Longki: Batas Wilayah Bukan Pemisah Tapi Pemersatu


 Sumber: Humas Pemprov

GUBERNUR Longki Djanggola menegaskan batas wilayah adalah bukti autentik antara wilayah satu dengan wilayah lainnya. Dan yang terpenting, ungkap gubernur, batas wilayah tersebut bukan dijadikan jurang pemisah. Tetapi warga justru harus terus berusaha memperkuat kebersamaan hidup rukun dan harmonis, saling gotong-royong, saling menjaga keamanan dan ketertiban, serta mengembangkan potensi ekonominya masing-masing tanpa ada gesekan. Hal itu disampaikan gubernur ketika meresmikan pintu gerbang perbatasan Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi pada Rabu (5/9/2018). 

Gubernur menambahkan, makna dari batas wilayah adalah usaha penataan suatu wilayah, yang selanjutnya penataan tersebut dijadikan pertimbangan dalam pembangunan. Baik pembangunan fisik dan pembangunan non fisik. ‘’Hari ini kita bersyukur, telah terbangun pintu gerbang perbatasan antar Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi. Berdasarkan terbitnya Permendagri Nomor 15 Tahun 2018 Tentang Batas Daerah Kabupaten Poso Dengan Kabupaten Sigi. Hakikatnya penataan batas daerah bukan berarti pengkaplingan atau pengkotak-kotakan wilayah. Tetapi diarahkan menata wilayah kerja administratif pemerintahan yang menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten, dalam pelaksanaan tugas-tugas penyelenggaraan pemerintahan, kemudian untuk mempermudah koordinasi pelaksanaan pembangunan maupun pembinaan kemasyarakatan di wilayahnya masing-masing”, katanya. 



Setelah meresmikan gerbang perbatasan, di tempat yang sama gubernur yang didampingi Sekdaprov Mohamad Hidayat Lamakarate, menandatangani prasasti pembangunan Poliklinik Desa Dongi-Dongi dan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sedoa, Lore Utara. Ia mengapresiasi rampungnya pembangunan dua sarana fisik tersebut.

Karena hal tersebut masyarakat daerah setempat dapat menikmati pembangunan yang sama baiknya dengan masyarakat di tempat lain. Meski jaraknya yang tak kurang dari 80 Kilometer dari ibukota provinsi. Gubernur mewanti-wanti agar fasilitas tersebut segera dilengkapi segala sesuatunya. Agar fungsinya dapat maksimal dalam melayani publik. 

‘’Saya minta kepada Bupati,  saya so tau dorang pe mau semua (masyarakat), Insya Allah tidak akan ada konflik-konflik jika fasilitas sudah ada. Ke depan apabila ada pasien, tidak perlu dibawa ke tempat jauh, tapi kalau perlu dirujuk bisa. Nantinya jangan ada masyarakat yang merasa  terlalu jauh dari pusat pemerintahan. Kita harus ada di tengah masyarakat. Di mana pun mereka berada. Sekali lagi saya minta untuk guru segera dilengkapi dan sarana prasarana,” pintanya. 




Peresmian tersebut dihadiri Forkompinda Poso dan Sigi, di antaranya, Ketua DPRD Sulteng, Bupati Poso, Bupati Sigi, Kapolres, Dandim serta banyaknya masyarakat sekitar yang juga antusias menyaksikan upacara adat “Tampolore” dan “Pariolo”

Upacara tersebut menyembelih seekor kerbau. Kemudian oleh gubernur kepala tersebut diserahkan kepada kepala adat setempat untuk dikubur di samping tapal batas yang dioleskan darah kerbau. Dijelaskan bahwa prosesi adat itu merupakan simbol filosofi mengubur sifat-sifat buruk manusia yang kadang seperti sifat buruk hewan. **


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN