RATUSAN MILIAR TERSUMBAT DI DRAINASE


POTRET BELUM BERUBAH – Hujan Semenit, Mengenangi kilo meter jalan raya dalam Kota Palu. Gambar diambil setelah hujan kemarin (06/09/2018) di ruans jalan perempatan Basuki Rahmat, Towua, Emy Saelan dan Gusti Ngurah Rai Palu Selatan. Foto/kailipost/andaranajwawibisono


Reportase: andono wibisono

PUKUL 15.15 Wita, aksi lalu lintas di perempatan jalan Emy Saelan, Basuki Rahmat, Jalan Towua dan Jalan Gusti Ngurah Rai kemarin (06/09/2018) tak jauh beda dengan jam-jam padat biasanya. Tapi pemandangan kemarin, justru ada yang memiriskan hati. Derasnya air luapan saluran drainase dari jalan Basuki Rahmat mengenangi perempatan ‘besar’ yang arus Lalinnya sangat padat.

Luapan air itu sekira ‘setengah roda’ kendaraan roda dua (sepeda motor). Bahkan, mobil city car harus rela berbelok menghindari air yang begitu deras dan terkenang di tengah badan jalan. Maklum, kemarin siang, Palu diguyur hujan tidak selang satu jam. Curah hujannya pun tidak terlalu lebat dan lama.



Kok masih ada air tergenang? Pertanyaan publik soal yang satu ini pun wajar. Karena sejak TA 2016 sampai TA 2018, Pemerintah Kota Palu genjar-genjarnya membangun sistem drainase yang baik. Bahkan tahun ini sedang dilakukan perbaikan drainase di sejumlah ruas jalan. Misalnya; di sekitar Pasar Masomba, Palu Selatan hingga Jalan Bantilan Palu Barat.

Di perempatan Jalan Emy Saelan, Basuki Rahmat, Towua dan Gusti Ngurah Rai sempat tahun lalau (2017) dibangun sebuah gorong-gorong besar untuk pertemuan air hujan dari Basuki Rahmat (Timur) dan dari Towua (Selatan ke Utara), dari Emy Saelan (Utara ke Selatan) untuk diteruskan ke Sungai Jalan Gusti Ngurah Rai.

Pasti anggarannya sangat miliaran rupiah. Bahkan, data redaksi sejak pembenahan drainase dalam kota (2016-2018) Pemkot mengelontorkan ratusan miliar rupiah. Tujuannya, agar ketika hujan, air tak lagi meluap di jalanan. Tapi, cita-cita itu setidaknya masih sebatas ‘menelan ludah’ karena belum tercapai. Buktinya kemarin, dengan curah hujan tak terlalu lebat, air pun mengenangi beberapa ruas jalan di dalam kota.

Giat-giatnya Pemkot membenahi sarana dan prasarana kota patut diapresiasi. Tentu dengan sistem dan model drainase yang baik, pasti akan mengurangi debet air yang meluap di badan jalan ketika musim hujan tiba.

Tapi, apalah lacur bila sistem drainase yang dibangun pun belum menjawab problem kota di musim hujan? Kesadaran akan membuang sampah belum masif. Misalnya; wajib setiap bangunan di sepadan jalan harus ada tong sampah mandiri. Atau pemilik Alfa Midi yang menjamur itu wajib tong sampah di depan tokonya. Dan seterunya juga ruko dan toko lainnya. Drainase yang dalam pun tak menjawab sendimentasi akibat buang sampah sembarangan.



Palu, butuh pakar perkotaan yang paham geografis dan sosiologis warganya. Palu butuh arsitek yang paham benar sistem drainase dan juga budaya malu ‘bila tidak bersih’ di sekitar lingkungannya. Palu hari ini adalah kota, dengan tipikal masih dominan warga dengan budaya transisi. Menata dalam kota pun, sebaiknya pemerintah provinsi dilibatkan sebagai ibukota provinsi. Bappeda Pemkot dengan Bappeda Pemprov harusnya ‘senyawa’ mendesain wajah ibukota. Pasti dengan dua ceruk anggaran, Palu bahkan lebih cepat seperti yang dicita-citakan Pemkot sebagai Kota Destinasi.**

Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN