Gerakan Budaya Ma’Ambang (Malu) Digelorakan !

 
Reporter/Luwuk: Imam Muslik

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan  (Kemendikbud) RI mendorong lewat Seminar Nasional gerakan budaya Ma‘ Ambang yang dimiliki masyarakat Kabupaten Banggai untuk meningkatkan kualitas bermasyarakat. Budaya Ma’ambang adalah budaya malu. Sebuah budaya yang meresonansi pada setiap sendi sendi kehidupan masyarakat modern yang beradab. Berikut catatan Kaili Post.

Pekan lalu, (27/7/2018) bertempat di ruang auditorium Swiss Bell in Banggai hadir Direktur Warisan dan Diplomasi Kebudayaan Republik Indonesia, DR Nadjamuddin Ramli, Wakil Bupati Mustar Labalo, seluruh OPD, Forkopimda, tokoh masyarakat Banggai, Murad U Nasir, Rektor Untika, seluruh pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Banggai dan mahasiswa Kabupaten Banggai.

Nadjamudin mengajak seluruh dinas pariwisata mengangkat budaya di Kabupaten Banggai. Bahan baku pariwisata adalah kebudayaan, tari - tarian, kuliner, candi - candi, situs- situs. Nadja, sapaan akrab putra kelahiran Ampibabo, Parigi Moutong itu Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan dan kebudayaan bersinergi.

‘’Jangan ada ego sektoral, ego instansi dan lain sebagainya. Jadi Kadis pendidikan dan Kadis Pariwisata Banggai harus berkolaborasi dan bila perlu ada kegiatan bersama supaya bisa saling besar membesarkan. Kadis pariwisata dan kadis pendidikan harus saling koordinasi bersama-sama dengan direktur yang menangani kebudayaan dan dapat membuat  blue print pembangunan kebudayaan di Banggai,’’ ajaknya.

Blue print adalah pokok-pokok pikiran dan strategi pembangunan kebudayaan dari Kabupaten Banggai. Menurut Nadjamudin APBD besar tapi tidak efektif. Misalnya, satu objek didanai lima OPD dengan orang yang sama.

‘’Padahal masih banyak objetifitas lain yang harus dibiayai. Sedang untuk orang seperti itu dan apalagi mengkoordinir proposal yang putus jaringan maka lambat laun kita akan lihat wujud pembangunan biaya yang diberikan dari input, proses output sampai sampai kepada outcame pada publik dari semua program - program itu.’’ Terangnya.  

Mustar atas nama Pemkab mengakui percepatan pembangunan di Kabupaten  Banggai yang bertujuan membicarakan hal - hal yang selama ini menjadi masalah dalam pelaksanaan pembangunan. Badan dan lembaga dalam melaksanakan Tupoksinya tidak berdasarkan pendekatan sektor semata, tetapi diupayakan melalui pendekatan kawasan atau wilayah yang berpotensi dan diharapkan melalui pendekatan secara kultural. 

Misalkan, Bahasa Saluan atau Balantak adalah bahasa yang kita miliki mengapa harus malu untuk menggunakan bahasa itu. Jika memang Batik Nambo itu juga bagian dari budaya kita mengapa harus merasa malu memakainya. Jika Pinasa itu budaya kita mengapa malu untuk melakukannya sudah seharusnya kita bangga akan budaya kita sendiri, karena daerah dan bangsa lain pun iri terhadap apa yang kita miliki.’’ Tegas Wabup.**
Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN