Agustus, Palu Deflasi 0,06 %



Reporter: Firmansyah


BADAN Pusat Statistik (BPS) Sulteng, Senin (3/9/2018) menyebut bahwa ada penurunan harga barang di Kota Palu sebesar 0,06 persen. Tingkat deflasi itu terjadi dalam kurun Agustus 2018 lalu. Ada beberapa faktor memicu deflasi. Apa saja itu?


Menurut Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sulteng, Nasir, faktor pengungkit  deflasi yaitu dipengaruhi beberapa faktor. Seperti turunnya tarif angkutan udara, dengan presentase 0,45 persen. Komoditas penunjang lainya seperti ikan teri, ikan cakalang dan beras sebanyak 0,01 persen.


Secara umum ada tiga kelompok yang menekan deflasi di Agustus lalu. Seperti dari sektor sandang, perumahan dan transportasi komunikasi. Untuk beberapa komoditas yang memiliki harga yang tidak stabil, atau sering mengalami perubahan (fluktuasi) seperti telur ayam ras, beras, daging ayam, daging sapi, bawang merah, bawang putih, ikan, sayuran, buah-buahan, cabe, cabe rawit, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, angkutan udara dan bensin.


Dari 18 kota di Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua), Palu berada diurutan keempat yang mengalami deflasi terendah. Dengan presentasi empat kota mengalami inflasi, sedangkan empat belas lainya terjadi deflasi. Untuk sektor eksport, secara umum, Sulteng di bulan Juli 2018 sebesar 386 juta Dollar. Terjadi kenaikan sebesar 1,06 persen dari bulan juni 2018. Dari Januari hingga Juli 2018, sebanyak 2,6 Milyar Dollar. Kenaikan dari sektor tersebut sangat signifikan. Dibanding tahun 2017 lalu kumulatifnya sebesar 94 persen.


Sumbangan terbesar terhadap naiknya ekspor masih didominasi dari hasil tambang sebesar 228 juta Dollar.  Selain itu juga berasal dari sektor Migas sekitar 95 juta Dollar. Hasil pertanian sebesar 2,2 juta Dollar. " Dari sektor tambang dan Migas sangat mendominasi ekspor kita di   tahun ini, hasil pertanian juga memberikan sumbanganya, namun sangat kecil, " ungkap Nasir.


Pangsa ekspor dibulan Juli 2018 terbesar adalah ke negara Taiwan sebesar 34 persen, senilai 132 juta Dollar. Urutan kedua Jepang, dengan total sebanyak 24 persen, dengan nilai 95 juta Dollar. Serta Tiongkok sebesar 20,8 persen, dengan nilai ekspor 80, 45 juta Dollar.


Sedangkan kumulatif ekspor Sulteng dari bulan Januari hingga Juli 2018, pangsa terbesarnya ada di negara Tiongkok sekitar 44 persen, senilai 1,1 juta Milyar Dollar. Kemudian Jepang sebesar 14 persen, dengan nilai sebanyak 382 juta Dollar. Serta Korea Selatan 13,78 persen senilai 367 juta Dollar.


Posisi nilai ekspor Sulteng dibulan Januari hingga  Juni  2017, hanya sekitar 1,46 persen saja. Sementara itu, dibulan Januari hingga Juli 2018 mengalami peningkatan sekitar 2,56 persen. " Artinya perkembangan ekspor kita secara skala nasional, komposisinya apabila bisa dipertahankan, akan diperhitungkan oleh daerah lain, " aku Nasir.


Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng, Faisal Anwar. M T berharap agar stok barang serta disribusi yang baik tetap konsisten. Sehingga bisa menekan inflasi. " Untuk menjadi satu perhatian, berkaitan tentang telur ayan ras. Dari amatan delapan puluh dua kota, empat puluh dua kota harga telur ayamnya mengalami penurunan. Namun untuk Palu malah mengalami kenaikan harga di Agustus lalu, " paparnya.**


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN