Reo: Lahan Huntap Balaroa Belum Ada


 
Wakil Ketua Dekot Erfandi Suyuti 
Reporter: Firmansyah

WAKIL KETUA Dekot, Erfandi Suyuti atau akrab disapa Reo menegasi agar pemerintah kota (Pemkot) melakukan pembebasan lahan untuk persiapan mendirikan hunian tetap (Huntap) yang diperuntukkan bagi pengungsi, khususnya warga Balaroa korban likuifaksi.

Hal itu ditegaskanya di rapat Paripurna bersama Pemkot dengan agenda laporan Panitia Khusus (Pansus) atas RAPBD tahun 2019, serta Rapperda perlindungan dan pemberdayaan tena kerja lokal, pekan lalu.

‘’Atas pengaduan masyarakat Kelurahan Balaroa yang terdampak likuifaksi, Saya berharap agar hal ini menjadi rekomondasi resmi dari legislatif untuk pemerintah kota, agar disikapi dengan bijaksana dan direalisasikan pelaksananya" pungkasnya.

Menurut Reo, keinginan warga Kelurahan Balaroa agar Huntap dibangun diatas lokasi eks Likuifaksi selain di tempat sport center. Selain itu, lahan untuk pembangunan ruang kelas sementara bagi murid yang sekolahnya telah hancur akibat Likuifaksi, masih menggunakan lahan pinjaman dari warga selama setahun.

" Untuk status tanah pembangunan sekolah sementara masih bersifat pinjam pakai saja. Karena tanah tersebut milik masyarakat. Olehnya kami berharap agar hal ini dianggarkan di APBD 2019, jika tidak dianggarkan, dapat dipastikan tahun depan,  proses belajar dan mengajar anak murid sekolah.tidak terlaksana dengan baik,  " ungkap Reo.

Ditambahkanya, fasilitas kesehatan Puskesmas bagi masyarakat Balaroa yang juga telah hancur, menjadi prioritas untuk dianggarkan di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah tahun 2019. Selanjutnya, pemenuhan jatah hidup (Jadup) serta jaminan layanan kesehatan bagi ibu, anak dan lansia yang tentan terhadap penyakit di pengungsian.

Disamping itu, pemerintah juga menyikapi tanggul penahan ombak yang telah hancur akibat terjangan Tsunami di sepanjang teluk Palu agar di lokasi tersebut, ditanami Mangrove. Bertujuan untuk memecah ombak, Abrasi maupun mengurangi resiko dampak dari Tsunami. " Ini juga merupakan aspirasi dari masyarakat, untuk menanam Mangrove, atau hutan bakau di teluk Palu, " beber Reo.

Dalam pemberitaan media ini beberapa waktu lalu, tercatat 317 kk, dengan total sebanyak  1060 jiwa, mendiami Shelter yang berada kurang lebih 500 meter dari lokasi Likuifaksi, berbatasan langsung dengan Kecamatan Kino Vara, Kabupaten Sigi.

Selain itu, terhitung 200 jiwa warga Balaroa masih tercatat dalam daftar tunggu di Shelter tersebut. Diakibatkan tidak tersedianya lahan untuk mendirikan tenda sementara. Karena lokasi di sekeliling Shelter tersebut bukan milik pemerintah, melainkan masyarakat.**



Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN