Telan Biaya 3,3 M, Masjid Perpaduan Adat Tambi & Aceh


Reporter: Firmansyah Lawawi
MASJID Jami’ Nurul Hasanah Aceh di Kelurahan Pengawu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang rusak akibat gempa 28 September 2018 lalu, pada Rabu (13/02/19) dimulai kembali pembangunannya dengan ditandai peletakan batu pertama yang dilakukan oleh  Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah didampingi Bupati Kabupaten Pidi Provinsi Aceh, Bupati Bener Meriah Provinsi Aceh, Wali Kota Sabang Provinsi Aceh, bersama Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Drs.Moh Hidayat dan Asisten I Bidang Pemerintahan, Kesra Kota Palu yang mewakili Walikota Palu.

Dengan menelan anggaran Rp3,3 milyar yang merupakan sumbangan masyarakat dan pemerintah Nangro Aceh Darusallam (NAD), Masjid Jami’ Nurul Hasanah Aceh, nama baru masjid ini, dibangun dengan desain atau rancangan perpaduan arsitektur rumah adat Tambi dan Aceh.
Peletakan Batu Pertama oleh Plt Gubernur Aceh Masjid Jami’ Nurul Hasanah Aceh di Kel Pengawu 
Menurut konsultan pembangunan masjid Dr Ing. Widyo Wijadnoko strukturnya dibuat menyerupai dua buah proporsi yang menjadi satu menjadi satu bangunan yang besar, dan struktur bangunan yang dibuat dalam istilah asingnya hipernolid paraboloid atau sturktur pipa ini di buat yang pertama kali di Indonesia.

“Kita hanya menggunakan struktur satu lapis dengan batang–batang yang lurus akan membentuk struktur lengkung dibagian tengah. Dengan strukur bangunan seperti ini kami berharap bisa menjadi obyek wisata religius dan menjadi berkah bagi lingkungan sekitar,” kata dosen arsitektur ITB ini. Bangunan masjid seluas 20×20 meter persegi ini ditaksir menampung jamaah sebanyak 420 orang.

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah menargetkan masjid ini selesai sebelum Ramadhan tahun depan (2020) dan dapat dimanfaatkan masyarakat dalam bulan Ramadhan.
Indoor Lay Out Masjid Jami’ Nurul Hasanah Aceh di Kelurahan Pengawu
“Masjid ini nantinya menggunakan kayu-kayu pilihan yang ada di Sulawesi Tengah. Memilih kayu karena dinilai akan lebih tahan gempa dan sudah direkomendasikan pakar atau arsitek,” kata Nova Iriansyah.

Sulteng dan Aceh, tutur Nova Iriansyah, terletak di kawasan rawan bencana atau yang lebih di kenal dengan istilah ring of fire (cincin api). Meski demikian tidak perlu trauma dengan kondisi ini, sebaliknya harus menyikapinya dengan cara bijaksana melalui peningkatan pengetahuan di bidang kebencanaan, memperluas wawasan kita tentang metigasi bencana.

“Dengan demikian kita tau cara-cara efektif dalam menyikapi bencana, menanggulanginya sehingga efek kerugian dari bencana tersebut dapat diminimalisir,” terangnya.

Sekretaris Provinsi Sulawesi Tengah Hidayat Lamakarate menyampaikan rasa hormat dan terima kasih dari Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola.
Maket Masjid Jami’ Nurul Hasanah Aceh di Kelurahan Pengawu
 “Mudah-mudahan dengan bantuan ini akan semakin mempercepat kebangkitan masyarakat di wilayah terdampak bencana. Juga semakin rajin beribadah di masjid,” kata Hidayat Lamakarate.

Peletakan batu pertama turut dihadiri unsur Forkompimda Pemkot Kota Palu dan beberapa pejabat teras Pemprov Sulteng, antara lain, Kadis Sosial Prov Sulteng, Karo Humas & Protokol Setda Prov Sulteng, rombongan dari Propinsi Aceh, tokoh adat, agama, tokoh pemuda setempat dan dihadiri berbagai lapisan masyarakat yang antusias ingin melihat peletakan batu pertama tersebut.**






Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN