FAO Komit Kawal Bencana Pasigala

Kepala Perwakilan FAO Indonesia, Stephen Rudgard memberikan secara simbolis bantuan korban bencana gempa Pasigala (2/7/2019)

Reporter: Ikhsan Madjido

BADAN Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau Food and Agriculture Organization (FAO) berkomitmen untuk membantu korban gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di wilayah Pasigala Provinsi Sulawesi Tengah.

Kepala Perwakilan FAO Indonesia, Stephen Rudgard menegaskan bahwa maksimal sampai bulan Oktober 2019, FAO akan menyalurkan dan mengawal bantuan pertanian dan perikanan kepada petani di Pasigala.

“Kami ingin lebih lama di Sulteng. Dan kami sudah mempersiapkan dan menunggu implementasi proposal dari para donatur,” kata Stephen Rudgard saat distribusi bantuan yang diadakan di Sigi, Selasa (2/7/2019).

Ia memastikan penerima bantuan di daerah yang terdampak bencana dapat hidup kembali normal.

“Adalah bagian dari mandat kami untuk memulihkan produksi pangan dan membangun kembali mata pencaharian petani dan nelayan di Palu, Sigi dan Donggala,” jelasnya.

Tidak tanggung-tanggung, nilai bantuan yang diberikan dalam acara pendistribusian kepada keluarga petani dan nelayan korban bencana Pasigala di Kabupaten Sigi mencapai USD 1 juta Dollar atau sekitar Rp14 miliar.

Ia menerangkan bantuan di sektor pertanian yang disalurkan berupa 430 ton pupuk, tujuh ton lebih benih jagung, tomat dan cabai rawit dan lebih 500 ribu meter mulsa plastik yang diberikan kepada 8.000 petani di Pasigala.

Sementara di sektor kelautan dan perikanan lanjutnya, bulan ini FAO akan memberikan peralatan memancing termasuk jaring dan kotak pendingin kepada sekitar 3.000 keluarga nelayan.

"Program FAO untuk memulihkan ketahanan pangan di Palu, Sigi dan Donggala yang bernilai USD 1 juta Dollar adalah bagian dari program yang oleh dana tanggap darurat PBB (CERF) untuk membantu pemerintah,"ujarnya.

Ia berharap bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para penerima bantuan sehingga berdampak terhadap pemulihan perekonomian para petani dan nelayan dan tidak diperjual belikan.

"Program FAO dirancang untuk memulihkan produksi pangan dan meningkatkan mata pencaharian rumah tangga dan masyarakat rentan yang bergantung pada sektor pertanian dan perikanan kelautan. Seleksi rumah tangga diselesaikan melalui kerja sama yang erat dengan pemerintah daerah dan pemerintah desa," katanya.

Bulan Juni lalu, kata Stephen, FAO juga telah mendistribusikan bantuan tunai kepada sekitar 4000 rumah tangga di 175 desa di 22 kecamatan pada ibu dari keluarga petani dan nelayan yang sedang hamil, menyusui dan yang mempunyai anak di bawah 5 tahun.

Keluarga petani dan nelayan korban bencana sangat bersyukur dapat menerima bantuan yang diberikan. Anita (36) ibu dari dua putra, istri seorang petani di desa Kotapulu, Sigi untuk menambah penghasilan sehari-hari menjual brownis dan jeli. Saat gempa, rumah Anita yang baru dibangun rusak parah, termasuk dapur tempat ia menghasilkan hidangan lezat yang dijualnya. Untungnya, dia dan keluarga selamat.

“Sehari setelah gempa, hal pertama yang diselamatkan suami saya dari puing-puing rumah adalah kompor dan oven, bersama peralatan dapur lainnya. Dia tahu bahwa ini penting bagi saya, dan untuk keluarga kami,” katanya.

Bersama suaminya ia membangun rumah sementara di belakang yang rusak, termasuk dapur.

Setelah Anita menerima bantuan uang tunai dari FAO, ia kembali memulai bisnis kecilnya. Dia menggunakan sebagian uang tunai untuk membeli makanan bergizi untuk keluarganya. Sisanya ia membeli bahan masak untuk membuat brownis dan agar-agar.

“Saya menggunakan bantuan uang tunai untuk memulai kembali bisnis kecil saya. Saya mendapatkan uang sekitar Rp30 ribu per hari. Ini menambah pendapatan keluarga kami, terutama untuk memberi makan anak-anak,” katanya.**


Share on Google Plus

0 komentar:

Post a Comment

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN