.

.

GEMPA (katanya) LAGI



Oleh: Andono Wibisono

DAHSYAT Memang. Itulah pengaruh media sosial. Tanpa kontrol, tanpa sensor dan tanpa nilai dapat merobek-robek nalar, akal waras seseorang. Bahkan seorang yg dlm pandangan kita kaum intelektual.

Kriiingg....telpon saya berdering semalam menunjukkan pukul 23.04 Wita. ''Hallo, iya ada yang bisa dibantu bos,'' sapaku pada seseorang sahabat (rahasia namax). ''Eh bos benarkah akan ada gempa lagi besar tanggal 28 Desember yang tepat hari Jum'at. Apa ini tetangga rumah sudah banyak yang ngungsi ke Palolo dan lain-lain,'' cerocosnya dibalik telpon.

Saya antara percaya dan tidak bukan karena informasinya. Tapi karena dia sahabat yang kapasitas keilmuannya, dedikasinya, bahkan idiologi perjuangannya yang menurut saya sangat tidak mebenarkan 'informasi-informasi' sampah, sesat dan tak mendasar itu. saya hanya menjawab sekenanya, ''Suruh Syahadat ulang kalau sudah ketakutan begitu,'' jawabku sambil tertawa ke penanya.

Memang, siapapun tidak dapat mengontrol dahsyatnya informasi di era akhir abad 21 ini. Kita seharian dapat menerima jutaan bahkan triliunan informasi dari sebuah tehnologi mutakhir tanpa kendali. Baik itu mulai dari informasi menumbuhkan cepat rambut di kepala botak, informasi soal ramainya freeport diakuisisi sampai dengan informasi tahyul dan musyrik memapar seluruh layar saku (HP) kita.

Dalam sepekan ini, kabar bakal akan ada gempa susulan lebih dahsyat dari 28 September akan terulang di tanggal 28 Desember mendatang. Beberapa grup medsos baik WA atau telegram pun ramai membahas ini. Sontak, kabar ini banyak memberi dampak keresehan di masyarakat. BMKG atau pihak berwenang pun belum ada yang memberikan keterangan, atau setidaknya informasi yang menenangkan. Publik pun makin resah, susah akibat gempa 7,4 SR, pilu karena masa depan dan kekuatiran mulai menghantui, gelisah setiap malam karena kriminalitas mulai merajalela.

Ada sebuah kata bijak mengingatkan saya, ''Kemiskinan & Kebodohan adalah dasar Kegelisahan, Ketidakmampuan bernalar secara akal, dan lebih menyedihkan dasar kealpaan pada Tuhannya ''

28 Desember 2018, tepat empat bulan pasca bencana gempabumi, tsunami dan likuifaksi. Pemerintah kembali memperpanjang masa Transisi Darurat hingga 60 hari lagi (23 Pebruari 2019), Hunian sementara di Desa lende Sirenja merobek hati karena dibangun di atas lahan yang setiap malam mendapat kiriman banir Rob, Pengungsi di Pasigala (Palu, Sigi dan Donggala) benar benar belum Berdaya, Sembako di Posko mulai Menipis, angka Kriminalitas mulai marak setiap hari, pengangguran mulai tinggi, daya beli mulai menurun. Intinya Pasigala belum PULIH....

Kalau sebelumnya gempabumi, tsunami dan likuifaksi dihubungkan dengan ayat 37 Al Ankabut yaitu soal kesyirikan kaumnya pada Nabi Suaib.

Maka coba kembali hubungkan bila memang 28 Desember (12) artinya; 28 + 12 = 40. Ayat 40 dalam Al Qur'an dapat dijumpai di beberapa surah. Bila merujuk pada surah Al Baqoroh ayat 40 menyoal tentang perintah untuk Beriman.

Bila dikaitakan dengan surah ke 40 yaitu juga masih terkait dengan ''Al Mukmin'' yaitu disebutkan ''Al-Mu'min secara bahasa berasal dari kata amina yang berarti pembenaran, ketenangan hati, dan aman. Allah SWT al-mu'min artinya Dia Maha Pemberi rasa aman kepada semua makhluknya, terutama manusia.'' Begitu juga dalam surah ke 40 ayat ke 40 masih menjelaskan tentang apa itu Al Mukmin. JELAS Bila kita seorang Mukmin, maka percayalah kepada Allah SWT bukan kepada selain Allah.

Sebagi seorang muslim, kita diwajibkan untuk selalu mawas diri, terlebih di akhir zaman. bukan saja soal bencana, tapi soal apapun yang ada di alam dunia. Kita wmawas diri untuk selalu istiqomah pada ajaran Baginda rosul manusia Agung Muhammad SAW. Menjaga sunnahnya, Menyayangi seluruh anak keturunannya dan serta selalu berserah pada Takdir & Qodho Allah SWT.

SEMOGA TULISAN INI DAPAT MENJADI PENENANG HATI (surah ke 40 Al Qur'an) bagi kita semua sahabat, saudaraku di bumi PASIGALA

wassalam
26 Desember 2018


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN