Menakar Peluang Calon DPD Menuju Senayan




Reportase: Ikhsan Madjido 

SEBANYAK 21 orang bakal calon DPD Sulteng diumumkan ke publik untuk mendapat tanggapan dan masukan dari masyarakat. Ada tiga  balon yang tercatat sebagai incumbent, dan selebihnya adalah wajah baru yang mencoba adu keberuntungan di Pileg 2019 mendatang.

Lalu bagaimana peluang mereka menuju senayan? Pengamat politik, Slamet Riyadi Cante menilai rekam jejak para calon yang akan memudahkan mereka melenggang ke senayan. “Beberapa nama calon anggota DPD  yang selama ini belum nampak jejak rekamnya dan kiprah politik dan sosialnya, yang nanti akan berpengaruh terhadap tingkat elektabilitasnya,” ujar dosen Fisip Untad ini, Minggu (2/9/2018).

“Idealnya, mereka memiliki kalkulasi politik yang matang untuk mencalonkan diri, meskipun ruang demokrasi terbuka lebar,” tambahnya. Menurutnya, dalam kalkulasi politik biasanya incumbent selalu memiliki peluang karena mereka sudah memiliki basis massa yang jelas.

Slamet Riyadi tidak menampik kenyataan betapa peran anggota DPD selama ini cenderung belum maksimal karena keterbatasan kewenangan. “Secara phylosopis keberadaan DPD sebagai bentuk bikameral dan cek and balances dengan DPR tapi realitasnya tidak demikian, sehingga terkesan perannya tidak nampak,” terangnya.

Hal tersebut dikemukakan dengan melihat caleg yang berlatar belakang aktivis dan akademisi maupun ASN yang pensiun dini demi menuju senayan. “Seharusnya ketika para calon DPD yang berlatar belakang aktivis dan akademisi patut merenungkan realitas politik saat ini,  terkait peran DPD yang identik setengah hati jangan sampai terkesan hanya memiliki disorientasi,” tegasnya.

Terkait motivasi menjadi anggota DPD yang ingin memperjuangkan nasib honorer K2 agar dapat diangkat menjadi PNS dan memudahkan perjuangan secara politik tokoh Sulteng untuk diangkat sebagai calon pahlawan nasional, Slamet Riyadi menilai bahwa ketika berkomitmen untuk memperjuangkan dan mengartikulasikan kepentingan rakyat, tidak harus menjadi legislator atau bergabung dalam lembaga politik.

“Saya pikir tidak semudah itu bisa di realisasikan karena DPD ada sistem. Secara faktual beberapa orang cukup vokal ketika masih diluar sistem, namun ketika masuk dalam sistem mereka tidak bisa berbuat apa-apa, malahan terjebak dengan masalah hukum,” kata dosen kebijakan publik ini. Sungguh pun demikian faktanya, namun patut diapresiasi kepada teman-teman yang akan bergabung di DPD, semoga mereka memiliki komitmen yang kuat untuk merealisasikan harapan masyarakat.**


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN