Jangan Lebih Berat dari Ahok



MUSISI Ahmad Dhani akan menghadapi sidang pembacaan tuntutan pada 19 November. Dhani meminta kepada jaksa penuntut umum agar tidak menuntut dengan tuntutan hukuman lebih tinggi dari Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) .

"Saya boleh memohon pada JPU, pak hakim. Saya mohon pada JPU supaya tuntutannya jangan lebih daripada Ahok," kata Ahmad Dhani di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Senin (5/11/2018).  "(Supaya) Bisa menginspirasi," kata Dhani. Usai persidangan, Ahmad Dhani menyebut kasus Ahok lebih heboh daripada kasusnya. Sebab untuk kasus Ahok, banyak masyarakat yang melakukan demonstrasi. Karena itu, Dhani meminta agar jaksa tak menuntut lebih tinggi dari Ahok. 

"Saya minta kepada jaksa supaya menuntut saya jangan lebih dari Ahok. karena Ahok lebih berat lah. Masa Ahok udah bikin heboh se-Indonesia sampai jutaan orang datang ke Jakarta hanya untuk tuntut Ahok, (lalu) saya dituntut lebih dari Ahok, kan nggak mungkin. Secara logika itu kan menghina logika hukum Indonesia," tutur Dhani.

Kuasa hukum Dhani, Hendarsam mengatakan yang dimaksud Dhani meminta agar JPU tak menuntutnya lebih tinggi dari Ahok adalah apabila jaksa menilai cuitan Dhani berkaitan dengan kasus Ahok. "Yang dimaksud Ahmad Dhani. Kalau jaksa berangapan kalau cuitannya mas Ahmad Dhani ini dikaitkan dengan Ahok ya harusnya nggak bisa lebih berat dari Ahok dong. Kita nggak akui itu suatu kaitan. Tapi kalau dikaitkan dengan pemikiran jaksa seperti itu ya harusnya seperti itu nggak bisa lebih dari itu," ujar Hendarsam. 

Ahok diketahui dituntut hukuman satu tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun. Dhani menjelaskan terkait cuitan itu, menurutnya pelaku penista agama merupakan penjahat sehingga pendukung penista agama juga dimaknai penjahat. Ia mengumpamakan bila ada pelaku kejahatan seksual, ada pendukungnya maka dia juga termasuk penjahat.

"Maksudnya bajingan yang perlu diludahi mukanya apa?" tanya jaksa. "Ya karena penista agama itu bajingan. Pendukungnya ya bajingan juga. Misalnya ada pelaku pelecehan seks itu pendukungnya bajingan juga. Pelaku pengedar narkoba yang mendukung siapapun itu bajingan juga," kata Dhani.

Namun Dhani mengatakan maksud kata penista agama dalam cuitan itu tidak merujuk pada siapapun termasuk Ahok, melainkan pada siapa saja pelaku penista agama. Dalam persidangan itu Dhani juga mengaku berani bersumpah di atas Alquran. 

"Sebenarnya dalam bahasa saya jelas, siapa saja. Jadi siapa saja itu ya siapa saja. Tidak harus pendukungnya Ahok. Siapa saja yang mendukung penista agama karena di situ memang saya niatkan tulisan itu untuk semua orang. karena di dalam redaksinya pun memang siapa saja," ujarnya. 

"Jadi kalau saya boleh di kasih Alquran di atas kepala saya atau bermuhasabah (Dhani meralat menjadi Mubahalah-Red) bahwa kalimat itu tidak hanya di tujukan kepada pendukung Ahok tapi pada semua pendukung penista agama. saya siap bermuhabalah dengan siapa saja yang berani melawan saya bahwa apa yang dikatakan itu adalah untuk pendukung penista agama, bukan mereka yang melaporkan saya. Saya berani bersumpah bahwa itu ditujukan pada semua penista agama kalau saya bohong bisa saya mati kesambar petir dan keluarga saya nggak selamat," ungkapnya. 

Kemudian jaksa bertanya lagi ke Dhani mengenai pengetahuannya soal kisaran bulan Februari hingga Maret 2017 kasus apa saja terkait penistaan agama yang diketahuinya. Namun Dhani menjelaskan bila telah keluar fatwa MUI mengenai kasus dugaan penista agama maka kasus itu akan berlanjut di kasus pidana, hal itu merupakan pengalamannya pribadi saat terjerat kasus dugaan penistaan agama.

"Jadi saya harus menjelaskan, sebelum sampai ke Februari-Maret begini. Saya adalah orang yang pernah menjadi tersangka penistaan agama di tahun 2005. Saya pernah dilaporkan dan menjadi tersangka Yang mulia. Lalu yamg menjadi Kasubditnya waktu itu Kamneg namanya sodara Tito Karnavian, lalu Tito Karnavian bilang kepada saya, 'kasusnya mas Dhani ini tergantung MUI, kalo MUI bilang mas Dhani masuk unsur penistaan agama, maka kasus ini P21," ujar Dhani.

"Maka dari itu bulan Oktober 2016, MUI mengeluarkan pernyataan bahwa Ahok telah menistakan agama, buat saya secara konstruksi hukum, Ahok pasti didakwa dan menjadi terpidana. Karena itu Konstruksi hukum yg saya pahami berdasarkan pengalaman saya menjadi tersangka penista agama. Sehingga di bulan Februari itu, buat saya Ahok adalah penista agama, cepat atau lambat," imbuhnya.**

Sumber: detik.com

Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu

Titik Eceran Koran Harian Kaili Post Di Kota Palu
close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN