Historial Gempa di Sulawesi Tengah


Nemu Buku mengenang peristiwa Mapaga 51 tahun lalu (Foto:Nemu Buku)

Reportase: Ikhsan Madjido

Gempabumi adalah sistem peringatan dini itu sendiri. Early warning system yang harusnya menyatu dengan tubuh dan pikiran setiap kita, apa yang harus dilakukan saat bumi berguncang dan tidak terpaku dalam panik yang berkepanjangan dan apalagi harus menunggu laporan BMKG.

51 tahun lalu peristiwa Mapaga berlalu. Komunitas NEMU BUKU, pada Rabu, 14 Agustus hingga Kamis 15 Agustus 2019 akan mengenangnya kembali dan berharap bertemu warga di sana untuk berdiskusi dan membicarakan hal-hal sederhana terkait mitigasi atau upaya mengurangi risiko bencana gempabumi dan tsunami.

“Ini piknik sejarah. Kami membawa banyak buku dan akan kemah di pesisir pantai Mapaga. Membaca buku dengan anak- anak dan remaja di sana dari sore, membuat api unggun dan bakar ikan saat malam, dan doa bersama saat pagi menjelang, pagi yang 51 tahun lalu pernah begitu jahanam,” kata Neni Muhidin dari Komunitas Nemu Buku, Rabu (14/8/2019).

Baru tiga bulan, cerita Neni Muhidin, Muhammad Yassin dilantik menjadi gubernur kedua Sulawesi Tengah menggantikan Anwar bergelar Datuk Majo Basa Nan Kuniang, gempabumi dan disusul tsunami menghantam pesisir Mapaga di Teluk Tambu, Kamis pagi, 15 Agustus 1968. Dusun Mapaga yang permai itu adalah bagian dari Desa Labean, Kecamatan Balaesang, Pantai Barat Kabupaten Donggala.

“Sebuah foto arsip yang diolah kembali oleh Kukuh Ramadhan menampakkan Gubernur Yassin sedang berada di atas perahu saat meninjau lokasi kejadian,” ungkapnya.

BMKG-nya Amerika Serikat, USGS, merilis dalam bank data mereka, peristiwa itu terjadi pada Rabu, 14 Agustus 1968, pukul 22.14.23 waktu universal (UTC) yang bermakna terjadi pada tanggal 15 Agustus 1968, pukul 06.14.23 waktu setempat atau waktu Indonesia bagian tengah (WITA). Matahari belum menampakkan dirinya.

“Bermagnitudo 7.2 dan di kedalaman 20 km.” sebut Muhidin.

Catatan lain menyebut, gempabumi dan tsunami pada 15 Agustus 1968 adalah mainshock atau gempabumi utama karena empat hari sebelumnya, 10 Agustus 1968, terjadi gempabumi pendahuluan atau foreshock.

Persis seperti mainshock saat gempabumi 28 September 2018 yang diawali oleh gempabumi penanda seminggu sebelumnya dan tiga jam sebelum pukul 18.02 WITA.

Saat gempabumi yang memicu tsunami di Mapaga terjadi, air laut surut. Kisah itu terekam dalam banyak kesaksian saat warga malah turun ke laut dan bukan menjauhi pantai.

Peta rute ke Labean, pantai barat kabupaten Donggala (Foto: Nemu Buku)
Tsunami Mapaga yang berindikasi dipicu oleh gempabumi di zona subduksi (thrust) berbeda karakternya dengan tsunami di Teluk Palu setahun yang lalu. Tsunami yang dalam pelafalan di Mapaga di sebut Lembotalu itu, air laut surut jauh dan kembali dengan gelombangnya yang tinggi dan dengan panjang merendam daratan.

Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia (IATsI) Dr. Gegar Prasetya yang saat diskusi Nombaca di Nemu Buku (8/8) menyebutkan bahwa, yang mesti diperhitungkan dari bahaya tsunami adalah bukan tinggi gelombangnya tetapi panjang gelombang yang merendam. Energi tsunami selalu seperti gerbang kereta api, pak Gegar memberi ilustrasi untuk menjelaskan panjang gelombang tsunami.

Tsunami di Teluk Palu pada 28 September 2018 bersumber dari dalam teluk dan gelombang tsunami dipicu oleh longsoran tebing laut dalam teluk (submarine landslide) karena Sesar Palu Koro yang melintasi teluk.

Oleh pengetahuan dan pengalaman yang tidak begitu jauh dari peristiwa Mapaga itu, warga Balaesang, saat foreshock gempabumi 28 September 2018 pukul 15.00 WITA, sudah melakukan evakuasi mandiri ke ketinggian.

Sebaliknya di Palu, warga tidak menyadari gempabumi pendahuluan itu sebagai alarm akan ada mainshock di pukul 18.02 WITA.

Sementara, Ketua Pansus Pengawasan Bencana DPRD Provinsi Sulteng, mengapresiasi langkah Neni Muhidin dkk Aktivis Kebencanaan Sulteng.

Harus kita sadari, salah satu aspek lemah di kita adalah kultur literasi.

"Aspek ini memang baiknya kita genjot signifikan di APBD 2020 mendatang, demi memastikan bahwa seluruh rangkaian dan jejak-jejak kebencanaan di Daerah kita. Apa pentingnya? Adalah sebagai penguatan basis pengetahuan publik soal bencana, karena ke depan, pendekatan pembangunan kita tentu saja berbasis ramah bencana", lanjut Yahdi.**

Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar

close
 LAYANAN PEMASANGAN IKLAN