Kapal Wisata Mancing Mulai Disoroti

DIDUGA RUGIKAN DAERAH
Reportase : Andono Wibisono

DONGGALA - KAPAL Kapal motor (KM) wisata mancing yang biasa beroperasi di sekitar Desa Pangalasiang Kecamatan Sojol Kabupaten Donggala hingga perbatasan dengan Kabupaten Tolitoli Sulawesi Tengah mulai mendapat sorotan masyarakat. Diduga, KM wisata mancing ini juga digunakan wisatawan-wisatawan lokal (Jakarta dan Surabaya) hingga mancanegara untuk melakukan tour mancing di sekitar perairan wilayah Donggala hingga Tolitoli di sekitaran Selat Makassar.


Menurut warga, kehadiran KM Wisata Mancing itu tidak memberikan asas manfaat yang berarti. Karena umumnya, kapal kapal itu hanya milik warga luar yang hanya ditambatkan ke desanya. Terlebih, mereka tidak berbelanja, menginap dan transaksi di daerah itu. ‘’Mereka istilah hanya titip mobil dan naik kapal hinga berhari-hari. Habis itu pulang, tidak jelas asas manfaatnya,’’ ujar warga.

Hal yang sama juga disebutkan sumber kailipost.com di Palu. Ia menyebut, wisatawan wisatawan itu datang hanya untuk hobi memancing. Mereka datang dari Jakarta dan kota besar lainnya sesuai dengan komunitasnya. Sekali melaut, para wisatawan dengan komunitasnya biasa sampai merogoh kocek dari Rp40 – 75 juta untuk sekali trip. Satu trip biasa tiga sampai empat hari melaut.

Karena antusias wisata mancing animonya tinggi di perairan Sulteng, beberapa pengiat wisata mancing memanfaatkan peluang bisnis itu. diperkirakan omset bisnis wisata mancing meraup miliaran rupiah setiap bulannya, apabila tidak musim angin darat atau musim gelombang. Bisnis itulah yang saat ini terjadi di sekitar Desa Pangalasiang Kecamatan Sojol Kabupaten Donggala tersebut.

Adalah Taufik Tan, warga DKI Jakarta salah satu pemilik KM Wisata mancing tersebut. Ketika dikonfirmasi apakah usaha bisnis itu telah memiliki izin pariwisata dari pemerintah setempat, apakah ada kontribusi ke pemerintah kecamatan Sojol, apakah setiap wisatawan asing yang menyewa kapal motornya terdata di Dinas Pariwisata Donggala atau Sulteng, apakah memiliki ijin usaha untuk PAD Donggala, ijin kelengkapan laik kapal motor, apakah ada ijin melaut kapten dan ABK kapal motor, dan membayar pajak ke negara (legalitas usaha) tidak mau menjawab. Bahkan ketika dikonfirmasi via WA, ia hanya membaca dan langsung memblokir nomor redaksi. Demikian pula ketika dikonfirmasi via pesan singkat. Kapal Motor Taufik Tan diperkirakan dibuat menelan anggaran Rp1,2 miliar.

Adi, warga Jakarta yang juga biasa ikut wisata mancing dengan kapal motor mengaku kenal Taufik Tan. Tapi ia akui hanya kenal di Palu dan memiliki hobi mancing. ‘’Selebihnya saya tidak kenal. Kalau sesama hobi mancing kenal ya. Ia ada kapal juga dibuat di Donggala,’’ tuturnya.

Sementara itu, pihak Dinas Pariwisata Donggala menyebut sesuai data kepariwisataan belum pernah ada laporan kegiatan wisata mancing dari Pangalasiang Kecamatan Sojol. Menurutnya, pihaknya selama ini tidak diberi laporan. ‘’Harusnya melapor. Karena ada pihak dari luar. Jangan ada musibah kami disalahkan nanti. Masih ingat musibah kapal tenggelam di Danau Toba, di Laut kan banyak masalah karena tidak ada koordinasi baik jumlah penumpang dan asal usul penumpang. Soal ijin kalau itu kegiatan wisatawan harus adalah. Kami akan kerjasama dengan pihak – pihak terkait hal itu,’’ ujar staf bagian Perizinan Kepawisataan Dinas Pariwisata Kabupaten Donggala.

Demikian pula dengan Dinas Perikanan Donggala. Makmur, salah satu ASN di dinas itu mengaku mendengar aktifitas KM Wisata Mancing di Pangalasiang, tapi pihaknya tidak pernah diberi laporan. ‘’Itu harusnya koordinasi. Tidak bisa alasan itu kegiatan memancing tidak mengeskloitasi sumber daya laut. Dengan koordinasi kita akan tau benar tidak kegiatan itu. nanti kami laporkan ke kepala dinas,’’ terangnya lagi.**

Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN