Sulteng Susun Rencana Umum Energi Daerah


Sumber: Humas Pemprov

RENCANA UMUM ENERGI Daerah (RUED) Sulteng mulai disusun. Hal itu sesuai dengan amanat undang-undang. Sebagai daerah provinsi, Sulawesi Tengah salah satu daerah yang memiliki sumber daya alam yang cukup besar. Potensi strategis tersebut perlu dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat. 

Meski demikian daerah juga perlu mendorong agar tidak ketergantungan terhadap konsumsi  bahan bakar minyak (BBM) yang cadangannya semakin menipis. Karenanya perlu ada pengembangan dan pemanfaatan sumber energi primer, seperti tenaga Surya, Bayu, Biomassa, Air, ataupun Panas Bumi  secara optimal yang mengutamakan sumber energi baru dan terbarukan. 

Hal ini disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Mohamad Hidayat Lamakarate ketika membuka focus group discussion Rencana Umum Energi Provinsi (RUED-P) Sulteng Rabu (29/8/2018) di Polibu kantor gubernur. Di kesempatan itu, Sekda didampingi Asisten Pembangunan Dan Kesra Dr. B Elim Somba, MSc dan Kepala Dinas ESDM Yanmart Nainggolan. 

Sulteng kaya akan sumber daya alam dan sumber daya energi, sumber daya itu agar dikelola untuk kesejahteraan masyarakat. Juga untuk kesempatan kerja. Dan sumber energi primer harus dimanfaatkan, dengan pengolahan energi terbarukan. Berkeadilan dan berkelanjutan serta berwawasan lingkungan. Di Sulteng banyak Gas, tetapi juga punya pembangkit sumber air di Solewana, tentu tidak menutup kemungkinan ada yang lain.

Bledug Kusuma salah satu narasumber dari Dewan Energi Nasional (DEN) membenarkan bahwa Sulteng memiliki potensi yang cukup tinggi. Berdasarkan data RUEN 2015 - 2050 Sulteng berpotensi menghasilkan 6.187 megawatt dari tenaga surya, 908 megawatt dari tenaga bayu, 326 megawatt dari biomassa, 368 megawatt dari panas bumi, dan dari tenaga air berpotensi menghasilkan 3.095 Megawatt. 

Akan tetapi menurut Bledug, potensi tersebut harus mendapat dukungan dari pemerintah dan masyarakat. Kemudian sejak dini, katanya, masyarakat harus membiasakan dan mempersiapkan penggunaan energi baru dan terbarukan. Sebagai contoh ia menjelaskan bahwa disini energi surya sangat melimpah. Tetapi apakah dimanfaatkan dengan maksimal. 

“Sulawesi Tengah kita tahu energi surya ada banyak, tapi yang jadi pertanyaan apakah ada kantor instansi yang menggunakan sumber energi itu, atau memanfaatkan sekedar saja. Ini harus dimulai dan disesuaikan dengan benar. Jangan lahan pertanian digunakan untuk tenaga surya, paling bagus di atap. Semua ini harus ditangani secara lintas sektor, dan manggala yudhanya adalah ESDM,” katanya. 

Ia merinci lebih mendalam, bahwa pemanfaatan energi baru dan terbarukan memerlukan riset dan kajian yang berkelanjutan dari pemerintah yang dibantu oleh para pakar dan para akademisi pada bidang tersebut. Hal itu diperlukan agar energi itu dapat secara ekonomis dimanfaatkan dan manajemen resikonya juga perlu dilihat untuk dipertimbangkan. Ia mencontohkan seperti energi bayu. Energi ini akan melimpah ditemukan di sepanjang pantai. Akan tetapi dilain sisi kadar garam yang tinggi bersifat korosif terhadap material pembangkit. 

Pengembangan ini menjadi urgensi yang harus segera dimulai. Karena negara kita saat ini sudah tidak termasuk swasembada pengekspor minyak. Bahan bakar minyak nasional yang digunakan menyedot anggaran belanja negara cukup tinggi. Karena sebagian harus diimpor dari luar. Harga minyak dunia yang naik-turun membuat anggaran belanja negara membengkak. Jika dibiarkan maka di tahun 2025 bisa dipastikan Rp950 triliun dibelanjakan hanya untuk energi yang bersumber dari BBM. Padahal diketahui, APBN saat ini ada di angka Rp2.000 Triliun. Ini beban yang cukup tinggi.** 
Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN