INI PERNYATAAN PENYINTAS YANG DIKELUARKAN DARI HUNTARA ASAM III



Reporter: Firmansyah Lawawi

Rencananya, pemerintah kota Palu akan mengeluarkan 19 penguni Hunian Sementara yang berada di Jalan Asam III. Selasa (23/7/2019) Kaili Post melakukan investigasi kepada mereka.

Ratna (40 tahun) salah seorang penghuni Huntara jalan Asam III yang dikeluarkan menjelaskan bahwa relokasi kesembilan belas warga atas arahan dari Pemkot Palu. Dalam hal ini Camat Palu Barat, Kapau Bauwo.

"Beberapa bulan lalu, pak Camat dengan pengeras suara datang ke tempat pengungsian Shelter Mesjid Agung, sambil membacakan 19 nama-nama yang berhak tinggal di Huntara jalan Asam III. Dikatakannya, jika dalam dua hari ini kami tidak pindah ke Huntara, orang lain yang akan mengisinya, " ungkapnya.

Ditegaskannya, mereka diarahkan untuk membuat surat dari Lurah Lere. Kemudian dilanjutkan ke pihak Kelurahan Kabonena. Sebagai rekomondasi untuk menempati Hunian Sementara jalan Asam III.

Setelah mendapatkan surat rekomondasi, Diana menuturkan pihak Kelurahan Kabonena mengizinkan mereka tinggal di Huntara. " Pihak Kelurahan Kabonena mengatakan agar kami tinggal di Huntara. Mereka memberitahukan bila Huntara digembok, rusak saja dulu. Nanti diganti. Serta cari Huntara yang belum ada label nama di pintunya. Selain itu mereka mengatakan bahwa kami sudah sah tinggal di Huntara itu, " jelasnya.

Dirinya menyesalkan Camat Palu Barat mengingkari permyataanya sendiri. Dimana sebelumnya dia yang mengarahkan mereka ke Huntara jalan Asam III.

"Mengapa Camat Palu Barat tidak mengakui pernyataan pada waktu itu? Dimana hati nurani pemerintah kepada kami. Sembilan bulan kami hanya tinggal di tenda pengungsian. Panas dingin kami yang rasakan, " paparnya.

Dikatakannya, Wakil Walikota Palu pernah datang ketempat mereka. Dia mengatakan bahwa pemerintah kota Palu tidak pandang bulu terkait relokasi penyintas bencana. Semuanya tidak dibedakan antara satu dan lainnya. Meskipun dulunya hanya tinggal di kost maupun rumah kontrakan. Semua memiliki hak yang sama, sebagai warga kota Palu.

Sebelumnya, wanita paruh baya tersebut membeberkan dirinya tinggal di Rusunawa Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat. Setelah bencana alam menghancurkan kediamannya, dia beserta penyintas lainnya tinggal di tenda Shelter pengungsian Mesjid Agung Palu.

" Selama kurang lebih sembilan bulan kami tinggal di dalam tenda Shelter Mesjid Agung. Baru sekitar dua bulan lebih kami menempati Huntara ini. Setelah itu pemerintah ingin mengeluarlan kami. Kemana lagi kami harus tinggal, " tandasnya.

Di tempat terpisah, Camat Palu Barat, Kapau Bauwo dihubungi Media ini melalui telepon gengamnya menjelaskan bahwa penyintas yang akan dikeluarkan tersebut masih diberikan waktu dua hari utuk menempati Huntara.

" Kami masih memberikan tenggang waktu dua hari untuk tinggal Huntara. Sambil mencari jalan terbaik bagi polemik tersebut, " katanya.

Menurutnya, Pemkot Palu tetap memperhatikan nasib para penyintas. "Rencananya, di Shelter Mesjid Agung ada beberapa warga yang enggan direlokasi ke Huntara. Karena mata pencaharian mereka jauh dari lokasi Huntara. Olehnya kami akan mengupayakan kuota bilik Huntara kepada sembilan belas orang tersebut. Utamanya kepada ibu hamil dan Lansia, " sebutnya.

Menjawab pertanyaan terkait pengalihan 19 penyintas yang diarahkan ke Huntara oleh Camat Palu Barat, Kapau Bauwo menepis hal tersebut. "Relokasi mereka ke Huntara bukan kami yang mengarahkanya le, " akunya. ***

Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN