Wanprestasi, Jalan Hauling PT MAS Dipalang Warga


  

Reporter/Morowali: Bambang Sumantri

PERUSAHAAN Tambang PT Mahligai Artha Sejahtera (MAS), didemo masyarakat Desa Buleleng, Kecamatan Bungku Pesisir (04/8/2018) pekan lalu. Ratusan massa memalang jalan hauling menuju tempat pemuatan ore dengan menggunakan batu dan kayu hingga sejumlah truk pengangkut ore dan 1 mobil bak terbuka tak dapat melintas.

Aksi warga tersebut dilakukan karena adanya sejumlah kesepakatan (prestasi/janji/kesepakatan) antara pihak perusahaan dengan masyarakat dilanggar atau tidak dipatuhi (wanprestasi). Kekesalan itu memuncak setelah beberapa kali dilakukan mediasi namun tak ada titik temu.

Perwakilan warga, H Muis menjelaskan bahwa aksi tersebut terpaksa dilakukan karena warga Desa Buleleng telah kecewa dengan PT MAS yang tidak komitmen dalam merealisasikan janji-janji kepada para pemilik lahan. ‘’Kami ini sangat kecewa dengan PT Mahligai karena kesepakatan yang sudah dibuat bersama masyarakat pemilik lahan telah dilanggar, kami sudah cukup sabar," ujarnya.

Dikatakannya, pada tahun 2016 silam, pihak PT MAS pernah melakukan pertemuan dengan warga pemilik lahan yang menghasilkan beberapa kesepakatan. Di antaranya, warga pemilik lahan setiap dua minggu setelah pemuatan ore, perusahaan harus memberikan fee kepada warga yang memiliki lahan.


‘’Pembayaran fee tidak pernah ditepati, nanti dipalang jalan baru diberikan, perusahaan juga sudah melanggar kesepakatan, dimana setiap pergeseran ke lokasi warga lainnya untuk melakukan aktivitas, harus disampaikan kepada kami dan harus menyelesaikan pengerukan di lahan seluas lima hektar baru bisa bergeser ke tempat lainnya, tetapi pada kenyataannya, mereka tidak melakukan itu," ungkapnya.

Muis menjelaskan bahwa lahan warga yang digunakan PT MAS sebanyak 600 bidang dengan luas 1.200 hektar. Namun hingga saat ini PT MAS belum menggunakan semua lahan tersebut. ‘’PT Mahligai juga tidak komitmen merealisasikan janjinya itu, kami pemilik lahan sudah sepakat bahwa setiap ada pergantian kontraktor perusahaan harus sampaikan ke warga pemilik lahan tapi nyatanya tidak, kami pemilik lahan tidak pernah diberitahukan jika ada pergantian kontraktor," jelasnya.

Selain dari tuntutan warga, sesuai hasil pengamatan media ini, kerusakan pasca tambang di wilayah tersebut hanya dibiarkan saja sehingga beberapa bulan lalu sempat terjadi banjir besar. Kerusakan mangrove juga terlihat dimana-mana, telah banyak yang mati, ditambah air keruh di pinggiran laut. Ini sudah banyak kerusakan Pak, liat saja bakau banyak yang mati, air laut sudah keruh, seharusnya pihak Lingkungan Hidup bisa melihat ini dan bertindak tegas agar perusahaan bisa menambamg dengan kaidah yang benar, kami juga belum pernah diundang untuk sosialisasi Amdal," tandasnya.**


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN