Pesimis Harga Tiket Turun


Reportase: Yohanes Clemens

PERTUMBUHAN Ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) pada triwulan I-2019 bertumbuh sebesar 6,77 persen. Namun pertumbuhan ini mengalami pertumbuhan negatif (kontraksi) 0,99 persen bila dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q).

Sementara inflasi Sulteng akhir triwulan satu 2019 diperkirakan berada pada kisaran 3,2 persen sampai 3,6 persen. Angka tersebut tergolong tinggi sebab mengendalikan inflasi pasca bencana tidaklah mudah. Penyebab inflasi yakni harga tiket pesawat dan pangan yang naik sangat tinggi pasca bencana.

Pemerintah pusat memutuskan akan menurunkan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat 12%-16% pada 15 Mei 2019. Hal ini diharapkan agar harga tiket pesawat bisa segera turun.

Namun demikian, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pesimistis intervensi pemerintah tersebut akan mampu menurunkan harga tiket pesawat. "Persentase penurunan TBA tidak otomatis akan menurunkan harga tiket pesawat. Itu hanya di atas kertas saja,” ujar Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi dalam siaran pers, Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Pasalnya, semua maskapai telah menerapkan tarif tinggi, rata-rata di atas 100% dari tarif batas bawah. Sehingga, turunnya TBA tidak akan mampu menggerus tingginya harga tiket pesawat dan tidak akan mampu mengembalikan fenomena tiket pesawat murah.

Seharusnya, kata Tulus, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan pendukung, yakni dengan menurunkan PPN tarif pesawat yang saat ini sebesar 10%. Dengan demikian pemerintah bersikap adil dan bukan hanya menekan maskapai. Di sisi lain pemerintah tidak mau potensi pendapatan dari PPN tersebut berkurang.

Terpisah, pengamat ekonomi Universitas Tadulako, Muhtar Lutfi menilai salah satu faktor yang berperan besar dalam melambatnya pertumbuhan ekonomi adalah adanya kenaikan harga tiket pesawat.

“Dari sisi negatif, harga tiket pesawat yang mahal akan menyebabkan turunnya penumpang pengguna angkutan udara, berimbas pada sektor pariwisata, tingkat hunian hotel menurun,” kata Dekan Fekon Untad ini, Selasa (14/5/2019).

Hal ini juga, kata Muhtar, berimbas pada bisnis online yg menggunakan jasa kargo dalam pengiriman barang serta efek domino lainnya.

“Positifnya, banyak calon penumpang mengalihkan rencana perjalanan mereka khususnya untuk jarak dekat pada angkutan darat seperti bis, kereta api serta angkutan laut khususnya kapal kapal PELNI. Jika menakar antara dampak kenaikan harga tiket mana yang lebih besar maka sisi negatif nya jauh lebih besar daripada sisi positifnya,” tukasnya.**


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN