JEMBATAN BAKAU "RENOVASI TIADA HENTI - INVESTASI SIA-SIA"

Refleksi Jelang 21 Tahun Penghargaan British Awards


Reportase: Ikhsan Madjido

JEMBATAN Bakau di Desa Lembanato Kecamatan Togean Kabupaten Tojo Unauna hampir tiap tahun dilakukan renovasi.

Selama 12 tahun sejak 2007 tidak kurang Rp5 milyar dana digelontorkan dan dicurahkan meronavasi boardwalk yang menjadi icon pariwisata Touna ini.

Tetapi sayangnya, outflow (pengeluaran) yang begitu besar selama 12 tahun tidak memberikan inflow sepeser pun bagi PAD, apalagi bagi pendapatan masyarakat.

“Tidak ada penghasilan yang diperoleh dari produk itu. Juga tidak ada apresiasi dari wisatawan dan tidak ada uang keluar dari kocek mereka. Tentu saja renovasi ini adalah investasi sia-sia dan mubazir,” ungkap dinamisator Jerat (Jaringan Ekowisata Rakyat) Sulteng, Rasyid Languha dalam siaran persnya, Minggu (26/5/2019).

Rasyid mengungkapkan renovasi pertama tahun 2007 dengan dana APBD senilai Rp175 Juta. Hebatnya tahun 2010 sebesar Rp800 Juta. Tahun 2019 ini lebih hebat lagi. Dianggarkan dengan total biaya lebih dari Rp1,3 Miliar yang dipecah dalam dua mata anggaran.

Dalam tulisannya bertajuk Refleksi Menjelang 21 Tahun Penghargaan British Awards, lebih jauh Rasyid Languha menyoal mengapa jembatan bakau itu direnovasi lagi dengan konstruksi beton dan akan dibiarkan diam membisu di tengah hutan bakau? Mengapa masyarakat desa tidak diberi akses mengelola? Mengapa kapasitas warga desa tidak ditingkatkan untuk regenerasi pengelolaan produk ini? Mengapa anggaran sebesar itu tidak dialokasikan untuk peningkatan kualitas pengelolaan yang berdampak ekonomi bagi rakyat kecil? Dan sederet pertanyaan lainnya.

Pariwisata Untuk Siapa?
Perlu diingatkan bahwa gagasan renovasi pertama kali dikonsultasikan oleh masyarakat dengan Dinas Pariwisata tahun 2006. Masyarakat Lembanato (WAKATAN) mengusulkan bantuan dana kecil sebesar Rp.10 Juta utk perbaikan beberapa bagian yg rusak sejak krisis kunjungan wisata antara tahun 2000-2004 sebagai dampak ikutan dari krisis Poso. Dinas Pariwisata menyetujui dan memasukkan dalam mata anggaran tahun 2007.

Alhasil, angka yg keluar adalah Rp175 Juta dan akhirnya membangkitkan geliat nafsu para kontraktor serta para pemburu rente proyek (rent seeker). "Proyek berdaging", kata mereka. Uniknya, kontraktor pemenang tender ikut mengklaim bahwa produk itu adalah hasil kerjanya dan berhak untuk mengelolanya.

Sekedar mengingatkan kembali bahwa jembatan bakau ini dibangun dari prakarsa murni masyarakat desa Lembanato. Baik asal usul gagasannya hingga pelaksanaan pembangunannya adalah swadaya mereka sendiri. Pertama kali dikerjakan pada tahun 1995 oleh kelompok masyarakat yg menamakan dirinya sebagai kelompok WAKATAN (hutan bakau dalam bahasa Bobongko).

Secara bertahap dan susah payah selama 2 tahun, kelompok Wakatan membangun gagasan-gagasan mereka. Selesai dibangun dan mulai dipromosi pada bulan Juni 1997 dengan swadaya masyarakat 90 persen. Total menghabiskan biaya Rp11 Juta.

Biaya tersebut meliputi pembangunan fisik Rp9,5 juta, serta Rp1,5 juta untuk materi promosi dan interpretasi produk dari sumbangan individu pemerhati (guide book treck, signboard dan leaflet).

Dampaknya sebelum terjadi krisis Poso, antara tahun 1997 - 1999 tercatat kebih dari 400 wisatawan berkunjung. Alhamdulillah, lebih dari sekedar kunjungan wisata, pada tahun 1998 setelah 1 tahun beroperasi kegiatan wisata hutan bakau, kelompok Wakatan mendapat penghargaan dari perusahaan penerbangan Inggris, British Airways.

Perusahaan ini adalah sponsor utama yg mendanai program penganugrahan "British Awards" berdasarkan rekomendasi dari World Tourism Organisation (WTO) dan badan-badan pariwisata dunia lainnya.

Seorang warga desa Lembanato mewakili Kelompok Wakatan melalui kerjasama dengan Jaringan Ekowisata Togean (Togean Ecotourism Network) menerima penghargaan langsung di London, Inggris pada bulan Oktober 1998. Penghargaan tersebut mengusung thema "Tourism for Tomorrow" dalam kategory "Higly Commended Pacific".

Tentu, plakat penghargaan yang diterima tidaklah cukup berarti. Namun, kemandirian dan keswadayaan rakyat ini memberikan reward dan kontribusi yg sangat besar bagi promosi dan perkembangan wisata di Kepulaun Togean.

Dari penghargaan ini, Kepulauan Togean mendapatkan kesempatan promosi gratis selama 1 tahun dalam penerbangan internasional dan domestik dari perusahaan penerbangan Inggris, British Airways.

Apakah promosi gratis seperti ini bisa diperoleh lagi dengan jembatan bakau yang dibangun Pemda dengan anggaran miliaran rupiah?

Jika tidak, apakah anggaran daerah bisa dan cukup dialokasikan untuk mendanai promosi selama 1 tahun di perusahaan penerbangan Inggris?

Olehnya, jelas Rasyid, penting untuk diketahui bahwa jembatan bakau bukanlah sekedar bangunan fisik. Atau hanya sekedar komponen produk wisata. Ia adalah produk interaksi belajar. Sebuah apresiasi dari hasil interaksi berbagi pengalaman dan pengetahuan antara masyarakat desa dan wisatawan untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan serta upaya bersama melindungi ekosistim hutan bakau.

Penghargaan itu diberikan bukan karena bangunan fisik jembatan. Penghargaan diberikan atas keswadayaan dan kemandirian, serta pengetahuan dan kearifan budaya masyarakat lokal. Dari informasi yg disebarluaskan oleh wisatawan, kegiatan wisata berbasis komunitas ini akhirnya mendapat apresiasi dan dipublikasikan dalam berbagai jurnal internasional.

Kerja Kecil Berdampak Besar
Sekitar tahun 1999 Kaili Post pernah berkunjung ke Jembatan Bakau ini. Ketika memasuki jembatan bakau, warga dengan santun menyambut.

Anda pasti tidak percaya bertemu pemandu wisata yg berusia antara 50-60 tahun dengan pakaian sederhana sebagaimana layaknya orang- orang tua di desa.

Rasyid membenarkan bahwa warga yang bertugas mengajak kita untuk duduk di ruang briefing  memperkenalkan kode etik perjalanan ke hutan bakau.

Mereka juga mengatur pembagian kelompok jika rombongan lebih dari 6 orang. Dan mereka meminjamkan buku panduan perjalanan di hutan bakau yg telah disediakan dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Mereka akan menemani untuk belajar mengenai ekosistim hutan bakau menurut sistim pengetahuan dan kearifan lokal mereka.

Sebuah kerja kecil yang berdampak besar. Anggaran kecil dikerjakan secara swadaya oleh "rakyat kecil" di sebuah desa terpencil. Berdenyut dalam jantung pariwisata dunia. Menggetarkan dunia pariwisata internasional dan bermagnitud ke dalam kebijakan pembangunan pariwisata nasional.

Tiga tahun setelah penghargaan British Award, pemerintah Indonesia dan negara-negara peserta KTT UNWTO (United Nation World Tourism Organisation), di Montreal, Canada; tahun 2001 merekomendasikan Kepulauan Togean sebagai salah satu destinasi ekowisata unggulan dunia berdasarkan "best practice" pengelolaan hutan bakau berbasis komunitas di desa Lembanato.**


Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN