.

.

Ngopi Pilpres: PARNO VISI & MISI

.

OLEH: ANDONO WIBISONO

AYO NGOPI – ngomongin politik; di pemilihan presiden Republik Indonesia 2019 yang sisa efektif tiga bulan; adalah tulisan ringan setiap hari. Temanya tentu yang menjadi opini publik yang kerennya ‘viral’ Ini demi pendidikan politik, tentunya bagi pembaca dan penulis. Yaitu menulis itu menorehkan tinta khasanah abadi untuk sebuah peradaban dunia yang lebih terang.
---------------------
VISI adalah sebuah pandangan yang akan dituju oleh seseorang; begitu sederhananya. Visi juga dapat dipersepsi mirip dengan empati; kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain sehingga seseorang menghasilkan sebuah pandangan untuk masa depan. Ketajaman penglihatan. Pandangan atau kemampuan merasakan itu harus terukur. Bukan angan-angan, bukan ilusi atau bahkan karena mabuk ekstasi.

Pun demikian dengan misi. Menurut pandangan sederhana saya; misi adalah tugas atau kewajiban yang harus dilakukan seseorang. Biasanya ini soal strategi. Saya harus beli mobil 2020. Itu Visi saya, terukur setahun (2020). Misinya, atau strateginya selama 2019 itu apa saja kewajiban yang harus saya lakukan agar tercapai beli mobil 2020. Sederhanakan? Tidak memusingkan. Tidak serumit politisi yang terperangkap dengan diksi-diksi yang ditulisnya sendiri.

Sudah barang tentu, dalam sebuah kontestasi politik nasional dengan jumlah rakyatnya 260 juta, patut dan wajar visi dan misi seorang calon pemimpin harus diuji (dikritisi) oleh publik. Mau apa selama lima tahun? mau diajak kemana rakyat hingga 2024.

Bagi Jokowi, sebagai petahana sudah barang tentu visinya Indonesia hebat, revolusi mental dan seterusnya itu yang ditagih pada persimpangan Pilpres kali ini. Wajar publik bertanya. Apa membangun infrastruktur dari hutang itu revolusi mental? Apa iya itu Indonesia Hebat? Wajar rakyat pemilik kedaulatan bertanya. Ini konsekwensi kita semua akibat amandemen UUD 1945.

Bagaimana dengan Capres Prabowo – Sandi. Sebagai penantang pasti banyak diuntungkan. Istilah dalam permainan bola bermain tanpa beban menggotong visi dan misinya. Kali ini Capres ini mengusung Indonesia Adil dan Makmur. Ayo kritisi itu. tiap tahun apa strateginya agar mencapai keadilan? Mencapai kemakmuran? Apa yang akan dilakukan keduanya. Adil di bidang apa dulu? Terus makmur itu tiap tahun apa parameternya? Kemiskinan menurunkah setiap tahun? meningkat IPM kah setiap tahunnya? Kan demikian kalau kita ingin peradaban politik bangsa ini lebih maju.

Polemik soal debat penyampaian visi dan misi di Pilpres kali ini hemat saya paling konyol. Meniadakan debat soal visi dan misi Capres dan Cawapres dalam satu sesion adalah sebuah kemunduran. Rakyat butuh pengetahuan, butuh agar dapat bernalar untuk menentukan pilihan siapa dari dua Capres – orang terbaik di negerinya ini; yang visi dan misinya sesuai dengan akal sehatnya.

Debat visi dan misi sangat penting. Untuk menguji kebenaran visi seseorang atas masa depan RI lima tahun ke depan. Misinya untuk mencapai visi selama lima tahun. Debat itu sehat. Karena itu budaya intelektual. Sepaham-pahamnya sahabat akan pikiran kita, pasti akan lebih paham diri kita akan jalan pikiran kita sendiri. Kalau bisa kita menyampaikan jalan pikiran kita, mengapa harus orang lain? Walaupun mungkin orang lain akan lebih memperbaiki keindahan jalan pikiran kita.

Pilpres 2019 harus jadi perubahan peradaban politik Indonesia lebih baik. Bukan malah lebih konyol. Lebih ortodok, kuno bahkan bahlul. Publik ingin kedua Capres ini adu gagasan yang sehat, bukan menyerang SARA, publik ingin keduanya melihat dengan ketajamannya menghadapi ancaman global? Persaingan industri era 4.0, soal-soal proxy war, soal ketahanan dan kemandirian pangan misalnya.

Maju dan miskinnya negara bukan ditentukan usia negara itu. banyak contoh di dunia. India dan Mesir usianya lebih 2000 tahun, majukah negara itu? Coba anda bandingkan dengan Singapura, Kanada, Australia dan terakhir yang menajubkan New Zealand. Umurnya kurang dari 150 tahun tapi miskinkah?

Jepang? Miskin sumber daya alam (80 persen pegunungan), apa jadi negara pengutang-utang? Apa yang terjadi dengan Jepang? Sekarang negara sakura itu kekuatan ekonomi nomor dua di dunia. Swiss, tidak punya perkebunan coklat tapi coklatnya terbaik di dunia. Ini fakta dunia. Apa yang bisa merubah itu semua? Sikap, attitude masyarakat negara itu. Lalu apa perilaku pemimpinnya selanjutnya.

Akhirnya, adu nalar visi dan misi tidak perlu ditakuti. Sebaiknya justeru harus dipertarungkan untuk melihat mana dari kedua Capres ini yang tajam pengelihatannya, mana yang lebih empati ke rakyatnya, mana yang lebih tepat cara pandangnya. Serahkan rakyat pemilik kedaulatan untuk menilai. Tampilkan keduanya depan layar kaca. (penulis adalah wartawan politik di Sulawesi Tengah sejak tahun 2000).**  



Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN