Direct Promotion Bangkitkan Wisata Sulteng

Kabid Pemasaran Dispar Sulteng, Nurhalis Lauselang

Reporter: Ikhsan Madjido

MUSIBAH Gempa bumi yang menimbulkan tsunami dan likuifaksi di Kota Palu, Sigi dan Donggala tentu saja berdampak terhadap tingkat kunjungan wisatawan. Namun hal itu tidak menghentikan langkah Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Sulawesi Tengah dalam menggaet wisman.

Kepala Bidang (Kabid) Pemasaran Dispar Sulteng, Nurhalis Lauselang mengatakan Sulteng memiliki banyak daerah wisata lain yang tidak terdampak dan aman untuk dikunjungi, misalnya Danau Poso dan air terjun Saluopa di Poso, Togean di Touna, dan wisata di Banggai, Balut dan Morowali.

“Strategi pemasarannya adalah dengan melakukan direct promotion bahwa tidak semua daerah wisata di Sulteng terdampak bencana. Dan hal ini mendapat respon positif dari Asita (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia-red) saat Dispar Sulteng menyelenggarakan direct promotion di Makassar,” ucap Nurhalis di ruang kerjanya, Selasa (4/12/2018).

Tindak lanjut kegiatan itu, kata Nurhalis, pihak Kemenpar turut merespon dengan mengikutsertakan wisata Sulteng pada direct promotion di Bali minggu ini.

“Wisman ketika mendengar wisata Sulteng pasti terbayang bencananya. Padahal tidak semua wisata kita terdampak bencana. Bahkan di Pasigala sendiri masih ada obyek wisata yang bisa dikunjungi, seperti di Tanjung Karang,” tambahnya. Namun di daerah Pasigala belum dapat diselenggarakan even wisata, kecuali di luar itu masih bisa. Misalnya mulai hari ini sampai 7 Desember di gelar even Festival Malabot Tumbe di Banggai Laut.

Sementara, Kadispar I Nyoman Sariadijaya mengungkapkan Dispar Sulteng akan fokus pada penanganan sumber daya manusia, penataan destinasi serta pemasaran atau promosi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, pasca bencana gempa dan tsunami pada Jumat (28/9). Tapi, implementasinya baru akan dilaksanakan setelah tahap tanggap darurat dan rehabilitasi selesai. Mendukung tagline Sulteng bangkit, pihaknya merencanakan paket wisata berupa Geowisata, yang berkaitan dengan mitigasi bencana.

“Daerah kita yang dilalui sesar paling aktif di dunia, Palu-Koro tentunya perlu diedukasi ke masyarakat tentang kewaspadaan dalam hal mitigasi bencana,” kata Nyoman Sariadijaya. 
Geowisata merupakan pariwisata minat khusus dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam seperti bentuk bentang alam, batuan, struktur geologi dan sejarah kebumian suatu wilayah dalam rangka mengembangkan wawasan dan pemahaman proses fenomena yang terjadi di alam.**


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN