Wali Kota Bantah Tuduhan Anleg


 
siaran pers/editor: firmansyah

WALI KOTA Hidayat membantah terkait dirinya mengeluarkan instruksi untuk pemberian pelajaran seni di ekstrakulikuler siswa SMP ke Kota Palu sebagaimana dituduhkan anleg Dekot Ikbal Andi Magga yang ramai diberitakan sebelumnya. Ia mengaku terganggu dengan informasi tersebut dan meminta hal itu segera diusut oleh dinas terkait. ‘’Saya beri waktu sampai Senin (hari ini;09/7/2018). Selesaikan,’’ ujar Wali Kota dalam siaran persnya yang diterima redaksi.

Hidayat mengaku dirinya tidak pernah mengeluarkan instruksi atau perintah untuk hal tersebut. ‘’Tidak ada instruksi dan perintah saya pada para seniman yang melatih itu untuk menagih. Ini aneh pernyataan saudara Ikbal Andi Maaga, itu apakah ada bukti surat instruksi dan perintah saya menagih dipegang saudara Ikbal Andi Magga, " tanya Hidayat lagi.

Guna menindak lanjuti hal itu, pihaknya akan segera memeroses dan mengusut polemik tersebut. Termasuk menyelidiki kebenaran dari sekolah mana yang mengaku ditagih DKP yang dianggap hanya makan gaji buta. ‘’Saya minta Disdik segera menyelidiki sekolah mana yang menyatakan bahwa saya telah menginstrukaikan dan memerintahkan ke DKP untuk menagih. Terkait ini saya minta Disdik tidak diam dan saya tunggu laporannya paling lambat pada Senin," tegasnya.

Sebelumnya, legislator Dekot, Ikbal A Magga meminta Wali Kota mencabut instruksinya yang memberikan DKP kewenangan untuk melatih siswa siswi SMP di bidang seni. Tak tanggung-tanggung setiap bulannya, setiap pelatih seni menerima Rp500 ribu/orang dari alokasi BOS. Menurut Ikbal juga ada 26 SMPN di Palu.

Apa kata Wali  Kota lagi sekaitan hal itu, ‘’Saya memang pernah dilaporkan bahwa dana BOS membiayai seniman masuk sekolah, karena memang sejalan dengan Visi Pemkot. Namun begitu saya juga menanyakan apakah hal itu bisa dan tidak menyalahi aturan, dan katanya tidak menyalahi aturan, olehnya saya katakan oke asalkan tidak menyalahi aturan.’’ Jelasnya.

Terlepas soal finansial yang dilakukan Dikjar Palu, dirinya memandang bahwa usaha yang dilakukan para seniman dengan mengajar di SMP tersebut telah menuai keberhasilan. ‘’Saya melihat ada keberhasilan yang luar biasa dilakukan para seniman masuk sekolah, bahwa mulai 2016 sekolah kita juara terus dalam iven iven nasional di bidang seni, bahkan seniman kita sudah tampil di kancah internasional bersama seniman internasional dalam pertunjukan Panggung Bahureksa Kaili Java di Vancouver, belum lama ini, " bebernya.

Bahkan kata Hidayat, Insya Allah seniman Palu diundang untuk menampilkan dan memperkenalkan seni tradisi kaili di Kerajaan Pahang Malaysia, dalam rangka perayaan HUT Negara Malaysia mendatang, ‘’Bukan cuma itu anak murid kita yang tergabung dalam sanggar seni Teku-Teku kini telah dicintai masyarakat ini dibuktikan dengan adanya undangan permintaan warga kepada Teku teku untuk tampil pada acara Pesta perkawinan padahal biasanya pesta perkawinan seperti itu cenderung dihibur dengan musik electon,nah, apakah ini bukan sebuah keberhasilan,’’tutup hidayat.

IKBAL ASBUN

Ketua Forum Kebudayaan Sulteng, Smiet menyesalkan pernyataan Iqbal Andi Magga yang disampaikan ke media.
Berikut kutipan pernyataan tersebut:
‘’Dari rapat RDP dengan Dikjarbud Palu mengenai KUA dan PPAS, saya meminta Wali Kota mencabut instruksinya kepada sekolah sekolah, dalam membiayai guru pendidikan seni dari DKP. Karena terbukti di lapangan tidak pengajar seni yang dikirim DKP Palu ke 26 SMP Palu. Tapi justru sekolah membayar rutin tiap bulan dari BOS. Ini merugikan sekolah juga karena dana BOS  bisa digunakan sekolah untuk kegiatan pendidikan justru diarahkan ke hal yang tidak jelas. Besarnya ke DKP Palu itu 12 jt pertahun atau 500 ribu perorang guru seni dari DKP dan 2 orang diutus Wali Kota per sekolah, totalnya jadi 1 jt perbulan x 12 bln kali 26 sekolah.. ini dana APBN yg dikhususkan  buat peningkatan mutu sekolah. Sialnya lagi, dari pengakuan guru guru SMP yang ditempat kami temui, tidak ada satu pun guru guru seni yg diutus DKP Palu ke sekolah smp, yang datang hanya juru tagih DKP membawa perintah Wali Kota. Saya meminta Wali Kota mencabut instruksi itu, dan memerintahkan DKP mengembalikan dana dana BOS itu, karena DKP tidak pernah melaksanakan kewajibannya ke sekolah.”

Smiet yang merupakan seniman muda yang beberapa tahun belakang ini banyak mendapatkan undangan dan kesempatan untuk memperkenalkan musik Kaili di beberapa negara itu mengatakan bahwa Iqbal asal bunyi (asbun). “Iqbal jangan asal bunyi, nanti fals, nada sumbang. Dalam pemberitaan di media massa beberapa waktu lalu, kami seniman kumpul dan sering menjadikan statemennya sebagai naskah pendek dan anekdot. Kami beranggapan seolah-olah Iqbal Andi Magga tidak pernah tahu jumlah SMP  Negeri se Kota Palu. Asal bunyi,” tegas Smiet,

Kata dia, proses ini sudah berjalan tiga bulan di tahun 2017 lalu dan tahun ini sudah berjalan dua bulan. “Iqbal ngarang dan sangat pas kalau jadi sutradara film judulnya Abu Ngarang. Kapan digaji kawan pengajar selama setahun dan sudah memainkan kalkulasi asal-asalan,” sebutnya.

Smiet menyarankannya agar Iqbal turut berkesenian agar tersalurkan bakatnya menjadi sutradara. Terkait itu, pihaknya akan menyiapkan massa dari para seniman untuk turun ke DPRD. “Demi membunyikan gimba dan lalove, sebagai ungkapan keprihatinan kami kepada oknum anggota dewan yang tidak mempertimbangkan dengan matang keputusan yang berpihak pada budaya dan seni untuk pembangunan bangsa,” tuturnya.
Sementara salah seorang pelatih kesenian di SMPN 7, Fadli Pakinde mengatakan,  tuduhan Iqbal tidak benar,  karena pihaknya melatih dengan membuat komitmen soal kehadiran. ‘’Kami punya komitmen dengan pihak sekolah untuk mengisi absensi setiap latihan. Artinya kalau kami tidak hadir melatih, maka kami tidak mendapatkan upah. Selaku seniman saya kecewa adanya oknum DPRD yang tidak ingin kesenian tanah Kaili ini berkembang,” ucapnya.

DIKJAR MERADANG
Sesuai keterangan pers yang dikirim via WA, Dikjar Palu pun ikut meradang atas komentar anleg Ikbal Andi Magga. Menurut Kadis Dikjar Ansyar Sutiadi, progran seniman masuk sekolah (SMS) adalah program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan. Program itu memberikan kesempatan kepada seniman dalam hal ini Dewan Kesenian Palu dan sekolah menengah pertama negeri (SMPN) bersinergi untuk melatih seni budaya di sekolah.

Program SMS dilaksanakan dalam bentuk kegiatan ekstrakulikuler, agar para peserta didik dapat menyerap langsung ilmu pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang dimiliki oleh seniman. Program ini dilaksanakan dalam rangka menanamkan kecintaan dan wawasan yang lebih luas tentang karya seni budaya sehingga dapat memperkuat karakter peserta didik di Kota Palu.

Sesuai Permendikbud Nomor 1 tahun 2018 tentang Juknis BOS, Bahwa salah satu dari 11 komponen pembiayaan adalah untuk membiayai kegiatan ekstrakulikuler seni budaya di sekolah. Mekanisme pembayaran kepada seniman berdasarkan kehadiran dan keaktifan yang dibuktikan dengan daftar hadir yang dibuat oleh sekolah.

HASIL DAN MANFAAT

Melalui program SMS adalah peserta didik dapat memainkan alat musik tradisional seperti, Gimba, Lalove, Kakula dan lainnya beserta komposisi dan koreografi yang diajarkan oleh seniman bersama guru di sekolah, dan kegiatan ini adalah upaya Pemerintah Kota Palu melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk membina, melestarikan dan mengembangkan seni tradisional sebagai upaya pemajuan kebudayaan kaili di Kota Palu.

Hasilnya dapat dilihat saat ini peserta didik di beberapa sanggar sekolah mendapat kesempatan dan undangan  mengisi kegiatan seni budaya pada kegiatan Pemerintah, Swasta dan Masyarakat baik di Kota Palu, Nasional bahkan Internasional.

Berdasarkan uraian diatas, maka komentar sdr, Muh Iqbal Andi Magga pada media di Palu tidak berdasar regulasi, data dan fakta yang jelas, bahkan mengandung unsur fitnah kepada Wali Kota dan DKP. ‘’Kami berharap sdr Iqbal Andi Magga dapat meluruskan berita dimaksud, sehingga masyarakat Kota Palu memahami upaya konkrit pemajuan kebudayaan, yang saat ini mendapat apresiasi dari Kemendikbud RI melalui Dirjen Kebudayaan dengan menunjuk Kota Palu sebagai daerah prioritas dan percontohan Penyusunan Pokok Pikir Kebudayaan Daerah, memfasilitasi kehadiran Vinclous orkestra Spanyol, menetapkan dan memfasilitasi Palu Salonde Perkusi sebagai Platform Indonesiana, dan menetapkan Kota Palu sebagai percontohan praktek cerdas Implementasi Kearifan lokal dan peran tokoh informal dalam tata kehidupan masyarakat.**
Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
loading...
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN