CSR DONGI SENORO Iswanto, Salah Satu Bagian Warga Batui



Reporter: Idham

PEMUDA Batui sedang giat-giatnya menjadi petani, dengan dukungan pendampingan program corporate social responsibility (CSR) dari PT Donggi Senoro Liquefied Natural Gas (DSLNG). Iswanto (27) misalnya, seorang alumni Universitas Tompotika terjun menjadi seorang petani Cabai.
  
Saat di kunjungi wartawan beberapa bulan yang lalu (05/06/2018), Iswanto yang juga ketua kelompok tani “Ina Utan” salah satu kelompok tani binaan Program CSR PT. DSLNG di Kelurahan Sisipan, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai  menuturkan bagaimana perkembangan perkebunan dan prospek pertanian cabai di daerahnya serta peran serta CSR PT. DSLNG.

Pemuda batui biasanya membuat kelompok tani untuk mengelola komuditas perkebunan berupa Jagung dan Cabai, karena dinilai relatif lebih mudah dalam perawatan dan pemasaran. Kelompok tani kami sendiri “Ina Utan” red) sendiri terdiri dari 20 orang anggota dari beberapa kalangan termasuk alumni mahasiswa Untika dengan rentang usia 25-30 tahunan.

Iswanto menjelaskan kalau dirinya hanya mengikuti pelatihan dan pendampingan melalui program CSR PT DSLNG.  Jenis pelatihan dan pendampingan  terdiri dari pengolahan petanian Hortikultura di pusat pelatihan pertanian, pembuatan pupuk organik misalnya air cucian beras, bonggol pisang dan pemamfaatan Micro organisme lokal (MOL).

Pengetahuan tentang cara pengelolaan pembibitan, pengolahan dan jenis pemupukan, jenis hama, masa panen terlihat sangat dikuasai. Salah satunya berkat pelatihan yang pernah diikuti.

 “Saya bukan lulusan dari jurusan pertanian atau kuliah pertanian tetapi hanya mengikuti pelatihan yang diadakan CSR SDLNG”, sekitar bulan November 2017. Pelatihan tersebut dilakukan 10 kali pertemuan. Kita diajarkan bagaimana tata cara bercocok tanam tanaman cabai dengan benar, pemupukan dan rencana pemasaran.

Setelah melihat tanah milik keluarga seluas ±1 Hektar yang tidak dimamfaatkan, akhirnya saya berfikir untuk memfaatkan dan tertarik untuk mengikuti pelatihan yang dilakukan PT. DSLNG. Tidak cukup sebulan setelah ikut pelatihan, kebun langsung dibersihkan dan mulai mempersiapkan penanaman.

Awalnya sekitar 800 pohon cabai jenis gorontalo yang di tanam, dengan masa pembibitan satu bulan serta masa hidup produktif 6 bulan. Jenis lain yang juga ditanam masyarakat Batui  Cabai Jenis F1 Pelita 8 yang lebih tahan penyakit, namun permintaan tinggi justru jenis Gorontalo, tutur Iswanto.

“Orang sini juga suka yang lokal, makanya saya kembangkan jenis gorontalo”. Dalam 800 pohon, ia mengaku bisa menghasilkan sekitar  30 kg sampai 40 kg cabai. Pada awal Juni lalu, merupakan masa panennya yang ke 14 kalinya. Sekitar seperempat lahan dimamfaatkan untuk tanaman Cabai.

Bercocok tanam cabai, lumayan hasilnya. Sebenarnya kalau ini digeluti serius, orang-orang kampung sebenarnya tidak perlu susah makan di kampung sendiri,”ujar Iswanto. Selain itu tidak perlu memikirkan pemasaran karena sudah adanya stocking point, kata Iswanto kepada wartawan.

Pemasaran Terjamin berkat Stocking Point

Hasil panen masyarakat sekitar dijual ke sebuah stocking point. Stocking point sendiri merupakan sebuah lembaga berbentuk koperasi, khusus membeli produksi hasil pertanian dan perkebunan warga. Stocking point memberikan keuntungan karena koperasi membeli hasil pertanian warga secara tunai ke masyarakat dengan mengikuti harga pasar. Sehingga warga tidak perlu khawatir lagi hasil pertaniannya tidak laku.

Stocking point merupakan salah wujud kehadiran PT. Donggi Senoro Liquefied Natural Gas (DSLNG) kepada masyarakat terutama masyarakat sekitar kawasan PT. DSLNG melalui program corporate social responsibility atau CSR yang hadir untuk meningkatkan perekonomian, kesehatan, pendidikan dll.  Sumber pendanaan stocking point sendiri berasal dari mekanisme pinjaman Bank, dengan PT. DSLNG menjadi pihak penjamin.

Nurdin, selaku penanggung jawab stoking point koperasi di Desa Kalolos Kecamatan Kintom, menyebutkan dana koperasi diperoleh dari pinjaman BRI. Nurdin mengaku pinjaman koperasi itu dijamin pihak DSLNG “Empat puluh juta awalnya kita diberi pinjaman atas jaminan DSLNG,”jelas Nurdin.

Kalau keuntungan koperasi didapat dari selisih penjualan harga. Misalnya dibeli dengan harga per kilo Rp.20.000, maka koperasi akan menjualnya Rp23.000 per kg. Sementara cabai yang terkumpul di tampung di koperasi selanjutnya dijual ke Provinsi Gorontalo. “Kami umumnya menjual ke Gorontalo. Setiap dua hari sekali melalui kapal,”jelasnya. Keuntungannya sendiri akan dibagikan sesuai aturan bagi hasil kepada setiap anggota, ujar Nurdin.**


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN