KKP Targetkan Penangkapan Ikan 7,71 Juta Ton

-
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia menargetkan penangkapan ikan untuk tahun 2018 sebanyak 7,71 juta ton. "Kami berupaya agar target tersebut dapat tercapai sebelum masuk tahun 2019," kata Sekretaris Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan, Yuliadi, di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Pernyataan itu disampaikannya dalam acara penyerahan klaim asuransi dan pemberian kartu nelayan kepada nelayan Donggala di Desa Wani I, Kecamatan Tanantovea, didampingi Bupati Donggala Kasman Lassa, Kepala PT Jasindo Cabang Palu Rahmat S Manoppo, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Donggala Ali Assegaf, Kepala PMI Surabaya Tri Wahjoedi di bekas wilayah terdampak tsunami pesisir pantai desa itu, Kamis (29/11/2018) sore.

"Itu target secara nasional, muda-mudahan tercapai," kata Yuliadi disela-sela acara pemberian klaim asuransi kepada nelayan Donggala itu. Terkait target itu, kata dia, sampai saat ini yang telah tercapai sebanyak 6,71 Juta ton secara nasional. Target tersebut disesuaikan dengan jumlah nelayan secara nasional sekitar 2,6 juta, dengan kapal nelayan sebanyak 560ribu kapal.

"Berdasarkan data maka jumlahnya cukup banyak. Dengan tidak adanya kapal asing yang menangkap ikan di laut Indonesia, maka diharapkan nelayan Indonesia dapat bekerja, menangkap ikan dengan baik dan maksimal," ujar dia.

KKP, sebut dia, juga berharap agar nelayan termasuk di Donggala, Sulawesi Tengah, perlu diberikan pemahaman dan pelatihan tentang mitigasi bencana, sebagai bentuk pencegahan korban. ‘’Kami mohon dengan sangat agar kedepan dapat disosialisasikan kepada masyarakat, nelayan, terkait dengan gempa, tsunami dan mitigasi," katanya.

Pemberian pemahaman itu, kata dia, sangat penting sehingga ketika terjadi bencana gempa dan tsunami, masyarakat termasuk nelayan bisa menyelamatkan diri. "Kalau bencana terjadi lagi, masyarakat bisa menghindar, bisa mengantisipasi, sehingga tidak ada korban jiwa saat dan pascabencana," ujar Yuliadi.

Sebelumnya, Sejumlah nelayan di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, membutuhkan alat penangkap ikan untuk menunjang kegiatan mereka pascabencana gempa dan tsunami di daerah tersebut. "Saya mendengar langsung keluhan yang mereka sampaikan kepada saya. Intinya mereka butuh alat penangkap ikan," ucap Anggota DPRD Sulawesi Tengah Muh Masykur terkait pembangunan kesejahteraan korban gempa dan tsunami Donggala khususnya nelayan, Selasa.

Masykur mengemukakan pascabencana gempa dan tsunami sejumlah nelayan di Kabupaten Donggala mendesak pemerintah daerah segera mengupayakan program pemulihan terhadap nelayan. Khususnya bagi mereka yang kini tidak lagi memiliki alat tangkap. Kondisi itu, merata di hampir seluruh wilayah kecamatan yang porak poranda disapu bersih tsunami.

Bencana tsunami yang menghantam beberapa kecamatan di Donggala pada Jumat 28 September 2018 petang berdampak kerusakan alat tangkap nelayan. Seperti di wilayah pesisir Kecamatan Tanantovea, Sindue, Sindue Tobata, Sindue Tombusabora, Sirenja dan Banawa serta di beberapa wilayah lainnya, alat tangkap nelayan rusak total.

Dalam kondisi seperti itu mestinya sedapat mungkin pemerintah daerah bergerak cepat. Hal yang urgen segera dipastikan adalah penguatan data. Data menjadi sesuatu yang wajib dipastikan keakuratannya oleh pemkab.

Ketua Fraksi Nasdem di DPRD Sulteng itu menyebut nelayan kita saat ini butuh difasilitasi alat tangkap agar dapat memiliki sumber penghasilan dan secara perlahan menata kehidupan baru. Sebab, rumah hancur dan kini hidup di tenda pengungsian.

Sementara itu, Abdullah, salah satu nelayan Desa Lero Kecamatan Sindue mengaku akibat gempa dan tsunami rumah dan alat tangkap yang dimilikinya hilang tanpa bekas. Tidak ada lagi yang tersisa.

"Kini saya dan keluarga harus memulai dari nol lagi. Harus bertahap memang. Tidak bisa tidak mesti dilalui. Tinggal kuncinya ada di pemerintah daerah. Jika ditanya apakah kami sudah siap bekerja dan kembali melaut, kami jawab iya karena mau sampai kapan kami begini," akui Dullah, sapaan akrab Abdullah.

Bagi Dullah bencana alam Jumat petang itu menyisakan banyak cerita duka selamat dari terjangan tsunami dengan hanya baju di badan. Bersama keluarga kini hidup di tenda pengungsian Lapangan Sanggola, Dusun 01 Pompaya, Desa Lero.

Hal yang sama juga dialami Aspar. Aspar merupakan salah satu nelayan dari Desa Tanjung Padang Kecamatan Sirenja. "Jangankan rumah, perahu, mesin ketinting serta perlengkapan alat tangkapnya tidak terselamatkan. Syukurlah alhamdulilah kami masih selamat dari bencana kemarin," sebut Aspar. Masykur mendesak Pemkab Donggala ?gerak cepat fokus kerja pemulihan ekonomi warga korban. Hal demikian dimaksudkan agar dapat menjadikan ekonomi warga mulai tumbuh kembali.**


Sumber: antaranews sulteng


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN