Ashar : Jembatan Putus Dibayar, Kenapa Rumah Korban Tak Bisa Dibangun

Politisi PDIP Sulteng, Ashar Yahya (Foto: Fb)

Reportase : ramdan otoluwa 

BENCANA Sudah berlalu sembilan bulan di Padagimo (Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong) sejak 28 September 2018 lalu.

Sejumlah tanggap darurat praktis semua terlibat. Sayang, ketika pada tahap rehabilitasi, rekonstruksi dan pemenuhan Hak Hak korban dan pengungsi belum sepenuhnya mencapai maksimal.

Olehnya, Pilkada 2020 dapat dijadikan bagian introspeksi diri bagi pemimpin daerah yang akan berlaga lagi. 

Demikian dikatakan politisi dari PDIP Sulteng, Ashar Yahya SE kepada kailipost Kamis lalu. Menurutnya, pemimpin yang saat ini masih memiliki tanggung jawab dipertanyakan komitmennya. Salah satunya soal korban bencana yang masih tinggal di tenda tenda dan Huntara dan yang sedang menunggu Huntap.

Menurutnya, ia menawarkan gagasan agar setiap korban segera dibangunkan rumah permanen dengan kualifikasi sederhana. Caranya sangat mudah, cukup agunkan APBD ke bank.

‘’Saya sudah hitung selama lima tahun diagunkan tiap tahun membayar pokok dan bunga selesai. Tidak mengganggu pos lain,’’ ujarnya tegas.

Sukses dan tidaknya pemimpin karena komitmen dan keberanian. ‘’Kalau berani dan komitmen tidak makan fee proyek pasti bisa dilakukan. Saya menawarkan gagasan ini,’’ terang Caleg DPRD Sulteng Dapil Palu yang belum bernasib lolos ini.

Sembilan bulan hidup terlunta lunta di tenda, tanpa ada kejelasan tinggal nyaman di sebuah rumah layak huni adalah tanggung jawab pemimpin.

"Mengapa bayar jembatan yang sudah rusak bisa? Bangun Mall lagi bisa? Kenapa bangun rumah korban bencana tidak bisa? Dimana masalahnya?,’’ tandas Ashar lagi.**
Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN