GURU TUA Pernah Diboikot Jepang

Reporter: Firmansyah

HAUL Guru Tua merupakan refleksi dari perjalanan salah seorang tokoh penyebar agama Islam dan juga pendiri organisasi agama yang pernah ada di tanah Kaili. Bertempat di halaman lembaga institusi agama tertua di Indonesia tersebut, ribuan jamah dari berbagai pelosok bumi Tadulako, serta provinsi lainya tumpah ruah menghadiri Haul ke 50 tahun Habib Idrus bin Salim Al Jufrie, atau lebih dikenal dengan sebutan Guru Tua. Tidak terkecuali pejabat negara juga menghadiri hajatan di hari Sabtu (30/6/2028).

Antara lain adalah Kapolri Jendral Polisi Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Cahyanto, Gubernur Sulteng Longky Djanggola, perwakilan dari Hadramaut negara Yaman. Ketua Umum Alkhairat Palu, Habib Sayyid Asegaf bin Salim bin Idrus Al Jufrie dalam sambutanya menjelaskan bahwa Alkhairat selama tiga tahun pernah ditutup. Karena  dalam sidak mendadak oleh tentara Jepang, diketahui Guru Tua mengajarkan  semangat patriotisme bela negara, cinta tanah air  kepada semua muridnya. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya dalam menegakan semangat Amal Maaruf Nahi Munkar kepada masyarakat.

‘’Pada masa penjajahan Jepang, Al Khairat pernah ditutup selama tiga tahun, karena Guru tua diketahui mengajarkan pelajaraan Muthalaah dari kitab Ikhatunnasyiin  Alys, atau dalam bahasa Indonesianya berarti cinta pada tanah air. Namun hal itu tidak pernah menyurutkan niat dan semangatnya dalam mengajarkan kepada masyarakat. Baik saat berada di rumah, di jalan, maupun dimana saja Guru tua berada, tidak lupa beliau menyampaikan hal tersebut, " ungkapnya.

Selain itu, Habib Assegaf juga menuturkan saat negara dihebohkan oleh peristiwa DI/TI dan Permesta, dimana para petinggi perjuangan rakyat semesta mendatangi kediaman Guru Tua, bertujuan agar Alkhairat mendukung gerakan mereka, dengan membawa uang yang sangat banyak. Namun saat itu beliau tidak ada ditempat. Setelah mendengar laporan akan hal itu. Dia sangat marah dan mewasiatkan kepada murid-muridnya untuk tidak menerima uang tersebut.
‘’Salah seoran petinggi Permesta berpangkat Mayor pernah mendatangi rumahnya, dengan membawa uang yang sangat banyak. Walaupun saat itu Alkhairat sangat membutuhkan dana buat pembangunan, namun dengan tegas Guru Tua menolaknya,’’ akunya.

Setelah kejadian itu, Habib Assegaf kembali menceritakan bahwa beberapa pasukan dari Brawijaya mendatangi kediaman Guru Tua. Melalui intruksinya kepada muridnya agar hal tersebut jangan sampai diketahui oleh pihak Permesta.  ‘’Saya masih ingat, pernah pasukan dari Brawijaya meminta perlindungan kepada Guru Tua dari incaran Permesta saat itu. Olehnya beliau berusaha memberikan perlindungan kepada mereka. Setelah itu, untuk menghindari penangkapan terhadap tentara Republik oleh Permesta, secara diam-diam mereka diberangkatkan ke Balikpapan  dengan kapal, melalui pelabuhan Wani,’’ kisahnya.

Dari peristiwa tersebut, Habib menegaskan bahwa Alharhum Guru Tua sangat memegang teguh makna dari filosofi cinta tanah air, serta keutuhan Negara kesatuan Indonesia. Olehnya ia mengungkapkan kepada undangan yang hadir, bahwa Negara jangan pernah ragu akan Alkhairat, disebabkan beberapa peristiwa  kekerasan yang terjadi di tanah air, dilakukan oleh oknum yang salah dalam pemahaman agama. Karena ajaran didalam  Islam sangat menjunjung tinggi nilai toleransi antar umat beragama.**
Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN