Sektor Strategis ‘Lahan’ Genderuwo Ekonomi

_

ISTILAH Genderuwo ekonomi yang dipakai Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dinilai sudah tepat. Genderuwo ekonomi itu disematkan kepada mereka yang berusaha untuk merusak ekonomi bangsa.

Mantan Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Said Didu juga memiliki definisi lain soal genderuwo ekonomi. Menurutnya, istilah itu lebih cocok disematkan kepada kelompok yang bertindak memainkan aturan untuk kepentingannya dan mempengaruhi kekuasaan serta mematikan orang lain.

“Nah jadi itu istilah saya untuk menyebut arti genderuwo itu. Kalau saya melakukan itu maka saya termasuk genderuwo,” ujar Said di Jalan Sriwijaya 35, Jakarta, Rabu (14/11). Mantan anggota DPR itu menyebut bahwa para genderuwo ekonomi banyak terdapat di sektor-sektor strategis seperti APBN, moneter, energi, dan pertambangan.

“Jadi ketiga tempat itu mereka sering bermain. Walaupun ada di sektor lainnya tapi yang paling terlihat di ketiga sektor itu,” terangnya.

Menurut Said, para genderuwo itu sulit ditangkap kendati pemerintahan silih berganti. Genderuwo atau biasa dalam bahasa lainnya adalah cukong mampu untuk mengatur dan mempengaruhi pemerintahan. “Genderuwo juga bisa berwujud cukong kekuasaan. Kekuasaan berganti tapi cukongnya tetap,” pungkasnya.

PANGAN MASALAH BANGSA
Pangan, kesehatan dan pendidikan menjadi masalah utama Indonesia saat ini. Kedua pasangan capres-cawapres juga harus fokus mengangkat ketiga tema tersebut.

Demikian dikatakan ekonom senior Dr Rizal Ramli di sela-sela konferensi persnya tentang solusi BPJS Kesehatan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (14/11). "Masalah pangan atau makanan, masalah kesehatan dan pendidikan ini tiga poin utama yang menjadi masalah di bangsa kita," ujar RR, sapaannya.
Dikatakan RR, baik kubu Joko Widodo-Ma'ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno seharusnya mengangkat tema itu dengan gagasan-gagasan yang cerdas. "Untuk seluruh pasangan calon seharusnya mencari solusi yang komprehensif terhadap masalah-masalah itu," tegasnya.

Sehingga, lanjut RR, kualitas demokrasi di Indonesia menjadi berbobot dengan dipenuhi oleh perang gagasan yang brilian. Sebaliknya, bukan justru perang kritikan yang tidak penting. "Jadi, yang diperdebatkan bukan-bukan hal yang tidak penting seperti cara berpakaian dan sebagainya. 3 hal itu masalah utama kita sekarang," tandasnya.** 

Sumber: rmol.co


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN