi. “Tidak semua permasalahan harus diselesaikan lewat hukum positif. Tugas lembaga adat melestarikan nilai-nilai di masyarakat, sehingga kejadian yang tidak diinginkan bisa diminimalisir dan tidak akan membawa efek yang lebih besar lagi,” katanya.

Marwan yakin pemberian givu ini akan memberi efek jera kepada para pelaku dan bisa lebih efektif mencegah terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan. “Lembaga adat ini kan sudah diatur dalam perda kota Palu, tentunya givu ini akan lebih efektif lagi,” ujarnya. Rusdin, salah satu tokoh pemuda Boyaoge yang juga anggota suro nu ada (polisi adat) mendukung pemberian givu ini dan siap mengawal prosesnya, sehingga tercipta keamanan dan ketertiban di wilayahnya.**
Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN