Talenta Dibalik Ketangguhan TNI


TNI Saat Melakukan Sunatan Pada Giat TMMD Di Desa Dodoa


Reporter/Poso: Ishaq Hakim

MENDENGAR Kata Tentara, mungkin bagi sebagian orang berpikiran profesi ini penuh dengan ketegasan, ketus atau disiplin ketat. Tapi, di balik seragam mereka tersebut ada sisi lain yang tidak banyak diketahui humanis.

Belakangan citra sosok tentara mulai terdengar. Ketus dan tegas seiring munculnya sosok sosok yang menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Tidak hanya sekedar bicara kegagahan, ketampanan ketanguhan ilmu bela diri dan menembak, namun mereka juga punya talenta.

Terkadang cerita-cerita tersebut muncul dari ketegangan. Seperti penumpasan teroris di Tamanjeka Poso, ada juga cerita di tengah melaksanakan kegiatan Operasi Teritorial Kodam XIII/Merdeka dan sampai sekarang adalah Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-102 yang digelar oleh Komando Distrik Militer (Kodim) 1307 Poso Tahun 2018 di Desa Doda.

Menjadi Tentara Nasional Indonesi (TNI) adalah cita-cita Feri Ginggilino sejak kecil. Pria yang sering disapa (Prada) Feri ini adalah alumni SPK Depkes Palu (Mamboro) 1996. Pada tahun 1997 ia mencoba beralih profesi.

Diungkapkannya, saat dirinya melihat sekumpulan tentara yang begitu gagah megenakan pakaian kebesaran loreng mereka, disitulah ketertarikan saya untuk beralih profesi. “Lihat warna baju loreng yang bagus, akhirnya saya mencoba mengadu nasib, beralih profesi mendaftarkan diri masuk tentara,” terangnya.

Ketika lulus Tentara pada 1997, Feri mendapat kecabangan kesehatan dan mengikuti pendidikan di Pusat Pendidikan Kesehatan (Pusdikes) Angkatan Darat Jakarta Timur.
Selesai pendidikan Pusdikes, ia ditempatkan di Kesdam VII Wirabuana Makassar, di Kesdam ia ditempatkan di Rumah Sakit Pelamonia. Saat  itu ia berpangkat Prajurit Dua (Prada).

Pada tahun 1999 ia mendapat perintah tugas dari atasannya untuk pindah ke Depkes Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara, disana ia bertugas kurang lebih 8 tahun di RS. dr.S.Moyo. Bukan hanya itu, tahun 2005 Prada Feri pernah di berangkatkan ke Aceh bersama dokter Batalion 725 dr. Letda Marles Haloho.

Dari situlah ia banyak mendapatkan ilmu, profesi yang ia dapatkan di bangku sekolah hingga menjadi seorang prajurit tentara oleh guru militernya ia gabungkan, ditambah lagi dengan bintara kesehatan lapangan (Bahkes). Dari pengalaman itulah ia terpangil untuk mengisi kegiatan Baksos Kemanusiaan TMMD ke-102 yang digelar oleh Komando Distrik Militer (Kodim) 1307 Poso tepatnya di Desa Doda.

“Setiap perintah itu adalah kewajiban saya untuk melaksanakannya sebagai anggota TNI,” ujar Prada Feri yang sekarang berpangkat Sersan Satu. Diungkapkanya, mengkhitan itu adalah profesi yang sudah lama saya geluti, giat ini bukan hanya di TMMD saja, pada kegiatan operasi teritorial juga pernah saya lakukan hal yang sama.

“Jadi pekerjaan ini dimanapun tempatnya kami bisa melakukanya, asalkan tempatnya terjaga kebersihanya dan bukan di atas air, canda Sertu Feri saat di wawancarai oleh media. Ditambahkanya, bukan hanya berperang melawan penjajah tapi tentara juga bisa mengobati, tentara juga punya talenta, ucap Sertu Feri saat melakukan sunatan masal.**


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN