Tolak Tanggul Teluk Palu, Petisi


Reportase: Ikhsan Madjido

SEJUMLAH Elemen masyarakat di Kota Palu, Sulawesi Tengah, menolak rencana pembangunan tanggul di pesisir Teluk Palu sepanjang 7 kilometer. 

Tanggul laut yang akan dibangun dilintasi oleh retakan permukaan (surface rupture) Patahan Palu Koro. Sebelum tsunami datang menerjang, tanggul itu akan berpotensi dihancurkan duluan oleh gejala penurunan (downlift) atau penaikan (uplift) permukaan tanah akibat gempabumi.

Itu salah satu alasan tertuang dalam petisi daring situs change.org menolak tanggul pelindung Teluk Palu.
“Harus ditolak karena tidak mendengar suara warga. Tidak partisipatif,” ujar Neni Muhidin, penggagas petisi.

Petisi ini juga dipicu pernyataan Ketua Satuan Tugas Penanganan Bencana Sulawesi Tengah, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Arie Setiadi Moerwanto yang mengatakan kondisi pesisir Teluk Palu tak memungkinkan ditanami Mangrove (Kompas, 5 April 2019).

Pernyataan itu menanggapi kritik atas rencana pembangunan tanggul di Teluk Palu yang mengajukan gagasan pengembangan hutan bakau untuk mitigasi atas ancaman tsunami. Kabonga, di arah barat teluk terselamatkan pada petang 28 September 2018 karena ekosistem mangrove yang tumbuh dan dipelihara warga yang tinggal di desa pesisir itu menghadang datangnya terjangan tsunami.

“Pernyataan Arie di atas ahistoris, tidak melihat fakta sejarah ekosistem mangrove yang tumbuh di pesisir Teluk Palu sejak lama,” tambah Neni Muhidin.

Selain fakta sejarah vegetasi dan toponimi, Pembangunan tanggul yang berbiaya besar itu, menurut Neni dibangun dengan skema utang luar negeri.

Sehingga akan menjadi beban anak cucu di daerah di kemudian hari. Ide pembangunan tanggul laut itu pun dinilai lahir dari proses yang cacat karena tidak melibatkan partisipasi warga.

"Mengembangkan ekosistem mangrove, jauh lebih ekologis dan lebih ekonomis dibanding membangun beton tanggul," tegas Neni.

Neni meminta agar pihak yang diberikan wewenang dalam membangun kembali Kota Palu harus memerhatikan historis daerah.

Dalam kurun 91 tahun , Teluk Palu telah disapu tsunami sebanyak tiga kali.

Mulai sejak 1 Desember 1927, 23 Agustus 1938, dan 28 September 2018, dan kejadian seperti ini hanya terjadi di Kota Palu.

Sehingga, perlu menjadi bahan pertimbangan agar dampak dari kejadian serupa tidak bertanbah banyak.
"Mari berhimpun dan menolak rencana pembangunan tanggul laut yang akan dibangun di Teluk Palu," katanya mengajak warga Sulawesi Tengah, khususnya warga Kota Palu.

Hingga berita ini naik cetak petisi ini sudah mencapai 1.080 tandatangan dan terus bergerak menuju 1.500 tanda tangan.** 

Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN