Tiga Korban Penembakan Papua Asal Morut

Tiga Korban Penembakan OPM berasal dari Morut - Sulteng   
Reporter/sumber: Pariaman tambunan/liputan6.com

31 KORBAN Penembakan oleh juru bicaranya dari Inggris bertujuan untuk “Papua Merdeka’  ternyata ada putra Kabupaten Morowali Utara (Morut) Sulawesi Tengah. Ketiganya adalah, Yusran, Aris, dan Yosafat. Ketiganya adalah karyawan PT Istaka Karya itu tiba di Desa Bunta Kecamatan Petasia Timur. Korban disemayamkan keluarga dan akan dikembumikan di pekuburan umum di desanya.

Sebelumnya, Yasofat dan Aris tiba di Palu sekitar pukul 06.40 wita menggunakan pesawat Lion Air JT781 dan langsung dibawa menuju Cargo Wire House bandara. Sementara Yusran tiba sekitar pukul 12.15 wita menggunakan Batik air ID 6232.

Setelah jenazah Yusran tiba, ketiganya langsung dibawa menggunakan ambulance menuju Desa Bunta, Kecamatan Petasia Timur, Morowali Utara. untuk dimakamkan. "Secepatnya kami akan makamkan, rencananya besok, karena jenzah sudah mulai membusuk," kata pihak keluarga, Daniel kepada sejumlah wartawan. Sebelumnya, ketiga jenazah diterbangkan dari Timika pada Jumat, 7 Desember 2018 kemarin.

Ketiga korban tersebut sebelumnya tiba di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar bersama 14 korban lainnya yang berasal dari Kabupaten Tanatoraja, Sulsel, dan Medan Sumatera Utara serta Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sementara itu, tangis haru menyelimuti keluarga korban penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Nduga, Papua Barat, saat menjemput jenazah di Pangkalan Udara (Lanud) Sultan Hasanuddin di Makassar, Jumat 7 Desember 2018.

Jenazah diturunkan dari pesawat Hercules Tipe 1331 di bandara setempat menuju mobil ambulans. Terlihat sebanyak 14 peti jenazah diturunkan dari total 16 peti jenazah yang dibawa dari Papua sesaat tiba di Lanud Sultan Hasanuddin.

Jenazah diterbangkan dari Bandara Mozes Kilangin Timika, Jumat, dan tiba di Lanut Hasanuddin pukul 18.05 WITA.

Sedangkan dua peti jenazah lainnya akan diterbangkan ke Jakarta, selanjutnya diterbangkan menggunakan pesawat komersil menuju Medan, Provinsi Sumatera Utara.

Nurhaida Lenteng (41), ibunda Muhammad Agus korban penembakan asal Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan ketika menjemput jenazah anaknya terlihat syok berat dan matanya terus berkaca-kaca. Sesekali terisak dan menangis saat menyentuh peti jenazah.

"Saya masih bersyukur anak saya masih ditemukan meski sudah meninggal. Kami ikhlas menerima takdir ini, terima kasih kepada pak tentara dan polisi mau membantu memulangkan anak kami," tutur Nurhaida dilansir Antara.

Sementara Rifka, keluarga Alipanus korban penembakan lainnya asal Kabupaten Toraja, Sulsel terlihat sedih dan tidak kuat menahan rasa haru. Meski demikian pihak keluarga menyatakan tabah dalam menghadapi cobaan.

Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Sultan Hasanuddin, Mayor Sus Henny Purwani mengatakan, jumlah peti jenazah yang diturunkan dari pesawat hercules sebanyak 14 peti jenazah.

Dengan rincian satu ke Kabupaten Gowa, satu di Kota Makassar. Selanjutnya, tujuh peti jenazah di bawa ke Tana Toraja (Tator), tiga di bawa ke Kota Palu, Sulawesi Tengah, masing-masing satu di Balikpapan Kalimatan Timur dan satu di Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Sisanya ada dua peti akan dibawa ke Jakarta, selanjutnya di bawa ke Medan, Sumatera Utara. Untuk Palu dan NTT dibawa menggunakan layanan kargo menggunakan pesawat komersil, sedangkan korban penembakan asal Tator menggunakan jalur darat begitupun Makassar dan Gowa," tambahnya.

Laporan dari kepala kampung di Yigi, Papua, menyebut adanya serangan udara dan bom dari TNI terhadap Kriminal Bersenjata (KKB) yang mengakibatkan sejumlah warga sipil tewas. Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi menegaskan informasi tersebut tidak benar.

"Kami perlu tegaskan di sini bahwa TNI tidak pernah menggunakan serangan bom, TNI hanya menggunakan senjata standar pasukan infantri yaitu senapan perorangan yang dibawa oleh masing-masing prajurit," kata Aidi lewat siaran pers, Minggu (9/12/2018).

Aidi menyatakan, proses di lapangan dapat disaksikan langsung bahwa alutsista digunakan TNIhanya helikopter angkut jenis bell dan MI-17, dan tidak ada helikopter serang apalagi pesawat tempur atau pesawat pengebom.

"TNI juga hingga saat ini belum pernah melakukan serangan, sebaliknya pada saat melaksanakan upaya evakuasi justru merekalah yang menyerang Tim Evakusi sehingga terjadi kontak tembak dan mengakibatkan satu orang anggota Brimob menderita luka tembak," jelas dia.
Propaganda

Aidi menerangkan, lokasi pembantaian di bukit puncak Kabo adalah kawasan hutan yang terletak sekitar 4-5 km dari pinggir kampung terdekat. Karenanya, bila ada laporan telah jatuh korban akibat kontak tembak tersebut maka dapat dianalisa korban bukan warga sipil murni tapi mungkin saja mereka adalah bagian pelaku yang telah melaksanakan pembantaian.

Segala pernyataan tentang jatuhnya korban sipil, serangan bom dan istilah zona tempur, tegasnya, hanyalah upaya propaganda pihak KKB untuk menggiring opini publik guna memojokkan TNI-Polri.

"Jadi seolah-olah TNI-Polri yang telah melakukan tindakan pelanggaran HAM, sedangkan mereka yang telah membatai puluhan orang warga sipil yang tidak berdosa seakan-akan bukan suatu kesalahan dan ingin mencari pembenaran," Aidi memungkasi. ***


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN