Syukuri Puasa Dalam Tenda Pengungsian


Reporter: Firmansyah Lawawi

AZAN Maghrib berkumandang di shelter pengungsian warga Balaroa, Minggu (12/5/2019). Lantunan teduhnya menggema, membelah senja, menerobos sekitar masjid darurat. Ust Ithank (45) terkesiap, ditutupnya kitab yang dibaca sejak sore.

Sembari membenarkan tempat duduk, ia memanggil santrinya dan guru ngaji untuk bergabung.

Hidangan telah tersaji di tengah karpet. Usai membaca do’a kelompok pengajian menyantap menu buka puasa yang sederhana di masjid darurat.

Genap lima bulan lamanya ust Ithank dan ust Roy di bawah bimbingan Habib Idrus mengajarkan anak-anak korban likuifaksi mengaji.

Taman pengajian itu berada di pengungsian Balaroa.

“Saya sering duduk dengan mereka yang tinggal di pengungsian, mereka sudah 7 bulan tinggal di tenda. Tenda sudah ada yang bocor, mereka tambal,” kata Ithank.

Masjid darurat yang digunakan sebagai taman pengajian, ceritanya, kalau hujan air masuk membasahi karpet karena sengnya pendek.

“Palu panas suhunya, sedangkan kita dalam rumah saja panas, bagaimana mereka yang di tenda. Bagaimana mereka ketika musim musim hujan,” tambahnya.

Salah seorang penghuni shelter, Suhayati (41 tahun) mengaku meski suhu dalam tenda pengungsian sangat panas, tapi dia beserta suaminya tetap menjalankan puasa dengan khusyu dan penuh rasa syukur.

"Beginilah nasib kami yang berada di tenda pengungsian. Mau tidak mau dijalani dan disyukuri semuanya. Meski hawa  panas matahari di siang hari masuk ke dalam tenda, kami tetap menjalankan puasa. Karena hal itu merupakan kewajiban bagi kita semua," ungkapnya.

Dikatakanya sudah tujuh bulan berselang setelah Likuefaksi menelan rumah serta harta benda miliknya di jalan Puring kompleks Perumnas Balaroa. Dia bersama keluarganya tinggal di shelter tersebut.
"Suamiku terkena stroke beberapa bulan lalu. Alhamdulilah dengan penuh ketabahan, dia tetap menjalankan puasa, meski dengan keterbatasan fisik yang dialaminya,”

Sehari-harinya para pengungsi memasak untuk santap berbuka dan sahur di dapur masing-masing.

Menyangkut  suplai air bersih ke shelter, Suhayati mengungkapkan bahwa hingga saat ini, penyaluran air pada bulan Ramadhan intensif tiap dua hari sekali masuk ke tempat mereka.

Sebelumnya stok air bersih masih sangat terbatas, kata Suhayati. Meskipun pihak koordinator shelter telah mengupayakan membuka area baru dengan pemasangan pipa dari sumber mata air yang berada di luar wilayah kota Palu, atau di area Kabupaten Sigi, namun terkadang belum memenuhi kebutuhan penyintas di shelter tersebut.

Yuni (30 tahun) warga eks jalan Sakura kompleks  Perumnas Balaroa yang bukan hanya rumah dan harta bendanya hilang, namun beberapa anggota keluarganya hilang ditelan Likuefaksi, mengatakan telah terbiasa dengan hawa panas di dalam tenda pengungsian.

"Kalau tidak percaya, silahkan masuk dan bertahan lima menit saja di dalam tenda. Komiu rasakan sendiri bagaimana panasnya di dalam, " tuturnya sambil tersenyum.

Namun semua itu  tidak menghalangi niatnya dalam melaksanakan puasa. Terkadang sesama penghuni shelter, beber Yuni, saling menguatkan satu sama lainya. Sehingga suasana panas yang mereka rasakan bebannya  sedikitnya berkurang.

"Kami terkadang saling menguatkan dengan penghuni shelter. Jika matahari sangat panas, ada-ada saja cara untuk mengakalinya. Biasanya kami saling meneriaki, baku gara, bacerita yang lucu-lucu, setelah itu ketawa rame-rame," akunya.

Terkait bantuan logistik di pengungsian, Yuni mengatakan bahwa sudah beberapa bulan berselang, belum ada bantuan yang masuk ke tempat mereka. "Biasanya bantuan yang datang dari pihak swasta saja. Itupun tidak kontinyu," akunya.

Di tempat berbeda, namun masih dalam area shelter Balaroa, Nilham (44 tahun) warga eks jalan Seruni Perumnas mengakui meski hidup dalam tenda yang hawanya panas. Namun dirinya tetap menjalani puasa bersama keluarganya.

"Hidup ini harus dijalani le. Walaupun rumah dan harta saya terkubur saat Likuifaksi, bukan menjadi satu halangan untuk bangkit. Tetap berusaha walaupun dengan penghasilan seadanya saja. Meski disyukuri karena Allah masih memberikan keselamatan pada saat bencana," katanya.

Dia juga menepis asumsi pemerintah bahwa warga perumnas Balaroa ekstrim dan tidak bisa diatur.

Menurutnya, mereka bukannya tidak mau di relokasi serta menolak pembangunan Huntara. Hal itu disebabkan adanya ketrlambatan dari pemerintah terkait realisasi Hunian Tetap bagi mereka.

"Kami hanya sesalkan, mengapa warga Balaroa yang seharusnya menjadi skala prioritas pembangunan Huntara maupun Huntap tidak diutamakan. Malah pembangunanya dilaksanakan di wilayah yang tidak terlalu parah terdampak bencana alam. Kami juga mengerti dengan keterbatasan anggaran pemerintah daerah dalam pembebasan lahan. Tapi seharusnya kami yang diprioritaskan," tandasnya.

Olehnya dia berharap kepada pemerintah agar memperhatikan nasib mereka yang ada di shelter pengungsian. Utamanya realisasi pembangunan hunian tetap serta jaminan hidup.

Hingga saat ini, lanjut Nilham, warga penghuni shelter masih menantikan bantuan yang masuk ke tempat mereka. Dikatakannya, bantuan logistik hanya didonasikan oleh pihak swasta maupun lembaga kemanusian. Untuk bantuan dari pemerintah, belum ada lagi masuk hingga saat ini," paparnya.


Wali Kota Palu Hidayat menjelaskan masih banyaknya pengungsi tinggal di selter disebabkan fasilitas umum dan vital di hunian sementara (huntara) baik yang dibangun oleh Non-Government Organization (NGO) maupun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) belum terpasang dan tersedia.

Selain itu masih adanya pengungsi yang tinggal di selter atau tenda pengungsian, lanjutnya juga disebabkan belum siapnya lahan yang akan dimanfaatkan sebagai kawasan pembangunan huntara.**


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN