SULTENG, Ekonomi Melambat, Kemiskinan Turun


 
Reporter: Idham

SEMESTER Ke II perekonomian di Sulawesi Tengah secara spasial mengalami perlambatan hanya sebesar 6,03% (yoy). Perlambatan dibanding dengan Triwulan sebelumnya sebesar 6,47% (yoy) atau melambat 0,44% dan dari triwulan yang sama tahun 2017, yaitu sebesar 6,61% (yoy).

Perlambatan pertumbuhan disebabkan menurunnya kinerja di sektor lapangan usaha industri pengolahan serta sektor pertambangan dan penggalian. Data pertumbuhan ekonomi sulteng tergolong anomali. Meskipun mengalami perlambatan, pertumbuhan justru terjadi pada sebagian besar lapangan usaha lainnya, terutama sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang merupakan share terbesar pertumbuhan ekonomi Sulteng.

Efek positif langsung dari peningkatan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yaitu distribusi pendapatan kemasyarakat, karena besarnya jumlah penduduk indonesia dan sulawesi tengah khususnya yang bergerak di bidang tersebut.

Sementara itu, indikator perbankan semakin menurun setelah pertumbuhan kredit dan DPK pada triwulan laporan mengalami perlambatan pada triwulan laporan. Namun, pekembangan rasio kredit macet masih terkendali dengan baik. Selain itu sektor-sektor terkait komsumsi seperti perdagangan eceran, transportasi, serta penyediaan akomodasi dan makan minum mengalami pertumbuhan dan perekonomian tetap tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II 2018 sebesar 5,27 persen.

Realisasi pendapatan APBD Provinsi Sulteng Triwulan laporan lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi belanja. Realisasi pendapatan daerah Sulteng mencapai Rp1.953,89 miliar atau 51 ‚04% dari pagu anggaran 2018 sebesar Rp3.827,98 miliar, sedangkan total realisasi belanja daerah mencapai Rp1.232,99 miliar atau 35,96% dari total anggaran yang tersedia sebesar Rp3.428‚62 miliar. Selain itu Realisasi penyaluran Anggaran Dana Desa yang mencapai 60% hingga triwulan laporan diharapkan dapat meningkatkan pemerataan pembangunan yang sifatnya bottom-up.

Laporan jumlah uang masuk (inflow) pada triwulan II 2018 tercatat sebesar Rp. 1.084,98 miliar , atau turun -16,74% (qtq) bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar Rp1.303,19 miliar. Sementara uang keluar (outflow) tercatat sebesar Rp.2.150,08 miliar atau tumbuh 366,46% (qtq) bila dibandingkan dengan triwulan I 2018 sebesar Rp460,94 miliar .

lnflasi Sulteng pada Juni 2018 tercatat 3.61% (yoy), lebih tinggi dari Maret 2018 2,71% (yoy). Kenaikan inflasi disebabkan oleh meningkatnya permintaan selama bulan ramadhan dan ldul Fitri ditambah dengan berkurangnya pasokan ikan segar akibat turunnya hasil tangkap ikan. Serta kenaikan tarif angkutan udara akibat periode peak season lebaran. Semua hal tersebut membuat tekanan pada inflasi selama periode triwulan II 2018.

Data tersebut dipaparkan oleh Kepala Perwakilan BI Sulteng Miyono di pertemuan bersama wartawan pada kegiatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Periode Agustus 2018 di Swissbell Hotel, Selasa kemarin (28/08/2018).

Miyono juga memaparkan bahwa perkembangan pertumbuhan perekonomian Sulawesi Tengah harus diperhatikan dengan baik. Jangan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tetapi tidak dibarengi dengan penekanan Inflasi. Sulit rasanya untuk menurunkan angka kemiskinan karena tinggi angka Inflasi. Harus ada koordinasi  antara pemerintah dari sisi suplay dan Bank Indonesia dari sisi demand untuk menurunkan angka Inflasi.

Ke depan, Tim Pengendali Inflasi (TPID) Sulteng akan memperkuat koordinasi hingga ke level Kabupaten Kota, agar ketersediaan pasokan barang dan jasa, serta kelancaran distribusi tetap terjaga dengan baik.

Selain itu dari kunjungan ke daerah-daerah, Toli-Toli dan Luwuk pihak Bank dari daerah-daerah tersebut sudah meminta BI sebagai otoritas moneter yang mengatur Jumlah Uang Beredar (JUB) untuk bisa menambahkan Platform keuangan untuk kebutuhan perekonomian daerah tersebut. Ini berarti indikasi perekonomian daerah mulai meningkat.

Disisi lain Miyono memaparkan bahwa BI terus-menerus berupaya menekan peredaran uang Palsu, bahkan bekerjasama dengan Pemerintah Kota Palu melalui program K5 dengan sedikitnya 2 (dua) minggu sekali melakukan sosialisasi dengan turun kemasyarakat-masyarakat untuk menyosialisasikan peredaran uang palsu. Jika masyarakat menemukan adanya peredaran uang palsu, BI meminta agar segera dilaporkan ke Pihak berwajib agar bisa ditindaklanjuti untuk menelusuri dan mencegah beredarkan uang palsu.

KEMISKINAN SEDIKIT PENURUNAN

Tingkat kemiskinan mengalami sedikit penurunan sebesar 0,13% di banding dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, dari 14,14% per Maret 2017 menjadi 14,01% per Maret 2018 atau 420,21 ribu orang.  Faktor utama penyebab menurunnya angka kemiskinan sebab relatif terkendalinya Inflasi serta membaiknya nilai tukar petani.

Hal ini menyebabkan Gini Ratio Sulteng Maret 2018 tercatat di level 0,346 atau menurun jika dibanding dengan Maret 2017 sebesar 0,355. Dengan kata lain, tingkat ketimpangan pendapatan Sulteng menjadi semakin rendah. Hal ini juga dikonfirmasi oleh meningkatnya indikator nilai tukar petani  (NTP) Sulawesi Tengah yang semakin mendekati 100 yakni 98,49 atau lebih baik dari posisi Maret 2018 sebesar 97.

Meskipun demikian NTP Sulteng masih berada di bawah rata-rata NTP provinsi lintas Sulawesi yakni 101,55. Untuk itu perlu upaya Iebih dalam meningkatkan pemberdayaan petani, baik melalui program ekstensifikasi maupun intensifikasi, perbaikan infrastruktur penunjang serta meningkatkan daya tawar petani melalui perbaikan kelembagaan.**
Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN