PWI Sulteng Sesalkan Tindakan Bupati Aptripel


Reporter: Yohanes clemens


KETUA Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Tengah (Sulteng) Mahmud Matangara, SH sangat menyesalkan peristiwa pelaporan polisi Bupati Aptripel Tumimomor oleh seorang anggota PWI - wartawan Kaili Post, Pariaman Tambunan. Menurutnya, semestinya antara pejabat dengan wartawan adalah mitra sejajar yang harus saling hormat menghormati dan menjunjung tinggi profesi masing-masing.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Bupati Aptripel mengusir wartawan ketika melihat wartawan itu memasuki sebuah warung kopi bersama-sama dengan Dandim Morowali. ‘’Pergi kau, saya tidak mo liat kau. Kau tulis saya korupsi," begitulah kata-kata bupati Morowali Utara itu menghardik, mengusir dan melecehkan jurnalis. Karena tidak ingin susana gaduh, Pariaman memilih keluar Warkop.

Menanggapi hal itu, Mahmud mengatakan seorang pejabat negara harus arif dan bijaksana dalam menghadapi para jurnalis dan melihat suatu masalah yang terjadi. ‘’Kalau memang ada wartawan tidak berlaku santun dalam tugasnya, harus perlu ditegur. Tetapi, kalau dalam tugasnya seseorang wartawan menjalankan tugasnya dan dihalang-halangi maka akan dikenakan undang-undang jurnalis yang berlaku. Dan dalam UU itu akan dikenakan denda," jelas Mahmud Matangara diruang PWI lantai 2, Rabu, (12/08/2018).

Sehingga, kata Dia, (Mahmud) sebagai ketua organisasi besar yang tertua di Indonesia
sangat menyesalkan kejadian tersebut. ‘’Dan moga-moga ke depan diharapkan bupati lebih bijak lagi untuk melihat teman-teman di lapangan, terutama yang sudah profesional dalam hal yang sudah mengikuti ujian kompetensi dan sudah kompoten.’’ Terang Dewan Managemen Trimedia grup itu lagi.

‘’Kita sangat berharap seluruh pejabat publik memahami apa yang menjadi tugas wartawan. Maka dari itu, wartawan dan pejabat publik harus bekerjasama untuk membangunkan daerah. Sebab, bagaimanapun Trimedia dan media lain, membangun media di Sulteng bukan hanya kepentingan media sendiri, melainkan kepentingan bersama secara umum baik bupati, DPR dan masyarakat," ujarnya.

Selanjutnya, tambah Ketua PWI, kepala daerah harus membedakan wartawan yang bekerja di media harian, bukan bermaksud untuk mengecilkan media-media yang lain. Dia harus melihat siapa sih wartawan yang ditegur itu, semestinya bupati bijak saja, wartawan juga manusia biasa mereka juga paling dihargai karena profesinya saja.
"Tentu sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia yang tertua, sekali lagi saya nyatakan prihatin dengan kejadian itu. Mudah-mudahan para pejabat maupun masyarakat yang lainnya tidak melakukan hal-hal yang demikian terhadap jurnalis apalagi yang melakukan wawancara adalah wartawan yang berkompeten," tuturnya.**


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN