Di Shelter Pengungsi Ada Satpol PP



Reporter: Firmansyah Lawawi

GUNA MENJAGA Keamanan dan ketertiban masyatakat penyintas, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Palu telah menempatkan tujuh personilnya di beberapa lokasi shelter pengungsian kota Palu pasca bencana 28 September. Demikian Kasat Pol PP Palu, Nathan Pagasongan kepada sejumlah wartawan di ruanganya (12/7/2019).

‘’Pasca bencana alam 28 September, kami telah menempatkan tujuh personil anggota Satpol PP di beberapa lokasi pengungsian. Bertujuan  menjaga keamanan masyarakat korban bencana alam, " paparnya.

Penempatan tujuh personil Satpol PP tersebut kata Nathan, merupakan permintaan dari anggotanya sendiri. ‘’Mereka yang meminta penempatan tersebut. Karena ketujuh personil tersebut, merupakan warga dari lokasi kelurahan yang mereka jaga,’’ jelasnya.

Tiga lokasi tersebut diantaranya berada di shelter pengungsian Kelurahan Balaroa dua orang. Kelurahan Petobo 2 orang dan di Lapangan Koni, Kelurahan Tatura Utara kota Palu tiga orang.

Dibeberkannya, jumlah personil Satpol PP yang meninggal pada saat bencana alam 28 September silam, berjumlah 16 orang. ‘’Lima belas orang tewas saat Tsunami, satu orang akibat Likuefaksi di Kelurahan Petobo. Tujuh yang tidak ditemukan jasadnya. Karena pada saat gempa bumi, 250 personil kami ditempatkan di lokasi Teluk Palu. Dalam rangka pengamanan Festifal Palu Nomoni (FPPN)  dan HUT kota Palu, "

Enam belas anggota Satpol PP yang meninggal saat bencana alam, tealh diberikan santunan duka kepada ahli waris korban dari  pihak BPJS. Bagi personil yang telah memiliki anak, senilai Rp126 juta perorang. Rp114 juta belum berkeluarga. ‘’Enam belas orang personil kami yang meninggal pada saat gempa bumi, Likuefaksi dan Tsunami merupakan PHL atau masih berstatus Honorer. Mereka juga telah diberikan santunan duka dari BPJS, "paparnya.

Jumlah kerugian kendaraan opersional dari  Satpol PP Palu akibat Tsunami lanjut Nathan meliputi, lima unit sepeda motor mengalami rusak berat. Dua unit hilang. Kemudian tiga unit opersional rusak berat. "Kendaraan operasional tersebut telah dilelang beberapa waktu lalu. Karena  mengalami rusak berat tersebut, sehingga tidak dapat dipergunakan lagi, " sebutnya.

Menjawab pertanyaan terkait aksi dari Satpol PP saat bencana alam 28 September silam, Nathan mengaku telah menjalankan kewajibanya sebagai abdi Negara. Diantaranya adalah melakukan evakuasi jenazah korban Tsunami di anjungan Teluk Palu. Membantu penguburan massal jenazah di pekuburan Poboya. Pengamanan logustik di posko bencana di Rujab Wakil Walikota Palu. Penanganan korban bencana, di Kelurahan Pengawu dan Palupi.

Melakukan pengawalan dan penjemputan bantuan logistik dari luar daerah di pelabuhan Taipa, Pantoloan, Kabonga dan Bandara Mutiara Sus Aljufrie. Penyaluran bantuan logistik dari posko bencana ke lokasi pengungsian kota Palu. Menyerahkan bantuan logistik dari Pemkot Jambi kepada anggota Satpol PP Palu yang meninggal dunia, luka berat dan ringan sebanyak 100 personil. Santunan duka dari civitas IPDN kepada personel korban bencana alam serta tiga Sinode gereja (GPID, GT, GKST). Membantu mendirikan tenda di Shelter Kelurahan Besusu Tengah dan Pantoloan. Melaksanakan kerja bhakti pada lokasi pantai Talise, Mesjid Agung dan Kelurahan Petobo.**

Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN