Gubernur Ingin Petani Organik Bertambah



Sumber: Humas Pemprov

ADA Yang menarik dalam penganugerahan malam Anugerah Daya Saing 2018 Produk Pertanian. Yaitu Gubernur Longki Djanggola berharap OPD terkait 2019 meningkatkan jumlah dan kuantitas petani petani organik. Karena dengan pertanian organik, disamping melindungi lingkungan juga menjadi kecenderungan hidup sehat dengan mengonsumsi hasil pertanian organik.

Dari hasil ivent itu, ada pemberian penghargaan pada kelompok tani yang telah berhasil mengembangkan budidaya secara organik, dua kategori; Pertanian Organik dan Prima III. Penghargaan sertifikasi pertanian organik diberikan kepada kelompok tani (Poktan) Baya Sejahtera berasal dari desa Baya Kecamatan Luwuk Timur Kabupaten Banggai yang mengembangkan komoditi buah pepaya organik.

Di tempat kedua, Poktan Sinar Kasih berasal dari desa Toro kecamatan Kulawi kabupaten Sigi dengan komoditi beras organik. Dan juara ketiga Poktan Permata asal desa Marowo kecamatan Ulubongka kabupaten Tojo Una Una dengan komoditas aneka sayuran organik. 

Kemudian di kategori pertanian Prima III peringkat pertama disabet oleh Poktan Suka Makmur asal desa Mekar Sari kecamatan Lore Timur kabupaten Poso dengan komoditas sayur kubis. Tempat kedua diraih Poktan Sukses asal desa Labuan Toposo kecamatan Labuhan kabupaten Donggala dengan komoditi ketimun. Dan juara ketiga direbut Poktan Bidadari asal desa Tindaki kecamatan Parigi Selatan kabupaten Parigi Moutong dengan beras sebagai andalan komoditinya. Para juara itu merupakan poktan yang terbaik dari 80 peserta poktan yang turut ambil bagian pada ajang itu. 

Masing-masing pemenang mendapat piagam penghargaan, piala dan bantuan alat pertanian sesuai dengan kebutuhan kelompok tani. Pemerintah diantaranya memberikan; mesin alat pembuat pupuk organik, hand tractor, cultinator dan mesin pengemas produk. 

Gubernur diwakili Asisten Ekonomi Pembangunan Dan Kesejahteraan Rakyat Bunga Elim Somba, mengungkapkan bahwa gelaran ini merupakan apresiasi kepada kelompok tani yang telah menerapkan sistem jaminan mutu organik dan sertifikat prima. Dengan penghargaan tersebut diharapkan kepada kelompok tani lainnya dapat mengikuti langkah para peraih penghargaan. 

Dengan demikian produk pertanian, khususnya pertanian organik dapat semakin banyak. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah mendapatkannya. Masyarakat, kata asisten Elim, juga diminta untuk selektif dalam memilih makanan yang sehat. Karena kesehatan adalah hal yang menjadi kebutuhan bersama dan hal yang penting. 

Ia pun meminta perhatian pihak perbankan dalam pengembangan pertanian organik ini. Karena model usaha pertanian ini membutuhkan perhatian semua pihak, khususnya di bidang permodalan dalam mengembangkannya. “Saya minta dukungan lembaga keuangan, dalam bentuk kredit lunak terhadap kelompok tani dengan sistem jaminan mutu pangan.

Apresiasi kelompok tani,  juga kepada bupati dan walikota yang mendorong program ini, kedepan agar ditingkatkan. Dan kepada masyarakat saya menghimbau untuk selektif dalam produk makanan. Karena kesehatan yang utama. Juga rumah sakit,  hotel, dan lainnya untuk dapat pula memilih produk bersertifikat. Kepada kelompok tani untuk tetap semangat berkarya untuk menghasilkan produk yang memiliki daya saing”, ungkapnya. 

Dirjen Hortikultura diwakili Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementrian Pertanian Republik Indonesia Ir. Sri Wijayanti Yusuf mengaku bangga akan langkah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah provinsi Sulawesi Tengah, wabil khusus dinas tanaman pangan dan hortikultura yang dikomandani ibu Ir. Tri Iriani Lamakampali. 

Menurutnya Sulteng termasuk pelopor dalam pengembangan pertanian organik dari sekian banyak wilayah yang ada di Indonesia. 

“Saya akui ibu Tri ini kecil-kecil cabe rawit.  Saya apresiasi penuh sistem jaminan mutu pangan. Belum banyak daerah lain yang concern. Apalagi di era perdagangan bebas, yang tidak hanya mengejar kuantitas. Tetapi juga mutu kuantitasnya. Desa organik sudah dilaksanakan sejak 2014 dan ini dimonitor langsung oleh staf kepresidenan. Kita harus apresiasi para petani (organik) karena mendapat sertifikat tersebut tidaklah mudah.  Ini juga untuk memotivasi petani lainnya”, tutur Sri. 

Kadis tanaman pangan dan hortikultura Ir. Tri Iriani Lamakampali mengatakan jaminan mutu merupakan sebuah bagian dari rencana pembangunan daerah Sulawesi Tengah. Dari keberhasilan kelompok tani yang telah mengembangkan pertanian organik dan prima III,  terdapat kendala yang masih membayanginya. 

Dan baru 7 kabupaten/kota yang ikut serta dalam program ini. Mereka adalah Donggala,  Sigi,  Parigi Moutong, Poso,  Tojo Una Una, Banggai dan kota Palu. Kendala tersebut, kata Tri Iriani, adalah masih minimnya pembiayaan proses sertifikasi, kemudian pendampingan dan pembinaan. Selain itu paradigma petani yang masih mengedepankan kuantitas hasil panen tanpa menimbang kualitas, bahkan kadang oknum petani mengorbankan hak konsumen dengan menggunakan pestisida berbahaya untuk mendongkrak hasil panen mereka. Teknologi dan dukungan politik dan tehnis juga penting bagi petani.** 


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN