Kasus BBR Donggala Belum Ada Tersangka

'

Reporter/Donggala: Syamsir

KASUS Dugaan korupsi proyek pembangunan rumah layak huni dengan bantuan bahan bangunan rumah (BBR) TA 2017 senilai Rp1,3 miliar masih belum ada tersangkanya. Padahal, pihak Kejaksaan Negeri Donggala nyaris setahun sudah melakukan penyelidikan kasus tersebut.

Pihak Kejari Donggala melalui Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Donggala Palupi Wiryawan (5/12/2018) menegasi bahwa pihaknya masih terus mengembangkan penyelidikan. Sudah banyak saksi yang dipanggil untuk dimintai keterangan.

‘’Belum lama ini kami sudah dilakukan pemeriksaan saksi, ada dua puluh saksi yang sudah kami mintai keterangan hingga hari ini untuk melengkapi berkas perkara, ” terangnya mengklarifikasi.

Hanya saja, kata  Palupi Wiryawan, pihaknya belum dapat memberikan keterangan secara detail, siapa saksi yang diperiksa termasuk 20 orang yang telah selesai jalani pemeriksaan. ‘’Untuk kepentingan penyidikan maaf kami tidak bisa membeberkan, kalau mau besok saja datang kemari lagi langsung liat sendiri orangnya apakah dari kalangan pejabat atau kontraktor,” tandasnya.

Palupi mengelak bahwa pihaknya tidak serius menangani perkara tersebut. ‘’Pasti akan ada penetapan tersangka. Lebih bagusnya lagi jika sudah ada yang ditetapkan tersangka teman-teman (wartawan) bisa datang dengan kami, untuk perkara ini sabar saja ya, pasti kami seriusi,” ujarnya meyakinkan.

Selain itu, Palupi juga belum memberikan keterangan pasti mengenai calon tersangka dalam kasus BBR tahun anggaran 2017 itu. Namun yang pasti kata dia, pihaknya telah menemukan dua alat bukti hingga kasus tersebut naik ke status yang sebelumnya penyelidikan ke penyidikan.

“Nanti kita lihat calon tersangka siapa,” jelasnya. Diketahui, proyek BBR itu dikerjakan oleh CV. Mandiri Sulteng dimana rekanannya adalah Hj. Halima dan Andi Baso yang sebelumnya juga telah memenuhi panggilan jaksa untuk diperiksa.

Dalam temuan adanya dugaan tipikor itu, berdasarkan spek rekanan hanya menyuplai barang bukan membangun rumah, tetapi fakta di lapangan rekanan membangunkan rumah untuk warga, sehingga ada yang dibangun dan ada yang tidak dibangun.

Kondisi inilah yang mengakibatkan sebagian warga penerima mengeluhkan bantuan tersebut. Berdasarkan data yang dihimpun Sulteng Raya menyebutkan, ada dugaan tipikor dalam proyek tersebut.
Kasus ini juga mencuat setelah banyaknya masalah di lapangan, salah satunya di Desa Lero, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala. Dimana anggaran BBR yang melekat di Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Donggala belum sepenuhnya dinikmati oleh warga penerima bantuan.

Selain itu, juga banyaknya bantuan yang tidak tersalurkan dengan baik ditengah masyarakat, seperti kayu yang digunakan untuk bangunan rumah itu juga diduga tidak sesuai SPEK. Diketahui, terdapat tujuh kecamatan yang menerima bantuan BBR di Donggala, dimana tiap unit rumah mendapat Rp20 juta dan sebanyak 106 Kepala Keluarga (KK) yang mendapat BBR itu.**



Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN