Tim Ekspedisi Uwentira Temukan Rano


.
Reportase: Ikhsan Madjido

TIM Ekspedisi Uwentira Komunitas Sejarah Budaya dan Cerita Sulawesi menemukan danau atau Rano di pegunungan sekitar Uwentira. Ekspedisi yang digelar 23 Agustus 2018 lalu itu selain menemukan Rano, juga menjumpai tiga kuburan yang panjangnya 7 dan 9 meter.

“Ekspedisi ini memperkenalkan sejarah budaya dan cerita dari nenek moyang kita tentang Uwentira secara nyata dan harus kita yakini daerah ini penuh dengan kegaiban,” terang Ketua Tim Ekspedisi, Hendra Busilemba kepada Kaili Post, Minggu (26/8/2018). Rano yang luasnya sekitar 6 hektare itu oleh tim dinamai Rano Uwentira, dan diyakini sebagai tempat para makhluk astral penghuni Uwentira membersihkan diri.

Dijelaskan Hendra bahwa demi melengkapi arsip Komunitas sejarah Uwentira dan memenuhi rasa puas pada penggila sejarah To Kaili khususnya di wilayah Gunung Uwentira yang menurut cerita rakyat se-Sulawesi khususnya Kota Palu sebagai tempat bersemayamnya para mahluk astral se-Nusantara bahkan dunia.

Sepintas sejarah Uwentira dirangkum dari berbagai narasumber mengatakan bahwa ketika zaman penjajahan banyak rakyat pribumi di pekerjakan secara paksa untuk membuka akses jalan untuk menuju kerajaan Parigi dan sekitarnya, maka banyak para pejuang kemerdekaan Tanah Kaili yg gugur demi menggagalkan pembuatan akses jalan menuju Kerajaan Parigi.

Puncaknya perjuangan perlawanan itu di titik Jembatan Uwentira yang memakan korban tidak sedikit. Konon ceritanya airnya sampai berubah warna menjadi merah darah karena keinginan para pejuang Tanah Kaili tidak mau diperintah oleh para penjajah,” cerita aktivis Komunitas Sejarah Budaya dan Cerita Sulawesi ini.

Konon kabarnya para Patih, Tadulako serta punggawa dari beberapa kerajaan bergabung untuk menggagalkan akses pembuatan jalan dan jembatan Uwentira. Namun kekuatan tidak berpihak pada mereka banyak mereka tertangkap untuk dipekerjakan dengan perlakuan amat sangat keras.

“Ekspedisi ini ingin mengangkat sejarah bukan keangkeran Uwentira. Meski demikian bayang-bayang kemistikan mengiringi perjalanan kami, padahal perjalanan kami adakan dari pagi menjelang siang hari,” ujarnya.

Uwentira merupakan situs sejarah perlawanan terhadap penjajahan yang tidak terlepas dari kegaibannya. Olehnya itu komunitas tidak mengangkat sisi kegaiban Uwentira dengan penghuni makhluk astralnya.

“Itu di luar kaidah komunitas ini. Namun bagi yang ingin diskusi tentang penampakan dan wujud mereka, dapat bergabung di sekret kami,” pinta Hendra. Saat melakukan ekpedisi tim yang terdiri atas 15 orang anggota komunitas ini juga ditemani 5 orang penunjuk jalan dan orang spritual.

Untuk akses ke Rano dan kuburan dapat di tempuh dengan jalan kaki menyusuri jalan setapak dari jembatan Uwentira dengan waktu tempuh 35 menit. Tentunya harus menyiapkan diri secara fisik dan mental, karena selain medan yang terjal dan curam, juga adanya bayang-bayang mistik perlu diperhitungkan.**

Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN