Taman Nasional Togean Makan Korban


Reporter: Ramdan Otoluwa

MASALAH Yang timbul akibat penetapan suatu kawasan menjadi Taman Nasional (TN) dalam operasonalnya selalu penuh dengan praktek kekerasan dan tindakan hukum yang terkesan anti dengan masyarakat lokal.

Seperti yang juga terjadi di Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKP) yang ditetapkan tahun 2004 ini, memakan korban masyarat Desa Patoyan, Kabupaten Tojo Una-Una (Touna).

Salah satu advokat kondang di Sulteng, Edmond Leonardo Siahaan, SH MH mengungkapkan warga yang bernama Demarius Baramboa yang saat ini sedang dalam tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Touna sudah 1 tahun tepat tanggal 15 Maret 2019 nanti, karena menebang 1 pohon di dalam kebunnya sendiri.

Demarius Baramboa ditangkap Tim Gabungan dari Kementerian, Polda Sulteng, Polres Touna, Polsus dan TNKT. Dia dituntut 2,6 Tahun dan divonis 1,6 Tahun.

“Penegakan hukum seperti apa yang terjadi saat ini? Ketika masyarakat menebang kayu di kebunnya sendiri, kemudian dijebloskan ke dalam penjara. Sementara pengusaha-pengusaha kayu dibiarkan saja,” cetus Edmond penuh tanya.

Kasus seperti ini, tutur pengacara ini, terjadi hampir disemua desa yang masuk TNKP. Masyarakat yang selama ini mengambil kayu untuk bahan membuat perahu, selalu didatangi oleh aparat Polisi dan Polsus yang bersenjata api lengkap.

Ditambahkannya, ada juga kasus yang terjadi di antara Desa Molowagu Tumbulawa, dimana jalan yang selama ini selalu dilintasi warga akhirnya dilarang untuk dilintasi karena jalan tersebut selalu dilalui babi hutan.

“Oleh karena itu, sebaiknya keberadaan TNKT ini harus dihentikan, karena memang sejak awal tidak melibatkan masyarakat lokal secara maksimal dalam penetapannya,” tandasnya. 

Penetapan TNKP berpandangan seakan-akan pulau-pulau di Togean tidak berpenghuni, hal ini akan semakin parah kalau zonasi-zonasi makin membatasi ruang gerak masyarakat lokal dengan ancaman penegakan hukum yang serampangan dan intimidatif. 

“Saya juga meminta dengan tegas agar senjata api milik Polsus yang menjaga TNKT, termasuk yang dimiliki TNKT ditarik, kemudian perizinannya diperiksa apakah ada izin dan pelatihannya,”

“Cukup sudah peristiwa hilangnya nyawa warga yang terjadi di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) beberapa tahun lalu akibat penggunaan Senjata Api ini,” tegas Edmond Leonardo Siahaan.**




Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN