Di Palu Masih 9 Persen Imunisasi Terlaksana


 

Reporter: Firmansyah

PROGRAM Pemerintah menggalakan vaksinasi campak meases rubela (MR), akhir-akhir ini menuai berbagai kontroversi maupun spekulasi dari berbagai kalangan. Disebabkan belum adanya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait label halal penggunaan produknya. Beredar di medsos tentang efek samping dari imunisasi tersebut. Belum lagi beberapa daerah masih menangguhkan hal itu.

Menyikapi polemik tersebut, kepala Dinas Kesehatan Palu, Royke Abraham kepada Kaili Post, Selasa (7/8/2018) di ruanganya membeberkan bahwa untuk Kota Palu sendiri, pelaksanaan vaksin Rubela masih sekitar sembilan persen terlaksana. Rencananya program tersebut akan diberikan kepada 62.000 lebih anak yang ada di kota Palu. Dengan usia tujuh hingga lima belas tahun.

Menyoal tentang penolakan orang tua murid yang ada di sekolah, dengan merujuk kepada fatwa MUI yang rencananya akan diumumkan tanggal 8 Agustus 2018, Royke berharap semuanya terlaksana sesuai dengan yang diharapkan pemerintah dalam melaksanakan program tersebut. ‘’Hingga saat ini sudah lima sekolah meminta kepada Dinkes melakukan sosialisasi terkait vaksinasi Rubela. Akhirnya mereka bersedia melaksanakan imunisasi kepada siswanya, " akunya.

Untuk berita yang berkembang di media sosial terkait efek samping terhadap siswa usai melaksanakan vaksinasi Rubela, Royke menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan maupun aduan adanya korban dari imunisasi itu. ‘’Untuk Kota Palu semua berjalan lancar, belum ada pengaduan dari masyarakat terkait efek samping yang ditimbulkan oleh vaksin tersebut. Dalam hal ini, segala sesuatu melalui protap yang baik, " ungkapnya.

Royke juga menambahkan dalam pelaksanaanya, disiapkan dokter konsultan kejadian ikut pasca imunisasi (KIPI). Dimana mereka akan melakukan protokoler tahap dasar pemberian maupun sesudah vaksinasi. Seperti survei terhadap vaksin, apakah mengalami kerusakan, sterilisasi jarum suntik dan medical chek up kepada siswa terkait kondisi kesehatan diperbolehkan atau tidak mengikuti imunisasi tersebut.

Gejala umum efek samping yang menjadi momok ditakuti oleh orang tua siswa setelah vaksinasi Rubela tersebut menurut Royke seperti adanya abses dingin, atau pembengkakan disekitar tubuh yang disuntik. Namun melalui perawatan dalam seminggu hal itu akan kembali normal, tergantung kondisi fisik anak. " Kejadian seperti yang dilihat dimedsos tentang efek samping pasca vaksin, tidak akan terjadi bila prosesnya sesuai dengan protap yang benar, dimana disinveksinya bagus, injeksi jarum suntiknya tepat, sehingga tidak menimbulkan cidera pada anak, " tuturnya.

Vaksin Campak Rubela sendiri, tutur Royke merupakan virus yang dilemahkan, untuk merangsang sistim kekebalan tubuh anak dalam mengantisipasi serangan virus itu sendiri dalam volume besar. Sehingga anak yang telah terkontaminasi bakteri maupun virus  tidak akan mudah sakit. Karena sudah ada vaksin yang dijinakan sebelumnya. Bahaya Campak Rubela bisa mengakibatkan cacat permanen seperi, kebutaan, cacat pendengaran, gangguan jantung, mental, otak.

Dia juga menghimbau kepada semua pihak untuk mendukung program Nasional pemerintah dalam melindungi generasi muda terhadap bahaya penyakit tersebut,  bisa terlaksana seratus persen. Adapun beberapa pihak yang masih menyangsingkan vaksin, Royke mengatakan adalah hak mereka dalam meyakini hal itu. Untuk kejelasanya, kita menunggu fatwa dari MUI terkait halal maupun haramnya penggunaan serum bagi manusia.**


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN