Jepang Bantu Rp 600M Bangun Tanggul Tsunami


Reporter: Firmansyah Lawawi

TOTAL Dana bantuan dari pihak Japan International Corporate Agency (JICA)  guna pembangunan tanggul penahan Tsunami untuk Kota Palu sebesar Rp600 M.

Hal itu diungkapkan Kabid data dan informasi Bappeda Palu, Ibnu Munzir, Senin (27/5/2019) di ruanganya.

"Dalam penganggaran JICA, tertera total anggaran guna pembangunan tanggul penahan Tsunami di teluk Palu, sebanyak Rp600 Milyar. Hal itu juga tertera pada dokumen yang dikeluarkan Bapenas," jelasnya.

Namun menurutnya, estimasi anggarannya belum terhitung secara detail. Sebab biaya penganggaranya, berpengaruh kepada struktur atau model bangunanya sendiri."Hingga saat ini belum ada perubahan total anggaran di dokumen tersebut," kata Ibnu Munzir.

Menjawab polemik progres antara pembangunan tanggul penahan Tsunami atau penanaman mangrove di sepanjang Teluk Palu, Ibnu menjelaskan setelah dialog Libu Ntodea beberapa hari lalu, masih menimbang mana yang terbaik.

"Dalam hal ini, bukan mencari mana yang terbaik maupun tidak. Tapi sudah masuk dalam tahap mencari kolaborasi mana yang sesuai di terapkan. Namun juga perlu adanya kombinasi antara kedua pola tersebut, " jelasnya.

Ditambahkanya, dari hasil dialog antara Pemkot Palu bersama para pakar, diketahui bahwa di Teluk Palu bisa ditanami Mangrove. Namun tidak semua wilayah dapat ditanami pohon tersebut. "Terdapat wilayah-wilayah tertentu di Teluk Pau yang dapat ditanami pohon mangrove atau bakau, " sebutnya.

Tentu saja beberapa spot atau wilayah yang dapat ditanami Mangrove tersebut kata Ibnu, perlu dilakukan pengkajian lagi.

"Namun dari dialog itu juga, sudah mengerucut kepada save people atau penyelamatan masyarakat kota Palu. Dari hal tersebut juga terdapat tiga alternativ. Yaitu melalui pendekatan konsevasi, dalam hal ini penanaman pohon Mangrove, pola tehnik sipil dalam pembangunan tanggul penahan Tsunami dan menggunakan sistim batu alam. Itu tiga hal yang berkembang di dialog kemarin," katanya.

Berangkat dari hal tersebut cetus Ibnu, tentunya akan dilakukan pengkajian maupun penilaian mana yang sesuia diterapkan. "Dalam hal ini, titik poinnya adalah mengutamakan tingkat keselamatan masyarakat kota Palu. Pada akhirnya yang menikmatinya adal anak cucu kita semua.  Namun yang pasti dua pola akan diterapkan. Yaitu pendekatan konservasi atau penanaman Mangrove di depanya dan tehnik sipil atau pembangunan tanggul penahan Tsunami," akunya.

Rencananya juga, lanjut Ibnu Munzir, struktur kontruksi tanggul penahan Tsunami tersebut dapat dilalui kendaraan roda empat. Namun kendaraan tidak boleh berhenti, atau menggunakan pola jalan bebas hambatan.

Selain itu sistim bangunan tanggulnya bertingkat. " Selain dapat dilalui kendaraan roda empat. Di tempat itu juga dibuat spot rekreasi bagi masyarakat dan stand UMKM," bebernya.

Progres dari pembangunanya masih dilakukan kajian atau revisi  rencana tata ruang dan wilayah. "Pastinya dilakukan terlebih dahulu revisi RT/RW. Karena hal itu berpengaruh pada perubahan pola struktur tata ruangnya," paparnya.**

Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN