300 Desa di Sulteng Belum Nikmati Listrik

'
Reporter: Firmansyah

SESUAI Hasil sensus, ada 300 desa di Sulteng yang belum terakses  layanan listrik oleh PLN. Kemudian, ada 1.812 desa bisa mendapatkan sinyal ponsel, meskipun belum maksimal. 1.758 desa lainya, sudah bisa mengakses internet.

Sedangkan sejak 2014 hingga 2018, Sulteng mengalami ketambahan desa/kelurahan sebanyak 34 buah. Hal tersebut terangkum dalam press confrence Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng, Senin (18/12/2018). Total desa/kelurahan bertambah menjadi 2.020 buah.

‘’Jumlah tersebut, merupakan hasil pendataan sebelum terjadinya bencana alam tanggal 28 September lalu, Atau tepatnya di bulan Mei 2018 lalu, ‘’ ungkap Penjabat BPS, Wahyu Yulianto. Metodelogi pendataanya, menurut Wahyu, dengan mendatangi desa yang ada di Sulteng. Petugas sensusnya berasal dari BPS sendiri, dibantu aparat pemerintah setempat.  ‘’Tugas BPS adalah mendata semua informasi secara lengkap. Seperti berapa banyak fasilitas pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Baik di level desa, kecamatan hingga kabupaten, " jelasnya.

Sementara itu, desa yang tertinggal sebanyak 268 desa, 14,55 persen baik dari fasilitas pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya. Untuk desa berkembang, lanjut Wahyu, berjumlah 82,95 persen, atau 1.528 desa. Termasuk dalam kategori Mandiri, berjumlah 2,50 persen. Untuk industri mikro kecil yang ada di wilayah pedesaan Sulteng, kata Wahyu, sebanyak 51 persen, atau 1.033 desa yang memiliki usaha rumahan. Dengan estimasi pekerja kurang dari 20 orang. ‘’Menggunakan sumber daya alam. Seperti kerajinan dari kayu, rotan, " akunya.

Dari 2.020 desa yang ada di Sulteng, sebanyak 97 persen telah memiliki warung makan dan toko kelontong. Sedangkan yang memiliki infrastruktur pasar permanen, atau memiliki bangunan permanen, berjumlah 449 desa.

Khusus kesehatan, beber Wahyu, 1.150 desa sudah melakukan kegiatan Posyandu. Rumah sakit terdapat di 29 desa. Keberadaan Rumah sakit bersalin berada di tujuh desa. Penggunaan gas elpiji 3 kg sudah digunakan di 1.067 desa. Sementara itu,  sebanyak 92 persen penduduk desa sudah memanfaatkan jamban (MCK) sebagai fasilitas untuk BAB. Presentase dalam sektor pendidikan, seperti infrastruktur sekolah, minimal tingkat sekolah dasar,  telah  mencapai 90 persen.**






Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN