Juni Diperbaiki, Juli Patah Antrian Panjang Terjadi Lagi


JALUR TRANS SULAWESI 



Reportase/morowali: Bambang sumantri

JEMBATAN Belly di Desa Dampala Kecamatan Bahodopi yang dibangun sebagai jalur alternatif untuk menyebrangi Sungai Dampala kembali patah. Jembatan Belly menghubungkan trans Sulawesi. Akibatnya antrian panjang mobil kembali terjadi. Padahal, jembatan itu baru saja dibangun, Juni 2019 lalu pasca putus diterjang banjir bandang.

Rusaknya kembali Jembatan Belly diduga karena lemahnya pengawasan penggunaan jembatan. Diduga truk truk dengan kapasitas besar, seperti truk ekspedisi dan lainnya yang tidak diatur penggunaannya. Tony, salah seorang pengguna jalan di Trans Sulawesi di lokasi mengatakan, pihak terkait tidak mengawasi kendaraan yang melewati jembatan tersebut. Akibatnya, jembatan Belly patah dan menimbulkan kemacetan.

‘’Jembatan seperti ini harusnya dibatasi muatan dengan berat 8 ton, namun pada kenyataannya truk ekspedisi yang melebihi kapasitas juga melewati jembatan ini, sehingga jembatannya anjlok dan membuat kendaraan lain harus mengantri lagi menunggu perbaikan" ungkapnya.

Ia berharap, pemerintah melakukan pengawasan dan membatasi muatan kendaraan yang melewati jembatan Belly tersebut sambil membangun jembatan utama yang akan dibangun di jalur Trans Sulawesi. "Pemerintah harus mengawasi jembatan ini, karena kalau tidak, jembatan ini akan rusak lagi dan jalur transportasi menuju Bahodopi hingga Kendari bisa lumpuh" tandasnya.

Pada saat jembatan Ipi putus tahun 2013 silam, untuk jalur trans juga dibangun jembatan Belly, namun tak pernah jebol karena diawasi oleh pihak Dinas Perhubungan dan Satpol PP sehingga kendaraan bermuatan berat tak boleh melintas. **

Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN