Kajati: Wayang Kulit Berperan Dalam Penyebaran Islam


Repoter: Firmansyah

PENYEBARAN AGAMA Islam di tanah Jawa, wayang kulit merupakan media paling berpengaruh dalam proses tersebut. Salah seorang tokoh penyebar agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia, termasuk dalam deretan Wali Songo, atau sembilan Wali, Sunan Kalijaga dalam setiap dakwanya, selalu menyelipkan pesan dari Alquran kepada masyarakat. Hal itu diungkapkan kepala Kejaksaan Tinggi Sulteng, Sampe Tua saat pagelaran wayang kulit semalam suntuk memperingati hari Bakti Adhiyaksa  ke 58, di halaman kantor Kejati (4/8/2018).

Dalam perkembanganya, wayang kulit dianggap telah hadir 1500 tahun sebelum Masehi. Wayang kulit tertua yang pernah ditemukan, diperkirakan berasal dari abad ke dua Masehi. Kesenian tradisional tersebut juga telah mendapatkan penganugerahan dari UNESCO sebagai salah satu sejarah tertua budaya dunia dalam seni bertututur, atau world master pice of oral and intangible of humanity ditahun 2003.

Dalam hal ini, pasti banyak yang bertanya. Mengapa bukan budaya lokal yang ditampilkan. Sampe Tua mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan salah satu cara melestarikan budaya nasional kepada masyarakat kota Palu yang pluralisme (beragam). Dalam pesan disampaikan ki dalang, tersirat pesan moral, edukasi, penegakan keadilan didalamnya. "Tidak tertutup kemungkinan, kedepanya juga akan ditampilkan kesenian lokal dari tanah kaili,’’ akunya.

Hal itu juga menurut Kajati sebagai antisipasi dalam menyikapi budaya dari luar yang tidak sesuai dengan karakter budaya leluhur bangsa Indonesia berlandaskan Pancasila, UUD 45 serta Bhineka Tunggal Ika. Olehnya dia berharap agar pagelaran tersebut dapat menjadi perekat bagi seluruh warga kota Palu dalam bersama menolak hoax, narkoba, radikalisme, terorisme.

Staf Ahli Pemprov Sulteng, Ardiansyah Lamasituju dalam sambutanya mewakili Gubernur mengungkapkan bahwa pagelaran tersebut sangat tepat dalam menginspirasi serta memberikan motifasi kepada masyarakat. Karena dalam setiap lakonya, tersirat makna dan keteladanan yang bisa dipetik. Seperti dalam eksistensinya seorang pemimpin dalam mengayomi rakyatnya, begitu pula sebaliknya.

Seorang jaksa diharapkan dapat menjalankan tugasnya dengan tulus dan bertanggung jawab, selalu menjaga integritas dalam menangani sebuah perkara. Selain itu, seorang Jaksa juga mampu menjalankan tugasnya dengan profesional, disiplin, mandiri, jujur, adil sehingga korps Adhiyaksa bisa mendapatkan tempat dihati masyarakat. Olehnya melalui pagelaran ini, dapat menjadi media komunikasi dan silaturahim antar warga masyarakat di bumi Tadulako.

Hadir pula dalam pagelaran tersebut Kapolda Sulteng Brigjen Pol Ermy Widyanto, Kapolresta Palu, AKBP Mujiyanto, kepala Kejajksaan Negeri, Subeno, kerukunan keluarga Jawa Sulteng (KKJST) serta tamu undangan lainya. Dengan lakon atau kisah berjudul Dewa Ruci, oleh ki dalang Mustiko Bayu Wibowo.**


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN