Maknai Kemerdekaan Pemkot Dorong Visi Misi


 

Reporter: Firmansyah

TUJUH PULUH Tiga tahun sudah Indonesia merdeka. Di pelosok Nusantara merayakan hari yang sangat bersejarah tersebut. Napak tilas perjalanan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan merupakan sebuah motivasi melanjutkan perjuangan mereka, yaitu melaksanakan pembangunan bagi kesejahteraan masyarakat. Memaknai hal itu, Wali kota Palu, Hidayat mendorong realisasi visi misi Pemkot. Menuju Palu kota jasa yang berlandaskan iman dan taqwa.

Beberapa alasan sehingga arah kebijakan  pembangunan dititik beratkan disektor pariwisata, menurut Hidayat karena kota Palu tidak memiliki sumber daya alam yang bisa digali dan dikelola, seperti perkebunan, perikanan, peternakan. Dari hal tersebut, dia melakukan manuver dalam menjadikan Palu sebagai tujuan destinasi wisata.

Selain itu, dia juga membeberkan bahwa kota Palu memilik empat potensi alam yang jarang dimiliki daerah lain. Seperti dimensi sungai, teluk, gunung dan bukit. Olehnya melalui visi misi tersebut, dia akan melakukan explorasi terhadap hal tersebut. Dengan melakukan pembangunan infrastruktur di beberapa titik tempat wisata. Seperti di bukit Salena, dengan flyng  fox terpanjang di Asia, down hill atau sepeda gunung, paralayang. Di Uwentumbu dengan out boundnya. Hutan kota Kaombona yang merupakan sarana olahraga dan pagelaran kesenian.

Di bagian Utara kota Palu juga akan dikembangkan agro wisata dengan penanaman ratusan hektar tanaman hortikultura ditahun 2019 mendatang. Hal tersebut ungkap Wali kota tidak terlepas dari adanya infrastruktur yang menunjang dalam melaksanakan semua program itu.

Beberapa program pemkot saat ini telah berjalan. Seperti pengobatan gratis disetiap puskesmas yang ada di kota Palu. Dimulai pukul 16.00 hingga 21.00 wib. Penambahan jam belajar bagi siswa di sekolah, khususnya mata pelajaran agama. Pemakaian atribut khas daerah masing-masing bagi pelajar, seperti Siga, Blankon dan lain sebagainya.

Sementara itu, dalam menyikapi hari kemerdekaan, menjaga keutuhan negara kesatuan Indonesia, nilai toleransi, gotong-royong dan kekeluargaan, menurut Hidayat diera saat ini mulai tergerus oleh perkembangan ilmu tehnologi,  pemerintah kota membentuk satgas K5, lembaga adat, libu ntodea. Hal itu bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat arti pentingnya menghargai kearifan lokal. Seperti satgas K5, mereka merupakan penggerak partisipasi warga dalam menjaga keamanan di wilayahnya masing-masing.

Lembaga adat (Suro nuada) sendiri merupakan tokoh masyarakat yang bertugas menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat. Mulai dari perkelahian, hingga rumah tangga. Tanpa membawa kasus tersebut kepada pihak berwajib. Semuanya diselesaikan secara adat dan kekeluargaan.

Libu ntodea atau wadah berkumpulnya masyarakat merupakan tempat dalam memecahkan sebuah polemik tanpa harus melakukan aksi demonstrasi maupun anarkis. Semuanya dipecahkan dalam forum tersebut, dengan mengundang semua pihak yang bertikai.**


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN