PDRB Sulteng Meningkat


.
Sumber: Humas Pemprov

PEMBANGUNAN Domestik Regional Bruto (PDRB) per-kapita Sulawesi Tengah tahun 2016-2017 mengalami peningkatan cukup menggembirakan. Dari Rp. 91,05 juta tahun 2016 menjadi Rp 97,55 juta tahun 2017. Laju pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama 2018, adalah sebesar 6,62%. Data tersebut menunjukkan, indikator makro pertumbuhan ekonomi terus membaik.

Namun di sisi lain kondisi itu tidak serta merta menciptakan kondisi sosial yang baik secara signifikan, karena masih diperhadapkan oleh berbagai isu internal, yakni, pertumbuhan ekonomi masih didominasi oleh faktor konsumsi, serta investasi tidak merata di seluruh kabupaten/kota, sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi dirasakan belum merata, kelembagaan usaha melalui kelompok usaha, belum berkembang dengan baik, Masih tingginya angka kemiskinan serta rentannya ketahanan ekonomi.

Demikian disampaikan Gubernur yang sambutannya dibacakan Asisten Adm. Ekonomi, Pembangunan dan Kesra, Dr. Ir. Bunga Elim pada acara workshop kesehatan ikan dan lingkungan, pakan mandiri, temu bisnis UKM serta budidaya udang supra intensif skala kecil dan menengah, Kamis, (20/09/2018).

Menurut gubernur, menilik pembangunan Sulteng lima tahun ke belakang, sektor pertanian termasuk di dalamnya kelautan dan perikanan diharapkan mampu memberikan kontribusi yang optimal terhadap PDRB. Sektor ini, cukup banyak menyerap tenaga kerja, namun ironisnya kontribusi angka kemiskinan justru paling banyak terjadi pada sektor tersebut, kondisi ini memerlukan perhatian dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Konsekuensi dari jumlah penduduk yang semakin bertambah diperkirakan sebesar 9,8 milyar pada tahun 2030, untuk itu ada 4 (empat) hal penting yang harus disiapkan yakni : (1) bagaimana cara menyediakan pangan; (2) bagaimana cara menyediakan energi; (3) bagaimana cara menyediakan lapangan kerja; serta (4) bagaimana cara menjaga kelestarian lingkungan.

Ke-empat hal tersebut, adalah industrialisasi berbasis “blue economy”, yang bercirikan peningkatan daya saing. Namun demikian, berbicara tentang daya saing, maka hal ini sangat ditentukan oleh: (1) peningkatan produktivitas, dan (2) pemberian nilai tambah produk (value added). Kedua hal tersebut sangat dipengaruhi oleh varian inovasi; berupa teknologi adaptif berkelanjutan untuk menghasilkan produk yang lebih cepat, lebih murah dan lebih baik dibanding teknologi konvensional.

Terkait dengan teknologi budidaya udang supra intensif lanjut gubernur, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulteng sejak tahun 2013, telah mereplikasi teknologi budidaya udang vaname supra intensif dengan konstruksi beton yang produktivitasnya mencapai 150 ton/ha/siklus (4 bulan). Selanjutnya ditahun 2016 dilakukan pengkajian konstruksi yang lebih murah, terbuat dari plastik yang ditopang oleh rangka besi, yang diberi nama budidaya udang “teknologi supra intensif skala rakyat”, sehingga dapat diakses oleh masyarakat, kini teknologi rekayasa konstruksi ini telah di-implementasikan dengan hasil yang memuaskan.

“Pengembangan UMKM pada hakikatnya, merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat sebagaimana diamanatkan pada pasal 16 ayat (1) undang-undang nomor 7 tahun 2016 tentang perlindungan dan pemberdayaan nelayan, pembudidaya dan petambak garam,” sebut gubernur.

Sementara itu, Panitia Pelaksana, Ir. Andi Dala Ponte, M.Si dalam laporannya menyatakan, kegiatan workshop yang diikuti 120 orang peserta terdiri dari para pelaku usaha budidaya ikan/udang, distributor pakan/obat ikan, pedagang pengumpul/distributor hasil perikanan, UMKM pengolahan hasil perikanan, perwakilan asosiasi, perwakilan asosiasi, dan pihak terkait lainnya.

Tujuan pelaksanaan workshop, meningkatnya produktifitas dan nilai tambah produk perikanan, meningkatnya system kesehatan ikan dan lingkungan dan penggunaan pakan mandiri serta terjalinnya sistim bisnis usaha perikanan yang dapat meningkatkan kesejahteraan UMKM.**



Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN