PERTUMBUHAN EKONOMI SULTENG, MENGALAMI PERLAMBATAN


PADA SEMESTER II 2018
Kepala Perwakilan BI Sulteng Miyono, Pada Kegiatan KEK Regional Periode Agustus 2018 di Swissbell Hotel /Foto: Id
Reporter: Idham

Semester ke-II perekonomian Sulawesi Tengah secara spasial mengalami perlambatan hanya sebesar 6,03% (yoy). Perlambatan dibanding dengan triwulan sebelumnya sebesar 6,47% (yoy) atau melambat 0,44% dan dari triwulan yang sama tahun 2017 yang sebesar 6,61% (yoy). Perlambatan pertumbuhan terutama disebabkan oleh menurunnya kinerja di sektor lapangan usaha industri pengolahan serta sektor pertambangan dan penggalian.

Data pertumbuhan ekonomi sulteng tergolong anomali. Meskipun mengalami perlambatan, pertumbuhan justru terjadi pada sebagian besar lapangan usaha lainnya, terutama sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang merupakan share terbesar pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah. Efek positif langsung dari peningkatan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yaitu distribusi pendapatan kemasyarakat, karena besarnya jumlah penduduk indonesia dan sulawesi tengah khususnya yang bergerak di bidang tersebut.

Sementara itu, indikator perbankan semakin menurun setelah pertumbuhan kredit dan DPK pada triwulan laporan mengalami perlambatan pada triwulan laporan. Namun, pekembangan rasio kredit macet masih terkendali dengan baik.

Selain itu sektor-sektor terkait komsumsi seperti perdagangan eceran, transportasi, serta penyediaan akomodasi dan makan minum mengalami pertumbuhan dan perekonomian tetap tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II 2018 sebesar 5,27 persen.

Realisasi pendapatan APBD Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan laporan Iebih tinggi dibandingkan dengan realisasi belanja. Realisasi pendapatan daerah Sulawesi Tengah mencapai Rp1.953,89 miliar atau 51 ‚04% dari pagu anggaran 2018 sebesar Rp3.827,98 miliar, sedangkan total realisasi belanja daerah mencapai Rp1.232,99 miliar atau 35,96% dari total anggaran yang tersedia sebesar Rp3.428‚62 miliar. Selain itu Realisasi penyaluran Anggaran Dana Desa yang mencapai 60% hingga triwulan laporan diharapkan dapat meningkatkan pemerataan pembangunan yang sifatnya bottom-up.

Laporan jumlah uang masuk (inflow) pada triwulan II 2018 tercatat sebesar Rp. 1.084,98 Milyar, atau turun -16,74% (qtq) bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar Rp1.303,19 Milyar. Sementara uang keluar (outflow) tercatat sebesar Rp.2.150,08 milyar atau tumbuh 366,46% (qtq) bila dibandingkan dengan triwulan I 2018 sebesar Rp460,94 milyar.

lnflasi Sulawesi Tengah pada Juni 2018 tercatat 3.61% (yoy), lebih tinggi dari Maret 2018 2,71% (yoy). Kenaikan inflasi disebabkan oleh meningkatnya permintaan selama bulan ramadhan dan ldul Fitri ditambah dengan berkurangnya pasokan ikan segar akibat turunnya hasil tangkap ikan. Serta kenaikan tarif angkutan udara akibat periode peak season lebaran. Semua hal tersebut membuat tekanan pada inflasi selama periode triwulan II 2018.

Data tersebut dipaparkan oleh Kepala Perwakilan BI Sulteng Miyono di pertemuan bersama wartawan pada kegiatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Periode Agustus 2018 di Swissbell Hotel, Selasa kemarin (28/08/2018).

Miyono juga memaparkan bahwa perkembangan pertumbuhan perekonomian Sulawesi Tengah harus diperhatikan dengan baik. Jangan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tetapi tidak dibarengi dengan penekanan Inflasi. Sulit rasanya untuk menurunkan angka kemiskinan karena tinggi angka Inflasi. Harus ada koordinasi  antara pemerintah dari sisi suplay dan Bank Indonesia dari sisi demand untuk menurunkan angka Inflasi. Kedepan, Tim Pengendali Inflasi (TPID) Sulteng akan memperkuat koordinasi hingga ke level Kabupaten Kota, agar ketersediaan pasokan barang dan jasa, serta kelancaran distribusi tetap terjaga dengan baik.

Selain itu dari kunjungan ke daerah-daerah, Toli-Toli dan Luwuk pihak Bank dari daerah-daerah tersebut sudah meminta BI sebagai otoritas moneter yang mengatur Jumlah Uang Beredar (JUB) untuk bisa menambahkan Platform keuangan untuk kebutuhan perekonomian daerah tersebut. Ini berarti indikasi perekonomian daerah mulai meningkat.

Disisi lain Miyono memaparkan bahwa BI terus-menerus berupaya menekan peredaran uang Palsu, bahkan bekerjasama dengan Pemerintah Kota Palu melalui program K5 dengan sedikitnya 2 (dua) minggu sekali melakukan sosialisasi dengan turun kemasyarakat-masyarakat untuk menyosialisasikan peredaran uang palsu. Jika masyarakat menemukan adanya peredaran uang palsu, BI meminta agar segera dilaporkan ke Pihak berwajib agar bisa ditindaklanjuti untuk menelusuri dan mencegah beredarkan uang palsu. ***


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN